Let It Go with the Flow

Pernahkah Anda disakiti orang lain? Ketika diri berusaha tidak menyakiti orang lain, eh ternyata orang lain justru dengan sengaja mencubit dan menyakiti kita dengan sangat. Lebih parah lagi jika hal menyakitkan itu dilakukan oleh orang yang paling kita cintai.

Pernahkah Anda mengalami kegagalan dalam hidup Anda? Gagal dalam meraih cita-cita, gagal ujian masuk perguruan tinggi negeri, gagal interview pekerjaan, gagal menikah, atau gagal mendidik anak? Semua menjadi berantakan dan butuh kerja keras untuk me-reset ulang diri Anda agar bangkit.

Dapatkah Anda terjemahkan dengan kata bagaimana rasanya dalam kondisi-kondisi yang demikian? Sakit. Perih. Nelangsa, tak berdaya. Dendam, marah, berontak, tidak terima (bila ini terjadi, rasanya wajar) lalu putus asa, mau bunuh diri (eits! tunggu dulu, singkirkan benda tajam jauh-jauh dari Anda saat ini)

Sesiapa yang saat ini sedang mengalami tentu rasanya masih sangat menderita. Kepala pening akibat kebanyakan menangis. Wajah kehilangan cercah sinarnya, senyuman terasa lama pergi meninggalkannya, pandangan mata nanar. Hidup seperti tengkorak berjalan, tak berarah, putus asa tak menemukan jalan keluar, tak tau harus ngapain, hati kalut hanya bisa menyalahkan orang yang menyakiti kita, atau menyesali kegagalan yang menimpa kita.

Tentang kegagalan, jika datangnya bertubi-tubi tanpa memberikan celah untuk merenung dan berpikir apa yang salah dengan diri kita, lalu apakah kita yang terlalu bodoh sampai bisa gagal lagi dan lagi? Padahal memang ada kalanya ia harus datang bertubi-tubi menimpa kita bahkan membuat kita lupa bagaimana caranya untuk tersenyum dan pasrah menerima kenyataan itu. Iya, malah membuat diri tidak percaya lagi dengan kekuatan doa. Membuat diri tidak mampu lagi menangkap hikmah dan nilai positif dibalik setiap kejadian.

Membuat diri merasa direndahkan, dihinakan, diterlantarkan. Pendapat dan nasihat orang terasa hambar dan ujung-ujungnya diri sendiri menimpali “ah kau tak mengalami apa yang aku alami, bagaimana bisa kau menasihati aku”.

Tapi tolong sisakan kepercayaan kepada Yang Memiliki Hidup walau itu tinggal sedikiiiit saja, sisakan untuk berbaik sangka kepada-Nya. Dia tidak bermaksud mendzolimi kita kok, Dia tidak bermaksud merendahkan ataupun menghinakan kita, Dia tidak menelantarkan kita, sama sekali tidak!

Dia hanya bermaksud menempa diri kita yang telah menjadi salah satu manusia pilihan-Nya. (Tak banggakah kita telah dipilih oleh-Nya?) Untuk menerima sebuah misi yang tentu tidak sama dengan manusia pada umumnya, untuk diberi kepercayaan dan amanah lebih, atau bahkan untuk memantaskan menerima apa yang kita inginkan.

Dan bukankah kita seringkali berdoa untuk meminta sesuatu yang special? Agar diberi jodoh seorang dokter yang sholeh, kaya, ganteng, pinter, dan baik hati. Agar diberi anak kembar sholeh sholehah penghafal Al-Quran. Agar diberi rejeki yang banyak supaya bisa mendirikan sekolah dan rumah sakit gratis. Agar bisa menjalankan bisnis secara syariah dan untuk kepentingan umat (ini mah impian-impian pribadi penulis…:-)).

Bukankah keinginan-keinginan tersebut tergolong keinginan luar biasa untuk ukuran manusia sederhana yang berada di level kehidupan yang biasa-biasa saja? Maka untuk mendapatkannya pun, Alloh kita Yang Maha Mengabulkan dan Yang Maha Tidak Tega untuk Tidak Mengabulkan ini kemudian melihat kepantasan diri kita dulu untuk menerima pengabulan tersebut.

Untuk itu Alloh perlu menggembleng mental kita dulu agar siap lahir batin menerima pengabulan itu, agar kelak jika sudah mendapatkan, kita kemudian tidak lengah untuk berterima kasih dari Sang Pemilik, seperti halnya sifat manusia pada umumnya. Alloh perlu melecut kaki kita agar ‘njingkat’ naik ke beberapa tangga berikutnya dan menerima pengabulan itu, karena biasanya manusia cenderung merasa enggan berpindah dari zona aman nya.

Jadi, mari kita berusaha sekuat tenaga untuk menerima apa saja yang sedang ditimpakan Alloh kepada kita, dengan syukur dan sabar tentunya. Ikuti saja aliran kehidupan ini, seperti halnya air mengalir yang kadang akan mendapati riak kecil atau juga onggokan batu. Kita berusaha pasrah saja dengan apa yang akan direncanakan Alloh untuk kita. Jangan pernah berpaling dari-Nya, tetaplah bergantung kepada-Nya, tetap tunjukkan kebaikan hati dan jangan berburuk sangka kepada-Nya. Insya Alloh, air yang mengalir akan sampai pada muaranya, kita akan segera sampai tujuan dengan selamat dan penuh syukur (mencukil beberapa kalimat dari Ustadz Yusuf Mansur).

Fainama’al ngusri yusron, wa inna ma’al ngusri yusron.

Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan, dibalik kesulitan ada kemudahan, Alloh mengulangi perkataan-Nya dua kali untuk meyakinkan kita.

Cahya Dewi

Bagikan:

6 thoughts on “Let It Go with the Flow”

  1. Moga kita menjadi insan Pilihan dan mampu meMantaskan diri.

  2. ali samsudin says:

    alhamdulillah ketika saya sedang jatuh masih ingat dan diingatkan kepada Allah, boleh share sedikit kek tentang arti surat al insyirah (5&6) “sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan” saya ganti dengan ” sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan” nah meskipun datangnya bersamaan kita kadang hanya fokus pada kesulitannya saja sehingga ketika tersadar baru tahu kalau ada kemudahan.

    1. cahya dewi says:

      jazakumulloh atas koreksinya Afwan, betul sekali, kita seringkali fokus pada 1 pintu kebahagiaan yg baru saja tertutup, tanpa memandang pintu kebahagiaan lain yg masih terbuka lebar utk kita masuki 🙂

  3. Sip, mantap.. Hanya saja yang terpenting adalah apa yang telah menimpa kita, pastikan mampu segera memperkaya diri, untuk menemukan solusi terbaik, guna bangkit dari kubangan yang ada. Sebab tidak ada yang bisa mengintervensi jalan hidup manusia, hingga manusia yang bersangkutan intu sendiri memilih untu mengambil aksi menetukan arah hidupnya dalam keterpurukan sekalipun. Donal Trump contoh paling apik dalm hal ini. Salam kenal from makassar, mba Dewi.

    1. cahya dewi says:

      terima kasih mb, senang berkenalan dengan Anda 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.