Khodijah atau Fatimah?

nikah.jpg

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol tentang pernikahan dengan anak pertama saya Nadhira (22 tahun). Ada dua pilihan bagi wanita untuk menikah: Melamar atau dilamar. Kedua pilihan ini sudah dicontohkan oleh dua wanita mulia. Khodijah “melamar” Muhammad SAW. Fatimah menunggu dilamar Ali bin Abi Thalib.

Jadi, bukanlah kehinaan bila seorang wanita “melamar” seorang laki-laki untuk menjadi suaminya. Ingat sekali lagi, menjadi suaminya bukan untuk menjadi pacarnya. Khodijah berani “melamar” sang Nabi setelah ia tahu kualitas lelaki ini. Ketika itu Khodijah dan Muhammad melakukan kerjasama bisnis. Memang kita bisa tahu kualitas seseorang, salah satunya setelah bekerjasama dalam bisnis.

Khodijah amanahkan bisnisnya kepada lelaki terpercaya ini. Ia kagum saat Muhammad memberikan laporan perjalanan bisnisnya ke beberapa negara. Belum lagi ia mendapat cerita tentang akhlak dan perilaku mulia dari anak buah Khodijah yang ikut dalam misi dagang itu.

Wanita kaya raya yang sudah matang menjalani kehidupan ini akhirnya mengutus Nafisah binti Munabih untuk menemui laki-laki yang telah “menaklukan” hatinya. Utusan ini menyampaikan isi hati dan ketertarikan Khodijah kepada Muhammad. Dan akhirnya, degan ditemani Abu Thalib pamannya, secara resmi Muhammad SAW melamar Khodijah. Wanita inilah yang mendampingi penuh cinta, kesetiaan dan pengorbanan saat Nabi Muhammad SAW berjuang menyebarkan agama Islam.

Fatimah pun sudah sejak lama memendam rasa kepada Ali bin Abi Thalib. Namun ia malu dan tak berani mengungkapkan isi hatinya kepada lelaki yang sering berada di sisi Ayahnya ini. Beberapa kali lelaki lain yang melamar melalui ayahnya ditolak. Dan begitu gembiranya ia saat Ali melamarnya.

Ternyata sejak lama Ali juga memendam rasa cinta kepada Fatimah. Namun ia terkadang merasa tak pantas mendampingi wanita puteri dari seorang Nabi ini. Maka ketika keduanya menyatu dalam pernikahan, kebahagiaan yang begitu besar menyelimuti hati kedua insan yang telah lama sama-sama jatuh cinta ini.

Silakan “melamar” laki-laki. Namun sebelum “melamar” pastikan kualitas dan pengalaman hidup Anda memang diakui banyak orang. Khodijah selain pebisnis besar, dermawan, ia juga terpadang dikalangan penduduk Mekah. Sementara bagi Anda yang menunggu dilamar, pantaskan dirimu agar mendapat pasangan yang beriman dan terhormat sesuai harapan. Ingat, memantaskan diri bukan sibuk stalking lelaki yang yang kau taksir.

Jadi, pilih mana, Khodijah atau Fatimah?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

15 thoughts on “Khodijah atau Fatimah?”

  1. Mira Marselina says:

    Baik Khodijah maupun Fatimah mereka panutan bagi semua muslimah.
    Kisah Khadijah dan Fatimah juga menginspirasiku dalam memantaskan diri menjadi ibu.
    Dulu kebiasaan orang Quraisy setiap anak-anak yang dilahirkan disusui oleh ibu sepersusuan bukan oleh ibu kandungnya. Tapi Khadijah memilih untuk menyusui langsung Fatimah karena kasih sayang beliau kepadanya,
    akhirnya semua sifat baik khadijah melekat diri Fatimah.

    Terima kasih inspirasi hari ini kakek 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      Yes, … Anakmu pasti bangga punya ibu seperti dirimu

  2. SmalisCake says:

    Jleb banget kek bacanya, 2 wanita mulia yg sangat menginspiratif baik kepribadian maupun ahlaknya.

  3. Lely wanita Ceria "Cerdas, Ikhlas, Amanah" says:

    Khadijah adalah sosok isteri yang cerdas yang sangat dicintai Rasulullah dibandingkan isteri” Beliau yang lainnya. Fatimah adalah anak Rasulullah yang terkanal karena ke Ikhlasannya. kalo aku dulu ya ngikut Fatimah Kek…. karena tiba” dilamar…..hehehehe……

    1. Jamil Azzaini says:

      Harus sesabar dan seikhlas fatimah juga 🙂

  4. @reksahary says:

    Kakekkk bisa aja yg belajar sambil menghibur hati… hahahahah

  5. @reksahary says:

    Aku Fatimah 🙂

  6. siska suharti says:

    izin copas ya kek… mau sy save di blog saya, biar makin banyak yang terinspirasi dengan tulisan kakek

    1. Jamil Azzaini says:

      Dengsn senang hati, silakan. Webku dipromo juga ya, hehehehe

  7. rendy nugroho says:

    Sesungguhnya bukan hanya wanita kek lelakipun begitu. Harus bisa ‘membentuk dirinya untuk pantas dinikahi atau membentuk dirinya hingga pantas untuk menikahi’ jadi semua itu sebenarnya korelasi relativitas yang sudah kita ketahui bersama dari ‘mbah einstein’ karena semua akarnya adalah dari sebab dan akibat bukan dari untung-rugi.

  8. Ghana Nazala says:

    Banyak perempuan saat ini yang tidak mengerti, dan memilih jalan “pacaran/sejenisnya” atas dasar penjajakan diri. Padahal kita cukup percaya saat kita berusaha menjadi insan yang mulia di mata Allah, maka Allah akan memberikan seseorang yang sama untuk kita, karena pemberian Allah tidak pernah salah 🙂

  9. Rizky says:

    nice post lg kakek 😀
    jd keinget kata orang, “jangan ngarep punya suami sebaik Ali bin Abi Thalib jika kamu tak sebaik Fatimah Azzahra binti Rasulullah. begitu pun sebaliknya.” #PantaskanDiri

    Siti khadijah atau Fatimah, keduanya wanita yg luar biasa.

  10. masmul hadi says:

    kalo saya dapat yg mana ya nanti kek? hehehehe
    baru tau kalau ternyata Khodijah yg melamar 🙂

  11. Sakriani says:

    Saya menerima segala ketetapan Allah terhadap saya, entah itu nantinya saya dipertemukan jodoh dengan cara seperti yang dilalui Khadijah maupun Fathimah.

  12. vina says:

    Salam ke mbak Nadhira, selamat menempuh hidup baru semoga sakinah berkah aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.