Locus Internal Control

Dinar ApriyantoJarak satu kilometer dari rumah saya beberapa waktu yang lalu dihebohkan dengan penemuan seorang bapak berusia sekitar 50 tahun yang tergeletak tak bernyawa dengan kain yang menjerat lehernya.

Perbincangan wargapun semakin meluas karena usut-punya usut mayat bunuh diri tadi merupakan salah satu tokoh masyarakat di kampung. Akhir kisah hidup seorang pengusaha yang tragis ditengah gemerlapnya harta yang beliau miliki. Naudzubillahimindzalik.

Apa yang salah? Jika memang bunuh diri itu konon dikait-kaitkan dengan hutang yang melilitnya, apakah itu jalan yang tepat untuk mengakhiri segalanya? Lantas jika memang harta menjadi masalahnya, kenapa karyawan pengusaha yang mati bunuh diri itu justru masih tetap bertahan hidup dengan tegar bak karang di laut…

Sayapun kemudian teringat pesan seorang Guru Expert saya Pak Jamil Azzaini. Dalam meeting fasilitator beberapa waktu yang lalu beliau menjelaskan tentang konsep diri yaitu Locus Internal Control dan Locus Eksternal Control.

Sebagai seorang fasilitator, kami diberikan tugas untuk membantu peserta Training menemukan potensi terbaik dalam dirinya dalam hal berbicara di depan public. Kamipun diberikan tantangan untuk mengantarkan kelompok menjadi kelompok terbaik dalam training tersebut. Bukan hal yang mudah untuk memberikan arahan, coaching dan mentor bagi enam hingga delapan orang yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Satu orang dengan orang lain hadir di ruangan training sudah membawa β€˜belief’ dari kehidupannya sepanjang umur masing-masing orang.

Locus Of Control adalah sebagai tingkat dimana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Menurut seorang pakar Rotter (1975) menyatakan bahwa internal dan eksternal mewakili dua ujung kontinum, bukan secara terpisah. Internal cenderung menyatakan bahwa sebuah peristiwa berada pada control mereka sendiri, sementara eksternal lebih cenderung menyalahkan factor luar yang mempengaruhi suatu kejadian yang menimpa mereka.

Dalam mendampingi peserta training-pun kami ditanamkan nilai oleh Pak Jamil Azzaini bahwa keberhasilan diri dan tim harus sering diingatkan bahwa Locus Internal Control harus diutamakan, sehingga setiap pribadi mampu mengoreksi dirinya ketika melakukan kesalahan. Locus Internal Control akan member kesempatan kepada pribadi untuk segera Move ON ketika dia mengalami permasalahan yang menyebabkan pribadinya merasakan ketidaknyaman diri.

Teringat dengan kisah bunuh diri pengusaha tadi, marilah kita bermuhasabah diri, seberapa jauh dalam hidup kita melakukan locus internal control, tidak menyalahkan orang lain, menyalahkan lingkungan. Tapi justru bertanya pada diri sendiri, apa kesalahan yang pernah diperbuat, sehingga ketika masalah datang, kegalauan kita tidak berkepanjangan, namun kegalauan kita justru akan terjawab dengan koreksi diri.

Dinar Apriyanto

Bagikan:

21 thoughts on “Locus Internal Control”

  1. Amazing…gak salah kalau mas Dinar menjadi leadernya para fasil di WBT12 kemarin.
    Nasehat kakek guru dijabarkan kembali secara apik dan lengkap.
    Alhamdulillah, belajar lagi…mengingat kembali akan makna locus internal control.

    Salam suksesmulia.

    1. makasih mas #pelukMas Andy….

  2. Subhanallah.. akhirnya berjumpa lagi dengan Mas Dinar..

    Gimana kabarnya Mas?

    1. Kabarnya?

      SUKSES MULIA…. mas senyum syukur πŸ˜‰

  3. kasman says:

    subhanallah, mari bermusahabah diri.

  4. Denni Candra says:

    Akhirnya … para fasil “turun gunung” untuk transfer ilmu melalui tulisan di web kek Jamil.
    Setelah mas brili dan mas dinar, siapa lagi nih …??? Kita tunggu transfer ilmunya yang lain dan pastinya gak kalah keren … πŸ™‚

    1. he..he…. turun gunung mas….Naik terus capek… πŸ™‚

    2. Yang lain sudah menulis di webnya masing-masing mas. Hehehehe. Web mereka tulisannya juga kerON-kerON

  5. Mas Dinar, pertengahan Maret berangkat ke Kalimantan ya. Segera hubungi mbak Weni

    1. Jazakalloh beh… #Sungkem buat babe

    1. Maturnuwun Princess…itu cuma nyomot ilmunya babe aja kok… πŸ™‚

  6. mantap bang tambahan ilmunya | sukrON | πŸ™‚

  7. Bahasan ini dipicu pada saat para fasil me-review kemajuan di masing-masing kelompoknya. Ini diadakan secara serius tapi santai di sebuah Rumah Makan.
    Penjelasan ini muncul pada saat saya menjelaskan progres kemajuan team yang saya fasilitasi, tujuan kami hanyalah ingin memberikan yang terbaik dari kami buat peserta WBT#12. Tapi kadang kami mengutamakan Locus external control.
    NAh inilah yang ingatkan kek JA, Locus Internal Control harus diutamakan, sehingga setiap pribadi mampu mengoreksi dirinya ketika melakukan kesalahan… lebih ke COACH dari pada MENTOR, sehingga peserta menemukan apa yang terbaik dari diri pesertanya juga.
    Makasih Mas DInar, juga kek JA dan selluruh Fasil.
    Spesially, buat para guru-guru saya yaitu peserta WBT yang kerON-kerON ilmunya buat saya….
    salam Bring IT ON, Show Up Your Move

    1. Mas Beni juga menjadi salah satu sumber Inspirasi saya selama WBT 12, ditungu launching bukunya mas

  8. wiwik says:

    KerON mas dinar…tidak bisa ditulis dgn kata kata, pokoknya kerON abis:)

    1. Makasih mbak Wiwik, tulisan mbak Wiwik juga kerON di TrainerLaris… Ayo smangat nulis terus mbak wiwik

  9. wira says:

    subhanallah, ternyata itu rahasia WBT

    pantes fasil total dan semangat ,atusias mereka menular kpd saya pribadi sbg peserta

    jazakalloh kairon kasiron kek jamil dan para fasil semuaa, teeutama fasil dian pelangi terima kasih byk

    smg berkah unyuk semuanya.

    Salam SuksesMulia

    1. mbak Wira, trimakasih banyak, smoga usaha kecil ini benar-benar bisa memberi bekas dalam di hati teman2 WBT 12 ya mbak…

Leave a Reply

Your email address will not be published.