Kisah Nyata “Biasa”

Dodi RustandiSelalu saja ada pengalaman dari seseorang yang bermesin kecerdasan Sensing yang bisa diambil pelajaran berharga.

Kenapa begitu ? Karena orang Sensing lah yang paling memainkan peran learning by doing, belajar dengan melakukan. Walau kadang ada sisi ga baiknya juga sih, tapi mari lah kita selalu melihat ke sisi yang baik saja.

Nah, berikut ini adalah sebuah kisah pengalaman seorang wanita dokter muda bermesin kecerdasan sensing disaat dia bertugas,yang saya ambil dengan izin dari account facebooknya, inilah kisahnya..

Beberapa hari terakhir fisik begitu lemah, sakit sering menyerang. Jam terbang terbang di Rumah Sakit semakin tinggi, mengindikasikan akan mendapatkan lebih banyak ilmu pengetahuan sekaligus pengalaman kehidupan.

Kali ini bukan kisah yang luar biasa. hanya seorang ibu, seumuran ibuku, tergeletak lemah di tempat tidur rumah sakit. Pagi itu pukul 4. Bau kotoran BAB manusia menyerbak diruangan kelas 3 bangsal penyakit dalam.

Ternyata, ibu itu BAB tidak tertahankan dan mengotori tempat tidurnya. Sang suami dengan sabar membersihkannya. Ibu ini berukuran terlalu besar sehingga sang suami tak kuat mengangkatnya untuk jalan ke toilet. Maklum, sang ibu terkena suatu jepitan di syaraf tulang belakang sehingga kedua kakinya lemah, sangat susah untuk berjalan.

Kulihat jari-jari kakinya sudah tidak ada, amputasi karena kencing manis 14 tahun yang lalu. Akhirnya, saya disisi kiri ibu, suaminya disisi kanan ibu, kami membawanya ke toilet.
Mmm,fuh. Sambil menahan bau pup. Kira-kira proses jalan bolak-balik toilet-tempat tidur membutuhkan waktu setengah jam, padahal hanya berjarak 2 meter. Susahnya ibu ini menggerakan kaki. 🙂

Ketika pada akhirnya ritual ini selesai, sang ibu menangis haru, ” Kamu baik sekali nak, anak saya saja belum tentu mau melakukan hal ini..” ” Ah ya nggak juga ah Bu..”

“Anak saya itu mbak, sama-sama di Semarang, tahu saya mondok opnam saja, jenguk pun nggak…” Air mata berlinang lebih deras dari pelupuk mata sang ibu.

Hilang sudah bau eek itu, hilang sudah rasa jijikku, tergantikan air mata sang ibu ini.

Seringkali, bahkan setiap saat, aku mengingat kedua orang tuaku di rumah, yang bahkan belum tentu kusentuh dan kusapa setiap hari. Ya Tuhan, jagailah kedua orang tuaku selalu. Berikan mereka kesehatan. maafkan diriku yang tidak bisa setiap hari ada bersama mereka…

Itulah kisah Nyata yang “biasa” dari seorang dokter muda Sensing, karena terlalu biasanya, mampu membuat saya yang bermesin kecerdasan Thinking menangis haru…

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah terbaik dari kisah yang “biasa” ini..

Salam SuksesMulia

Ngobrol yuk..

Dodi Rustandi

@dodirustandi -STIFInMAN-

Bagikan:

3 thoughts on “Kisah Nyata “Biasa””

  1. Rahmat E. Siregar says:

    Luar biasa mas Dodi. Sederhana namun begitu menyentuh hati nurani. Salam SuksesMulia.

  2. mira says:

    terharu dan salut dengan dokter itu ,,,, izin share yah artikelnya ^^

  3. Ora Dadi Opo says:

    menyentuh sekali bang Dodi…. hiks_hiks_

Leave a Reply

Your email address will not be published.