Liburanpun Bisa Menjadi Guru

Apa kabar semua? Bagaimana liburan Anda? Saya berharap Anda dapat menikmati liburan Anda. Semoga juga bukan hanya menikmati tetapi mendapat banyak pelajaran selama liburan seperti yang saya Alami.

Ya, selama liburan kemarin saya mendapatkan banyak pelajaran. Namun disini, melalui tulisan ini, saya akan berbagi dua hal saja.

Pelajaran pertama: Kita akan diuji dengan sesuatu yang sering kita ucapkan.

Pada bulan puasa kemarin saat diundang untuk memberi pencerahan di berbagai perusahaan saya banyak bicara dengan tema “bersabar dan bersyukur”. Saat mudik, saya benar-benar mendapat ujian kesabaran. Dari keluar tol Jakarta-Merak sampai memasuki kapal feri menuju Lampung kami harus antri 15 jam padahal biasanya hanya ditempuh 10 menit.

Alhamdulillah kami dapat melalui 15 jam tersebut tanpa keluhan. Kami justru sangat menikmatinya. Selama macet kami mengisinya dengan beragam kegiatan mulai dari lomba nyanyi, tebak-tebakan, saling goda dan bercanda, saling bercerita pengalaman hingga berbagi ilmu via twitter. Bahkan ketika salah satu dari kami buang gas alias kentut dengan aroma yang sangat menyengat, kami meresponnya dengan berteriak-teriak suka cita di dalam mobil.

Walhasil, saya mensyukuri moment macet itu. Macet membuatku merasa semakin dekat dengan keluargaku.

Pelajaran kedua: Hidup ini singkat dan waktu berlalu begitu cepat.

Setiap lebaran keluarga besar kami punya kebiasaan mengadakan acara “curhat keluarga”. Curhat dilakukan setelah usai sholat Ied. Dalam acara itu, saya memberikan pengarahan dan penilaian kepada semua anggota keluarga. Setelah itu secara bergiliran mereka berbicara dan juga saling koreksi satu dengan yang lain.

Ketika giliran anak pertama saya (Dhira, 19 tahun) dan anak kedua saya (Asa, 17 tahun) curhat, saat itulah saya menyadari ternyata mereka sudah dewasa. Padahal saya merasa belum lama nyuapin mereka, bermain bersama mereka, berenang bersama mereka. Hati saya tergetar saat mereka dengan bijak menasehati adik-adiknya.

Getaran hati semakin menggelora ketika Dhira mengomentari tentang rencana pernikahan adiknya. “Sebenarnya aku masih ingin memiliki adikku. Aku masih ingin gelendotan (memeluk) adikku. Aku masih ingin adikku bermanja-manja sama aku. Aku masih ingin ledek-ledekan sama adikku,” katanya.

“Tetapi hidup khan berjalan dan bertumbuh. Hidup harus memilih dan juga menikah. Aku rela adikku menikah. Aku berharap kau bisa menjadi pemimpin bagi keluargamu. Aku ingin keluargamu langgeng. Adikku Asa, sebentar lagi kau menjadi suami, buang kebiasaan burukmu. Bimbing istrimu, siapkan mentalmu. Aku sayang banget sama kamu dan tak akan berkurang sedikitpun walau kau sudah menikah. Aku bangga punya adik seperti kamu.”

Ah! Ternyata anakku sudah tidak lagi anak-anak. Secara biologis mereka memang anakku, tetapi dalam kehidupan nyata mereka adalah sahabatku. I love u all….

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

14 thoughts on “Liburanpun Bisa Menjadi Guru”

  1. banna says:

    luarr biasa, paling suka nasehat dhira ke asa, wah saya juga diuji kesabaran pak, biasanya pemalang-jakarta 8jam, semalam ditempuh 20 jam.
    Masya Alloh

  2. Wieds says:

    Alhamdulillah.
    Sarapan pagi sudah tersedia lagi,setelah sekian hari tak pernah ada.
    Selamat Idul Fitri 1432h,mohon maaf lahir dan batin.
    Salam sukses mulia.

  3. Anggit Setyaningsih says:

    Dhiraaa..kagum aku sm dia.. Legowo bgt 🙂

  4. mustika yanti says:

    2 pelajaran yg sgt mengena di hati ku
    KHusus pljrn ke-2, krn hidup ini singkat & waktu blalu begitu cepat, smoga hari2 bisa diisi dg hal-hal baik yg bermanfaat, tidak cuma u diri sndiri tetapi jg u org lain.

  5. Awal Hasan says:

    Siap menikmati sarapan rohani dari Bapak setiap pagi. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin….

  6. nenny says:

    yg komen masih dikit
    apa karena masih pada cuti?
    mohon maaf lahir bathin ya kek

  7. A.Wijaya says:

    Benar skali PAk Jamil.jika kita berpikir mendalam,liburn pun akan mjd guru yg berharga.
    beberapa hari yg lalu kawan lama sy datang.dia bercerita klo salah satu temen kami sdh meninggal dlm usia yg msh muda 26 th.ak jd teringat sahabtku yg juga meninggal dlm usia yg sgt muda 21 th.padahal tdk sakit sama sekali.malam sepulang ngerjakan tgas kuliah dia lngsung tidur,paginya ternyata sdh meninggal.
    sungguh diantara keluarga yg kita cintai PASTI akan berpisah satu per satu.kebersamaan yg abadi hanyalah di SurgaNya.
    Subhanallah..walhandulillah..wallahuakbar..
    terimakasih ya Allah yg telah menghadiahkan bulan Ramadhan yg mulia ini..shg kita smua bisa memiliki kesempatan memaksimalkan usia ibadah kita dalam umur yg terbatas ini..

  8. akhnurhadi says:

    kedewasaan memang tdk selalu seiring dengan banyaknya usia..

    disaat remaja (?) seusianya msh suka keluyuran pacaran ini sudah memutuskan utk menikah,

    salut…

  9. fytri says:

    masih 17 thn udah mutusin nikah?? Subhanallah..

  10. erickazof says:

    Hohohoho, betul bgt om 😉 terkadang kita melewatkan hal2 yg sebenarny patut kita syukuri…

    Mohon maaf lahir dan batin, smg kita slalu senantiasa dalam lindungan-Nya baik dalam cara berfikir, berkata, maupun bersikap..amin

  11. mazay says:

    Bth org tua yg luar biasa utk dpt mmiliki putra putri spt itu..Subhanallah..

  12. agus says:

    Benar pak…
    Saat mudik dan balik kemarin kami sekeluarga mendapatkn pengalaman berharga tentang ‘kesabaran untk tertib’.
    Saat sy balik dari mudik, seperti biasa, kita bermacet-macet ria. Sy sdh antisipasi dg menyiapkan brbagai permainan dan makanan di dalam mobil sehingga anak-anak bisa menikmatinya. Saat macet dari jalur Prupuk-menuju Tol Pejagan Cirebon, jalan hanya 2 jalur. Namun sy menyaksikan betapa beberapa mobil nekat menerobos jalur sebelah kanan yg berlawanan arah. Anak-anak sy bertanya,”kok ayah gak lewat jalur itu aja, kan bisa jalan?” lantas sy jawab..’ Tidak sayang, krn itu jalur kendaraan yg dari arah berlawanan, aturannya gak boleh kita langgar, nanti kalau ada kendraan dari arah berlawanan akan makin menambah kemacetan” Dan benar saja, sekitar 30 menit kemudian, jalur sebelah kanan mulai berhenti, giliran kami yang di jalur yang benar mulai bergerak. Setelah bergerak sekitar 1 km, sy menyaksikan kendaraan dari arah berlawanan tertahan di jalur kanan oleh kendaraan yang tadi menyerobot. Nah kesempatan bagi sy untuk memberikan penjelasan pad anak2x. “Nah, bener kan kata ayah? Tu lihat, kan menyusahkan kendaraan yang dari arah sebaliknya kan?” Anak-anak mengangguk-angguk mengerti penjelasan sy. Wah…kemacetan kemarin ternyata menjadi guru bagi kami bagaimana pentingnya sabar dan tertib dalam kedisiplinan.

  13. Siti Mukaromah says:

    Salut dg keluarga Bp.Jamil…pasti bimbingannya banyak doA2 ..yang dikabulkan Allah.

  14. Fredy Carol says:

    Subhanallaah.. Salut sama keluarganya Kek Jamil 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.