Kutemani Dia Mencari Jati Dirinya

Lilis M. UsmanAyu, nama anak remaja usia 14 tahun. Dia baru saja naik kelas dua di sebuah sekolah Tsanawiyah Negeri. Karena keputusan keluarga dia harus pindah, ikut bersama ku tinggal di Tangerang, dengan demikian sekolahnya pun harus pindah juga.

Sebelumnya Ayu bersama tiga adiknya tinggal dengan kakek dan nenek nya di Pandeglang. Setelah ditinggalkan ibu nya, yang hingga hari ini tidak pernah diketahui keberadaannya. Sementara bapaknya sudah bertahun-tahun berada di panti rehabilitasi jiwa, karena gangguan kejiwaan yang dialaminya sejak tahun 1989, yang membuatnya sering keluar masuk panti rehabilitasi jiwa.

Ayu dan adik-adiknya mengalami masa kanak-kanak yang sulit, yang memungkinkan mereka punya masalah dalam pertumbuhan fisik dan mentalnya. Maka tidak aneh ketika dia menginjak remaja, dia memiliki masalah yang cukup serius untuk anak seusianya. Meskipun sebenarnya Ayu termasuk anak yang cerdas. Terbukti hampir pada semua mata pelajaran dia dapat nilai yang bagus. Maklum dia pemilik Mesin Kecerdasan Instinct (In). Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Unggulan dia dapat kelas peringkat satu (A), hasil persaingannya dengan 600 siswa, yang ikut test waktu dia memasuki sekolah tersebut.

Enam bulan belakangan ini Ayu menunjukan sikap yang tidak layak dan tidak bisa diterima oleh kakek dan neneknya. Dia suka membangkang, bahkan tidak jarang berkata kasar pada kakek dan neneknya.Selain itu juga beberapa kali dia mengambil dan menggunakan uang kakeknya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Semakin lama jumlahnya semakin banyak,dan ini yang membuat kakek dan neneknya semakin cemas, dengan perubahan yang terjadi dalam diri Ayu.

Rapat keluarga memutuskan bahwa Ayu harus ikut aku. Dengan sangat berat hati aku terpaksa memindahkan Ayu dari sekolahnya yang lama, untuk ikut bersama ku. Dan tentu saja dia harus ber-sekolah di tempat yang standardnya lebih rendah dibandingkan dengan sekolah dia sebelumnya. Tentang sekolahnya ini aku mencoba membesarkan hatinya, bahwa dia bisa mendapatkan panggung yang lebih besar di sekolahnya yang baru, asal dia ikhlas dan tulus menjalaninya, dan tidak lagi memikirkan sekolah dan teman-teman yang dia tinggalkan di Pandeglang.

Aku mencoba untuk optimis, membimbing dia dan mengembalikannya kepada sifat-sifat terbaik orang Instinct. Orang yang menyukai kedamaian, rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Anak yang mudah melebur, mudah bergaul dan terbuka (menyenangkan) dan stabil dalam kepribadiannya. Anak yang seharusnya memiliki kesholehan hati dan pikiran, dan senang berbagi dengan lingkungannya.

Sebagai orang Thingking introvert (Ti) dengan berbekal kemauan keras dan kesabaran, aku akan mencoba menata ulang prilaku Ayu, agar dia bisa kembali kepada keharusannya sebagai anak In. Karena menurut pikiran ku situasi masa kanak-kanaknya lah yang membuat dia labil. Masa kanak-kanak yang seharusnya dia lalui dengan penuh kasih sayang, perlindungan dan perhatian. semuanya menjadi barang mewah, yang nyaris tidak dia dapatkan dari orang-orang di sekelilingnya.

Tidak adil rasanya, kalau anak usia 14 tahun yang tidak pernah diberi asupan pendidikan mental yang sholeh dituntut harus menjadi anak sholeh. Tidak adil rasanya kalau anak yang selalu diberikan contoh yang kurang baik dituntut untuk menjadi anak yang baik. Tidak adil rasanya anak yang tidak pernah diperlakukan dengan manis dituntut untuk menjadi anak yang manis.

Bukankah Allah pun sudah memberitahu kita, bahwa “anak terlahir dalam keadaan putih bagaikan kertas kosong, menjadi baik atau buruk anak tersebut kelak, tergantung kepada kalimat apa yang digoreskan pada kertas tersebut oleh orang-orang dewasa yang ada disekitarnya”. Hal ini lah yang membuat aku berkeras hati untuk membawa Ayu bersama ku.

Aku optimis bahwa hidupnya akan terselamatkan dari perilaku yang tidak terpuji, sebagaimana yang akhir-akhir ini dia lakukan. Sepenuhnya aku berpasrah diri atas segala upaya ku untuk membimbing Ayu, kepada kehendak terbaik Allah. Aku berharap dia benar-benar akan menemukan jati dirinya bersama-sama dengan ku di tempatnya yang baru.

Bulan suci Ramadhan kemarin ku awali bimbingan ku padanya, mengajak dia membaca Al-Quran, melaksanakan Tarawih, mengikutsertakannya pada kegiatan Pesantren Kilat Mesjid Perumahan. Untuk mengalihkan kebiasaan menggunakan HP berlebihan, aku beri dia buku bacaan remaja yang cukup edukatif, seperti “Laskar Pelangi, Sang Pemimpi” dan beberapa buku lainnya.

Untuk menyiapkan dia menghadapi pelajarannya, aku siapkan dia kamar sendiri, dilengkapi dengan keperluan belajarnya, sebatas yang aku mampu. Bahwa yang paling dia butuhkan adalah situasi rumah yang kondusif, tanpa konflik, tanpa kekerasan dan tekanan mental. Semoga bisa aku sediakan dari keberadaan ku sebagai orang Ti.

Semoga Allah membimbing ku, menunjukan kepada ku jalan terbaik untuk mengembalikan Ayu pada sejatinya Personal Genetic yang dia miliki, sebagai pemilik Instinct (In)

Wallahu’alam Bissowab, hanya Allah yang menentukan semua hasil usaha untuk menata masa depan manusia.

Lilis M. Usman

Bagikan:

4 thoughts on “Kutemani Dia Mencari Jati Dirinya”

  1. Arieffadillah says:

    “Semoga Allah membimbing ku, menunjukan kepada ku jalan terbaik untuk mengembalikan Ayu pada sejatinya Personal Genetic yang dia miliki, sebagai pemilik Instinct (In)” …semoga selalu diberikan kemudahan dan selalu dalam bimbingan-Nya…Aamiin.

  2. cak mamad says:

    aamiin.

    Menyentuh hatinya, mengubah kepribadiannya dengan doa…

    sedikit sharing tipsnya sebagai berikut, insya Alloh bisa dipakai, salamin “dek ayu” setiap harinya dilanjut dengan kiriman al fatikah, caranya sebagai berikut:

    “assalamu’alaikum… (digandeng dari surat yasin) salamun qaulam mirrabirrohim ya…(nama) lauhumul fatikah (fatikah seikhlasnya)” lalu langsung digandeng dengan doa untuk yg bersangkutan.

    jika dikerjakan istiqomah insya Alloh akan muncul kebaikan-kebaikan seperti yang diharapkan.

  3. ibnumadani says:

    Semoga niat baik dan ikhtiar nya dimudahkahkan Alloh SWT.
    Aamiin..

  4. bikarto says:

    Semoga apa yang diinginkan dikabulkan oleh Allah Swt Amiin

    Setuju sekali tentang :

    Tidak adil rasanya, kalau anak usia 14 tahun yang tidak pernah diberi asupan pendidikan mental yang sholeh dituntut harus menjadi anak sholeh. Tidak adil rasanya kalau anak yang selalu diberikan contoh yang kurang baik dituntut untuk menjadi anak yang baik. Tidak adil rasanya anak yang tidak pernah diperlakukan dengan manis dituntut untuk menjadi anak yang manis.
    Inilah yang harus menjadi koreksi bagi kita…..kadang kita menuntut orang untuk baik namun lupa menuntut diri sendiri untuk memberi contoh kebaikan….

    Sukses terus Mbak…

Leave a Reply

Your email address will not be published.