Makanan Mempengaruhi Prestasi

Di zaman sekarang ini, segala sesuatunya hampir bisa dikatakan mudah didapatkan. Salah satunya dalam hal kuliner alias makanan. Apalagi jika kita bicara Jakarta. Hampir semua makanan penjuru Indonesia, bahkan penjuru dunia bisa kita dapatkan di sini. Tinggal pilih kelasnya, mau yang kelas premium atau kelas kaki lima.

Nah, akses yang demikian mudah seperti ini boleh jadi membuat saya, atau Anda menjadi tanpa sadar ‘sembarangan’ dalam mengkonsumsi makanan. Tidak ada pola khusus yang Anda terapkan dalam mengasup makanan. Kalau pun Anda tidak ada waktu untuk wisata kuliner karena alasan sibuk, boleh jadi yang Anda lakukan adalah menjodohkan kesibukan Anda dengan menyantap makanan siap saji. Selain mudah didapat, gampang dikonsumsi, harganya juga bersahabat dengan kantong Anda.

Terkait dengan urusan makan profesional muda, ada sebuah penelitian yang menarik yang dilakukan di Amerika. Penelitian ini awalnya dilakukan pada dua kelompok tikus. Kelompok tikus yang pertama megasup makanan dengan jumlah yang umumnya dikonsumsi seekor tikus, lalu kelompok yang kedua, menjalani semacam diet yang membuat asupan makanan mereka lebih sedikit ketimbang kelompok yang pertama.

Hasilnya, kelompok kedua mengalami proses penuaan yang lebih lambat, dan usia mereka pun menjadi lebih panjang. Bahkan sebagian tikus di kelompok ini usia hidupnya mencapai dua kali lipat dibandingkan kelompok tikus yang pertama.

Hasil ini kemudian mendorong sejumlah orang di Amerika untuk mempraktikkannya. Bagaimana caranya? Mudah saja, yang mereka lakukan adalah dengan mengurangi asupan kalori yang dimakannya. Jika rata-rata asupan kalori orang Amerika per harinya adalah hampir 4.000 kalori, maka sekelompok orang ini hanya mengkonsumsi separuhnya.
Salah satu diantaranya adalah seorang pria bernama Brian Delaney. Ia bahkan hanya mengasup sekitar 1.700 kalori perharinya. Hasilnya, tubuh Brian mengalami proses penuaan yang lebih lambat dibanding rata-rata orang di usianya. Loh kok bisa? Ya, ternyata ketika seseorang mengatur pola makan dengan mengurangi asupan kalorinya, hal ini membuat kerja jantung menjadi lebih normal dan stabil, bahkan cenderung lebih lambat.

Gampangnya, jantung kita tidak akan ngos-ngosan gara-gara urusan makan. Hasilnya, masa produktif jantung kita akan bertambah sekitar 10 sampai 15 tahun. Wow, lumayan bukan? 10 sampai 15 tahun bukanlah waktu yang sebentar, yang boleh jadi membuat kita mencetak prestasi-prestasi yang lebih besar. Dan….walaupun Sang Pencipta-lah yang mengatur usia kita, tetapi bukankah tugas kita sebagai manusia untuk berusaha?
Jadi, jangan remehkan lagi pertanyaan mau makan apa Anda hari ini. Karena pertanyaan ini ternyata tidak kalah penting dengan pertanyaan prestasi apa yang akan Anda cetak hari ini.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @jamilazzaini

Bagikan:

3 thoughts on “Makanan Mempengaruhi Prestasi”

  1. Orang Jawa bilang:
    Weteng trisno jalaran soko Kuliner
    artinya: cintailah makanan anda..
    *eh

  2. waidi Akbar says:

    Bila manusia hidupnya terjebak urusan fisik (perut) sungguh nasibnya sama dengan tikus rakus. Yang fisik tidak langgeng, yang spirit yang langgeng. Bukan sekedar prestasi tetapi mengapa dan untuk apa kita berprestasi –mengabdi pada Sang Pencipta!

  3. jamil says:

    iku karangan asli Solo apa Yogya mas? he..he..he..

Leave a Reply

Your email address will not be published.