Kolaborasi

Kita adalah makhluk sosial. Apabila ingin tumbuh dengan cepat maka kita harus berkolaborasi dengan banyak pihak. Kolaborasi terbaik dimulai dari memilih istri yang tepat dan memilih partner sukses yang saling mendukung.

Berbagai ilmu dan nasehat memilih istri yang berlaku umum selama ini sudah saya dengar. Namun ada nasehat yang benar-benar baru saya dengar. Nasehat itu intinya berpesan, “Jangan menikah dengan orang yang mesin kecerdasannya sejenis. Energi dalam keluargamu akan macet. Salah satu dari aspek kesehatanmu akan terganggu. Apakah itu financial, kesehatan, karir, bisnis dan kehidupa sosial kemasyarakatanmu.”

Bagi Anda yang belum familiar dengan mesin kecerdasan, saya akan coba jelaskan sekilas. Ternyata secara genetik, saat lahir kita sudah diberikan belahan otak yang dominan. Bila yang dominan limbik kiri, disebut orang Sensing. Bila yang dominan neokorteks kiri, disebut orang Thinking. Bila yang dominan neokorteks kanan, disebut orang Intuiting. Bila yang dominan limbik kanan, disebut orang Feeling. Sedangkan mereka yang dominan  otak tengah (hindbrain), disebut orang Instinct.

Berdasarkan ilmu ini, sangat tidak dianjurkan seseorang menikah dengan orang yang belahan otak dominannya sama. Misalnya, orang Sensing tidak dianjurkan menikah dengan orang Sensing, Thinking dengan Thinking,  dan seterusnya. Kehidupan keluarganya boleh jadi memang seirama tetapi mereka tidak mampu menarik energi lain masuk ke dalam rumahnya.

Apakah  haram? Memang tidak, tetapi aliran energi di keluarga tersebut akan macet. Bisnisnya bisa sering merugi, penyakit akan mudah datang dan mengundang hal negatif lainnya datang.

Kolaborasi dalam hidup juga ditentukan oleh kolaborasi kita dengan pasangan hidup yaitu istri atau suami kita. Nah bagaimana bagi yang sudah terlanjur menikah dengan yang belahan otaknya sama? Agar energi di keluarga tersebut mengalir maka energi yang dikeluarkan keluarga tersebut seyogyanya lebih besar dibadingkan dengan energi yang dikeluarkan keluarga lain.

Aliran energi di rumahnya harus ditambah dengan memelihara anak orang lain. Aliran sedekah ilmu dan hartanya harus terus diperbesar setiap waktu. Energi untuk mendekat kepada Sang Maha harus lebih besar dibandingkan dengan rata-rata energi yang dikeluarkan oleh orang lain.

Memang ilmu adalah hasil kajian dan penelitian manusia, ada peluang salahnya. Namun apa salahnya kita mulai mengamati berlakunya teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


Bagikan:

23 thoughts on “Kolaborasi”

  1. CECEP SAPRUDIN says:

    Saya baru tau tentang mesin kecerdasan. Kayaknya saya harus ikut tes mesin kecerdasan ini deh. Dimana alamatnya kalau mau tes ini dan berapa biayanya Pak?

    1. Kang Cecep bisa ikut Workshop Sabtu 02 Februari. Atau kunjungi http://www.stifin.com

  2. Prapti says:

    Menarik sekali Pak Jamil. Saya baru kali ini ikutan comment. Tetapi Insyaalloh hampir setiap hari Saya membaca tulisan Bapak.
    Secara logika memang bener banget kalau pasangan yang potensi nya pada bidang yang sama bidang lain nggak tergali. Sementara untuk perkembangan sebuah keluarga butuh potensi potensi pada bidang yang berbeda.

    1. Terima kasih akhirnya berkenan komentar di website saya, hehehe

  3. @desendy says:

    Teori yang menarik Kek jamil, mungkin bisa dibuat seminar parenting dan Pernikahan yang berkaitan dengan mesin kecerdasan tersebut.. salam sukses mulia….

    1. Usulan yang menarik mas

  4. innajamal says:

    Apa cirix pak yg intuiting, sensing, instinck, thinking, n feeling…?

    1. Wah itu panjang banget, bisa dibaca buku saya Kubik Leadership atau DNA SuksesMulia. Bila mau lebih dalam silakan ikut workshopnya Sabtu 02 Februari di Sucofindo

  5. iin.green says:

    request kek untuk selanjutnya mohon diterangin ciri masing2 & cara mngetahui faktor dominan kita dong kek di web ini. smntara sya masih sambil terus nyari buku2 nya nih kek.. krn kok udh cukup lama jg sya cari di toko buku ttp kosong ya kek.. pdhl pgn bgt baca..

  6. rina says:

    menarik. klo orang feeling, cocokny sm yg mana ya pak?sy tipikal feeling. hee..

  7. innajamal says:

    Sayang yah gak bs ikut workshopx (tinggal d slh st kab. d sulsel:'()

  8. Adha wahyudi says:

    Alhmdulillah kek,istri saya mk nya beda dgn saya..,semoga menjadi kolaborasi yang ‘SuksesMulia’ ya kek

  9. dini says:

    Mantap kek ….. Namun yg paling utama tetap agamanya (taqwa) . Iya kan kek ……

  10. semua diserahkan pada ALLAH, semoga membimbing kita menemui JODOH yang TERBAIK bagi kita.

    😀

    Salam SuKsesMuLia!

    SelametHariadi

  11. Surya says:

    Alhamdulillah, meski waktu nikah belum tes mesin kecerdasan, ternyata saya sama istri beda, anak pertama juga beda lagi, kayaknya anak kedua juga bakal beda (belum tes). Alhasil rumah tangga jadi sangat ‘berwarna’. Kalo istri ada 4 dengan mesin kecerdasan yang beda2 kayaknya seru ya kek? hehehe.. 🙂

  12. abbad says:

    sudah ada yang mau aja syukur kek hehehe

  13. ismia says:

    Kek, yg di scufindo, mohon info , trmkash

  14. heru nafi says:

    Kalo nyari bukunya kubik leadership dimana ya mbah?

  15. dnur77 says:

    semakin hari semakin tambah ilmu dengan membaca tulisan dari Guru Jamil…kecerdasan

  16. Em You says:

    membuka cakrawala…

  17. Roni says:

    mesin kecerdasan ini benar benar aku rasakan sangat berwarna saya tipe Feeling dan istri saya sepertinya lebih ke kiri segala sesuatunya di ukur dengan logika sementara lebih ke intuisi dan imajinasi

  18. Yuni says:

    wah..
    kmrn kami sklg br tes stifin, hasilnya Suami Fe, sy Fi, anak pertama Fe dan anak kedua Ii.
    Optimis, bersyukur & husnuzhon pd Allah aja deh.. Insya Allah yg terbaik.
    aamiin..

  19. elvi says:

    kek,. saya Ii.. berarti cocoknya berpasangan sama Fe ya ????

Leave a Reply

Your email address will not be published.