Kita Bukan Hakim

menghakimi.jpg

Akhir-akhir ini saya banyak dapat email dan keluhan langsung tentang hujatan kepada beberapa orang. Bahkan ada yang langsung menghujat dan mencaci maki dengan melampirkan SMS dan email dari orang lain. Berita negatif memang cepat menyebar padahal belum tentu kebenarannya,

Di zaman dimana informasi cepat menyebar seperti saat ini, saran saya jangan mudah percaya dengan berita yang beredar. Apalagi kabar tentang akhlak atau perilaku buruk orang lain. Yang lebih parah adalah kita percaya dengan informasi yang ditulis oleh akun twitter yang tidak diketahui siapa adminnya.

Saya selalu mem-filter informasi yang datang kepada saya dengan beberapa kaidah. Pertama, orang yang membawa berita dan merasa terdzalimi atau tertindas belum tentu dia benar. Saat ada orang yang bercerita bahwa orang tersebut dirugikan, ditindas, diabaikan atau diperalat orang lain, jangan langsung percaya. Boleh jadi orang itulah yang bersalah, dia sedang mencari pembelaan dan pembenaran.

Kedua, segera lakukan “tabayun” atau cross check kepada orang yang dituduh buruk. Kebetulan diantara tokoh yang “dihakimi” buruk baru-baru ini ternyata ada yang saya kenal. Akhirnya saya datangi tokoh tersebut untuk mengklarifikasi kebenaran hujatan itu. Ternyata itu fitnah dan disebarkan oleh orang-orang yang memang bermental buruk.

Coban Anda bayangkan, andai saja saya percaya dengan berita buruk tesebut kemudian saya “ngoceh” di website ini, twitter, facebook, dan tempat training, berapa orang yang menerima berita bohong tersebut. Betapa besar kesalahan dan dosa yang harus saya tanggung.

Ketiga, saya tidak hidup bersama orang tersebut sepanjang hari. Betapa sering berita atau informasi tentang kehidupan seseorang itu hanya secuil yang kita dapat. Padahal masih banyak sisi kehidupan yang tidak kita ketahui. Kita tak berhak menilai buruk kehidupan orang lain karena faktanya kita tidak tahu secara utuh kehidupan orang tersebut.

Kita hidup bukan untuk menjadi hakim atas kehidupan orang lain. Sungguh kehidupan di dunia ini sangat pendek. Jangan manfaatkan waktu Anda untuk hal-hal yang sangat tidak bermanfaat. Salah satu hal yang sangat tak bermanfaat adalah mencari-cari kesalahan orang lain apalagi menghakimi orang lain dengan label yang buruk. Bertaubatlah.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

43 thoughts on “Kita Bukan Hakim”

  1. Salah sau terhindar dari berita buruk dan tidak berkualitas adalah hanya mem-follow akun-akun yang jelas, dan bermanfaat catatan, twit, maupun status-stausnya.. makasih Kek sudah mengingatkan..

    1. Sama2 mohon doanya mas

  2. Herman Hanif says:

    Lebih baik menjadi hakim bagi diri sendiri drpd menghakimi orang lain yg belum tentu kebenarannya.

    Trimakasih kek,sdh mengingatkan pagi ini.

    Salam sukses mulia,
    @HermanHanif

  3. arief says:

    Bijak sekali pak ! Ini jadi tuntunan kita untuk bersikap. Terima kasih guruku

  4. EventJogja says:

    ya, jangan lebih suka mengurusi dan menghakimi urusan orang lain, komen lah secukupnya, karna klo terlalu sibuk menghakimi urusan orang lain, kita lupa urusan diri sendiri yg mestinya lebih penting utk diperbaiki 🙂

  5. basith says:

    Kaidah memfilter nya cukup banyak yai, ada 3 saringan pertahanan grendelnya ala timnas Italia dg skema catenacio nya, atau ala parkir bus di dpn gawang spt kata muorinho ketika lawan barca supaya tdk kebobolan

    1. Buku sudah diterima?

      1. basith says:

        Belum saya terima bukunya, padahal sudah saya tunggu2, kpn bukunya datang,

  6. princess amanda says:

    semut di seberang laut keliatan..gajah di pelupuk mata tak nampak…astaghfirullah…
    very inspiring article grandpa…luv it

    sy ingin jd org sibuk aja dech.. yg sibuk membahagiakan keluarga dan org lain…sehingga gada waktu bwt melihat bahkan menyebar aib org lain…

    salam suksesmulia….:)

    1. Tosss, setuju ditunggu di WBT

      1. princess amanda says:

        iya grandpa…sy udh sgt ga sabar nungguin wbt 12…smp ke impi2…
        ngiri bgt liat alumni wbt11…
        insyaAllah jika sy sdh ikut…sy mw bikin kuis yg hadiahny 1 tiket wbt 13 bwt follower sy..
        sy hrs ikut dl wbt 12 tentunya…

        jatuh cinta dengan ilmu yg ada pada diri grandpa itu bikin hati menjadi riang gembira setiap hari…
        jujur sy telat tau ttg sosok grandpa…tp stlh sy tau…tak kulepas wlwpun seharipun memantau twit n web ini…

  7. mhd husni tarigan says:

    Terimakasi kek, sangat menginspirasi

  8. andriansyah says:

    Gimana kalo kek Jamil di Nobatkan sebagai Hakim Sukses Mulia. aja ?

    1. Hahahaha, nakal… Salam SuksesMulia

  9. masruriisme says:

    kalau mengenai berita di media massa cara bersikapnya bagaimana Pak?

  10. Supriyanto says:

    Tos… Pak Ustadz…, Jadi hakim ditengah – tengah hakim sangat cocok untuk pak jamil… menfilter… bertabayun.. bagian dari seorang hakim yang penuh hikmah.
    Pingin rasanya setiap hari memberikan kemanfaatan kepada orang lain, bukan mendzolimi apalagi menghakimi. Harus belajar banyak dari Pak Ustadz.. Jamil Azzaini. Sukron.

    1. Wah saya belum ustadz mas, ilmunya masih dangkal. Panggil mas aza ya. Salam SuksesMulia

  11. Rain says:

    Hal negatif merupakan konsumsi pasar yang menjanjikan meningkatkan oplah surat kabar, menaikkan rating tayangan, atau publikasi di sosial media langsung mendapatkan respond seketika, dituntut kedewasaan kita dalam membaca dan menggunakan akal sehat, khawatirnya ternyata di hati kita telah tersemai benih benih nilai nilai rendah yang tinggal di siram dengan berita negatif langsung tumbuh menjadi pikiran dan sikap negatif. Thanks Kek sudah mengingatkan untuk banyak ber istighfar untuk “menata pikiran dan hati”

  12. @andihakim31 says:

    Saya buka hakim beh, tapi saya andi hakim..hehe

    1. Wuih keren, hehehehe

      1. basith says:

        Yai, jamil, bukunya sudah saya trima,siang ini barusan datang, matur suwun ingkang katah,mugi2 manfaat

  13. Mila Kemalasari says:

    Iya kek, sblm menjadi ‘hakim’, sebaiknya tabbayun/klarifikasi dulu ke org b’sangkutan.. 🙂

    1. Sebelum jadi hakim jadi terdakwa dulu, hehehe

  14. princess amanda says:

    @holistic_center follow ya sahabat2 semua…

    1. Sudah saya follow 🙂

      1. princess amanda says:

        tengkyuuu grandpa…

  15. mas bjoe bjoe says:

    Nderek nunut Paris ngelmu kabecikan mas @jamil azzaini

    1. Hidup saling menuntut ilmu

  16. noza says:

    setuju kek ,, 🙂 terkadang kita lebih memperhatikan kesalahan orang lain ketimbang mengintropeksi diri kita sendiri,,

    1. Semoga kita terhindar dari penyakit ini

  17. Aal says:

    sungguh bijak dan saya sangat setuju… 🙂

  18. mmm.. apa ini ada hubungannya dengan salah satu ustadz di solo? (nebak-nebak aja)

    1. Saya tidak tahu kasus Solo mas

  19. Burhandwi says:

    Sangat setuju kek…..
    jangan tergesa-gesa menyimpulkan informasi yang baru diterima.

  20. saya jatuh cinta pada tulisan anda

  21. yusri says:

    asalamualaikum,
    Pak Zamill, semoga kita terhindar dari hal-hal yang bisa menghilangkanpahala seperti api yang memakan kayu bakar 🙂

    salam,
    yusri

  22. yusri says:

    Pak Zamil,
    insyallah sampai ketemu di training nya bapak.

    yusri

    1. Ditunggu, btw training yg mana mas?

  23. Dennis says:

    Wih, kalau saja kek Jamil mengikuti “fitnah” yang bergerak di politik kampus, rasanya mau bertaubat terus, haha..

    1. MILA KEMALASARI says:

      STOP TAJASSUS !!!!!!!!!!!!!! STOP BULLYING !!!!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.