Laut Guruku

Pekan lalu, 4 hari saya bersahabat dengan laut. Rabu dan Kamis saya di pantai Indrayanti Gunung Kidul, Jogyakarta, bersama teman-teman Syafaat Marketing Communication [salah satu usaha milik saya], menikmati pantai yang keindahannya mengalahkan Kuta, Bali.

Hari berikutnya, Sabtu dan Minggu, bersama keluarga saya menikmati keindahan Mutiara Carita, Banten. Disana saya mengisi seminar, untuk keluarga besar Indonesia Power, sekaligus berlibur.

Salah satu aktivitas yang kami lakukan di Mutiara Carita adalah melihat taman laut. Dengan menggunakan speed boat, perjalanan menuju lokasi kurang lebih 30 menit. Saya bersama anak-anak terjun ke laut melihat pemandangan yang sangat indah.

Namun, saat hendak pulang ternyata mesin speed boat yang kami naikin tidak bisa dinyalakan. Dua jam saya bersama anak-anak terombang-ambing di tengah laut. Menyesal? Tidak sama sekali. Karena selama terombang-ambing itu saya merenungkan banyak hal dan mendapat banyak pelajaran.

Pertama, ternyata kita itu sangat kecil. Saat terombang-ambing di tengah laut, saya memandang langit dan luasnya lautan, begitu indah, begitu besar. Sementara saya dan keluarga hanya titik yang sangat-sangat kecil di bandingkan alam semesta.  Jelas benar bahwa tidak ada yang patut disombongkan sehebat apapun kita di kolong jagat ini karena dihadapan Allah kita amatlah kecil.

Kedua, lautan letaknya lebih rendah di bandingkan tempat yang lain sehingga menampung banyak air. Seperti halnya air, ilmu akan mengalir menuju tempat-tempat yang rendah. Karenanya, bila kita ingin menampung banyak ilmu maka rendahkanlah hati. Ilmu enggan mendekati orang-orang yang sombong.

Ketiga, air laut asin tetapi ikannya tidak asin. Jadilah seperti ikan laut, hidup di lingkungan yang asin tetapi tidak ikut asin. Hidup di lingkungan kotor janganlah kita ikut kotor. Negara kita termasuk yang terkorup di dunia, akan tetapi kita tak usah ikut-ikutan menjadi koruptor.

Keempat, air laut itu terus bergerak dan terhubung ke seluruh laut di belahan dunia manapun. Jangan pernah lelah bergerak, teruslah beraktivitas. Tetapi ingatlah gerakan kita mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. Saat seseorang bertindak kriminal yang rusak bukan hanya namanya tetapi juga keluarga dan saudaranya. Begitupula saat berprestasi, yang bahagia bukan hanya kita tetapi juga orang-orang terdekat kita.

Terima kasih laut, kau telah menjadi sumber kebahagian dan guruku.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Keterangan foto:
Bersama Hanna, Dhira dan Fikar menikmati Taman Laut di Mutiara Carita, Banten.

Bagikan:

19 thoughts on “Laut Guruku”

  1. Udin says:

    Maha Suci Engkau ya Alloh karena telah menjadikan laut sebagai salah satu sumber inspirasi dan guru kehidupan…

  2. kenny andrian s. says:

    Subhanalloh…mak jleb…nyessss..suwun pakde guru, kembali kami diingatkan, pemilik jagat raya dan segala sesuatunya begitu Akbar kuasaNya

  3. Evi says:

    Kalau motivator yang jalan-jalan, setting ceritanya lain yah Pak. Sungguh pengalaman terdampar di laut seperti itu pengalaman amat berharga. Tapi kalau bisa jangan sampai saya mengalaminya. Serem, gak bisa berenang!

  4. Asep R says:

    Subhanallah, selalu berfikir positif, melihat segala hikmah yg ada, kita harus harus harus lbh banyak bersyukur dari pada mengeluh pada suatu keadaan.
    terima kasih kakek..

  5. nova says:

    sukron,

    pagi-pagi sudah terinspirasi oleh cerita Pak SuksesMulia,
    Seger sekali rasanya,

    memang dibalik semua kejadian pasti ada hikmah nya…

    salam SuksesMulia

    Nova JayaBerkah

  6. Selalu mengInspirasi tulisan kakekku ini, semoga selalu mendapat keberkahan dan kemudahan kek. Salam SuksesMulia 🙂

    Supplier Batik Pekalongan
    Mas Yayan – 085 6260 4580

  7. herwan nov says:

    Pertama, ternyata kita itu sangat kecil. Saat terombang-ambing di tengah laut, saya memandang langit dan luasnya lautan, begitu indah, begitu besar. Sementara saya dan keluarga hanya titik yang sangat-sangat kecil di bandingkan alam semesta. Jelas benar bahwa tidak ada yang patut disombongkan sehebat apapun kita di kolong jagat ini karena dihadapan Allah kita amatlah kecil..

    really like this..

  8. rahmayani says:

    Pak…anak yang pernah diceritakan waktu seminar, yang punya masalah ketika lahir itu yang mana? bgmn perkembangannya sekarang?

  9. Anggit Setyaningsih says:

    Subhanallah…
    Setiap hal yg terjadi pada kita, selama kita mau berfikir pasti selalu ada hikmahnya yg terbaik 😉

  10. Mekoh says:

    Emang beda kalau udah Master ya.
    Lagi jalan-jalan aja bisa di share dalam bentuk tulisan yang menarik.
    Kenapa ya saya belum bisa *masih nubi*.
    Mau nulis ah…..

  11. adi setiadi says:

    Luar Biasa Pak Jammil
    Salam SuksesBelajar

  12. rima says:

    Salam Sukses pak…emang bedaya,saya setiap hari di pinggir pantai tapi biasa aj

  13. kakek jamil selalu bisa melihat sudut pandang posotif dimana saja berada
    🙂

  14. doni suardiman says:

    Heheheheeheehehehhehe
    Keren
    🙂

  15. Agus edi says:

    Jadi teringat, pernah terdampar di desa yang terisolasi oleh kepungan banjir ketika mau mengevakuasi korban banjir di Bojonegoro, dan bahkan perahu karet yang kami tumpangi bersama LKC Dompet Dhuafa terombang ambing arus sungai ketika mesin mati. Subhanallah Maha Besar Allah yang masih memberikan pertolongan bagi Kami waktu itu.

  16. semua ksiah bisa menjadi hikmah dan akhirnya bisa semakin memperkokoh keimanan kita kepada allooh swt.

    syukron yaa…

  17. Cahya Dewi says:

    terima kasih Pak Jamil, guruku 🙂

  18. aris rahmanto says:

    Subhannallah,,alam selalu memberikan pelajaran yg berharga bgi hamba-2 yg mau berfikir..
    terima kasih pak..inspiring..!

  19. irman says:

    Ikan yang besar adalah ikan yang berani melawan arus

Leave a Reply

Your email address will not be published.