Kuliah, Investasi atau Biaya

Share this
  • 47
  •  
  •  
  •  
  •  
    47
    Shares

Siapa tidak kenal dengan Harvard University, salah satu institusi pendidikan paling bergensi di negara bagian massachussets, Amarika. Orang-orang rela bejubel mendaftar disana meski harus menghadapi seleksi super ketat dari berbagai peminat di penjuru dunia. Anehnya Bill Gate, malah mengambil “langkah-seribu” meninggalkan Harvard, demi untuk menekuni passion-nya di Microsoft.

Dalam satu kesempatan ia di wawancarai oleh Oprah Winfrey. Jika dalam versi kita, dialog itu kurang lebih berikut. “Mas, Sekolah Harvard itu bergensi loh, kok kamu malah ninggalin, sehingga banyak orang berkata kamu tidak waras lagi. Apa pendapatmu, Mas” Dengan tersenyum santai, Bill pun berkata. “Saya meninggalkan Harvard karena dua alasan. Pertama saya memiliki arah yang jelas yang ingin saya capai. Kedua, bahwa ternyata arah yang ingin saya capai itu, sepertinya tidak mampu terwujud melalui Harvard.”

Keputusannya yang pernah di cibir, belakangan banyak orang malah balik terkagum-kagum. Betapa tidak, Keputusannya meninggalkan Harvard ternyata berbuah manis dan melontarkan namanya, nangkring di posisi teratas sebagai orang terkaya di dunia, selama beberapa tahun berturut-turut.

Dari sejumput kisah tersebut, sejatinya membuat kita selaku orang tua tersadar tentang apa sesungguhnya substansi pendidikan bagi anak. Kuliah memang penting, namun ada yang lebih penting harus datang mendahuluinya. Apa itu? Ya, itulah kejelasan visi berbalut passion. Atau dalam bahasa gampangnya, anak kuliah “mau ngapain”. Inilah peta yang harus bisa di jabarkan dulu oleh anak, dalam bentuk Life Plan Presentation.

Jika mampu memaparkan itu secara substansial, barulah orang tua melihat arahnya. Jika arahnya berkaitan dengan pendekatan strata akademis, maka kejarlah walau ke “negeri Cina.” Namun jika arahnya ke pendidikan non formal, maka jangan pernah takut “banting setir.” Sebab boleh jadi itu adalah investasi yang kelak menjadikan anak lebih bernilai fantastik. Tapi kalau orang tua masih berpikir, “Ahhh… Itu bagaimana nanti, Mas Rahman. Yang penting kuliah dulu, kalau kuliahnya sudah tinggi, kan kerjaan gampang.”

Baca Juga  Meroket Dengan Kursi Roda

Jika pola pikir kita masih seperti itu, maka percayalah investasi anda pada anak berupa waktu, uang dan juga umur boleh jadi akan berubah menjadi biaya pemborosan yang menyakitkan semata. Sebagai konsultan parenting dan pemerhati pendidikan, saya banyak menemui fakta menyakitkan ini di lapangan.

Jadi segera temukan life plan-nya dulu. Jalur aksesnya kedalam diri anak. Memang tidak mudah mengakses panggilan jiwa itu, seperti apa yang dialami Bill Gate. Namun asal tahu saja, menurut hasil penelitian, manusia menggunakan kapasitas otaknya rata-rata baru sekitar 5%. Perbesarlah dengan cara sediakan waktu untuk terus bertanya pada diri sendiri.

Pada akhirnya jawaban fantastik itu kelak akan ditampilkan. Sebab pada dasarnya itu sudah ada tersedia, namun ia masih tertidur dalam suatu kubangan bernama Genetic Potential Dorman didalam diri anak. So, Bangkitkanlah melalui sentuhan tangan dingin anda. Atau abaikan dan kita akan terjebak dalam biaya pemborosan selamanya.

Salam Metamorfosa.

Rahman Patiwi


Share this
  • 47
  •  
  •  
  •  
  •  
    47
    Shares

18 comments On Kuliah, Investasi atau Biaya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer