Kenapa Mesti Jadi Trainer

Andy Sukma LubisBertahun-tahun lamanya saya menghabiskan waktu di kegiatan audit sistem manajemen. Berinteraksi dari satu organisasi ke organisasi yang lainnya. Beranjak dari satu kota ke kota lainnya yang ada di negeri ini. Berkutat untuk urusan audit. Untuk urusan training? Masih sangat minim jam terbangnya bila dibandingkan dengan kegiatan auditnya.

Perjalanan juga yang akhirnya melabuhkan saya pada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang lain? Yup, sesuatu yang lain, namun bukan cinta pada pemilik hati yang lain. Karena kalau untuk urusan yang satu ini, pertumbuhan cintanya tak beranjak ke hati yang lainnya…hehehe.

Percaya kan kalau manusia itu atau semua makhluk hidup mengalami pertumbuhan?

Seperti yang diuraikan di bagian awal dari materi ON kek Jamil, hidup itu bertumbuh. Kehidupan manusia tumbuh dan berkembang. Kecintaan manusia akan sesuatu juga bisa ditumbuh kembangkan. Tiada kata terlambat untuk menanam benih-benih cinta. Cinta di antara sepasang manusia bahkan bisa terlahir kala keduanya sudah memasuki usia yang tak lagi muda. Cinta tak mengenal batas usia. Begitupun dengan kecintaan pada profesi yang dijalani.

Training sistem manajemen yang saya lakukan pun mengalami pertumbuhan. Saya teringat betul saat suatu kali, meminta salah seorang sahabat saya untuk mendaur ulang slide presentasinya.

Dia hanya berkata singkat, “Ndi, slide mu ini…ck ck ck”.

Saya sudah paham maksudnya. Pusing membacanya, karena terlalu banyak informasi yang ingin disampaikan di dalam setiap slidenya. Lingkungan, saya pikir membentuk diri saya menjadi seperti itu. Beberapa kali mengikuti training sistem manajemen, model slide yang dibawakan umumnya “penuh” akan tulisan dan informasi. Termasuk saya sendiri yang akhirnya juga seperti itu. Walau tetap saja, kesalahan bukan pada lingkungannya, tapi kembali pada diri sendiri.

Padahal, slide adalah salah satu tool yang menjadikan sebuah training bisa lebih berkelas. Apa yang ingin disampaikan bisa lebih mudah dipahami dan terstruktur. Kalau ingat saat dahulu, kok ya bisa-bisanya jadi trainer dengan gaya yang seperti itu. Mungkin karena cinta yang belum lagi hadir. Masih menjalankan dengan setengah hati. Tak tahu apa yang ingin dicari.

Belajar dulu deh, belajar lagi dan belajar terus. Cari lingkungan baru, yang itu bisa menjadikan diri kian melompat lebih tinggi. Tidak usah malu, karena malu makanannya orang yang tak mau maju. Sekali lagi, tidak ada kata terlambat untuk melangkah lebih jauh.

Selain sedikit demi sedikit belajar untuk bagaimana bisa punya tampilan slide yang berkelas, rasa ingin berbagi rasanya semakin bergelayut di hati. Ingin rasanya bisa berbagi inspirasi dengan lebih banyak orang. Berbagi hati untuk saling belajar dalam meningkatkan potensi diri. Bagiku, menjadi auditor adalah sebuah pilihan hati. Namun mengisinya dengan yang lain, juga bisa menimbulkan kebahagiaan di hati.

Menjadi trainer, itu bukanlah sebuah pelarian. Bukan karena adanya kejenuhan atau bukan pula karena tak ada pilihan. Trainer bagiku kini, dia ibarat dua sisi mata uang dengan profesi yang sudah dijalankan sebelumnya. Saling mendukung dan saling menguatkan. Makin mencintai kehidupan. Dalam artian, bagaimana kini bisa semakin memaksimalkan hidup, menjadikan profesi trainer sebagai jalan untuk mendapatkan ridho dari Tuhan.

Jika ada yang bertanya, kenapa mesti menjadi trainer? Apakah untuk berbagi inspirasi hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berprofesi sebagai trainer?

Hidup kita di dunia, itu merupakan takdir dari Tuhan. Bagaimana kita menjalani hidup, itu adalah sebuah pilihan dan menjadi trainer adalah salah satu pilihan yang bisa dilakukan. Tak harus menjadi trainer untuk bisa berbagi kebahagiaan melalui inspirasi yang diberikan. Tapi karena porsi waktu untuk berbagi dari diri seorang trainer demikian banyak, kesempatan untuk melakukan hal itu, jelas terbuka dengan lebar.

“Tanpa belajar, tak akan ada yang namanya perubahan. Tanpa perubahan, sama saja artinya dengan mati”.

Salam suksesmulia,

Andy Sukma Lubis

Bagikan:

13 thoughts on “Kenapa Mesti Jadi Trainer”

  1. agustin adi says:

    kerON mas.. bener2 kerON…. salam SehatMulia ini twitter ku.. heheh @agustin_adi

    1. mas Adi juga pastinya kerON…lebih kerON kalau isi tweetnya tak ada kegalauan, Insha Allah di follow…hehehe.

  2. Ayo jadi trainer beneran mas 🙂

    1. Hehehe…iya nih kek. Masih main2 kayaknya ya. Makin enjoy berbagi lewat training.
      Doakan biar semuanya bisa lancar gurunda.

  3. lisa hariyanti says:

    Cita2 jadi trainer masih setengah jalan kek…

    1. mba Lisa setengahnya lagi ke mana ya…boleh dishare?

  4. Mayang says:

    Jadi trainer tuh seru, ya mas Andy…
    Cita-citaku dulu ingin jadi guru. Karena menurutku ‘Gurulah pelita penerang dalam gulita’.
    Guru harus terus belajar agar terus bisa mengajarkan. Seperti nasehat bijak ‘Siapa yang mengamalkan ilmu yang dia ketahui, Tuhan akan berikan yang tidak dia ketahui’

    Dan guru yang tak terikat oleh ruang dan waktu… itulah trainer 😉

    1. Sepakat bu guru…
      Mudah2an bukunya segera terbit dan doakan juga ya, supaya tahun ini buku saya bisa nyusul bukunya mba Mayang.

  5. ayo mas belajar buat slide yang berkelas..

    Kreasipresentasi.com siap

    1. Sudah belajar tapi belum maksimal berguru langsung ke expertnya. Insha Allah tanggal 29-30 Maret nanti akan ikut kelasnya sahabat dan guru saya mas Dhony….

  6. setelah baca tulisannya, jadi pengen jadi trainer nih, daku….

  7. mantul artikelnya gurunda….jd semangat nie untuk terus memantaskan diri terus menerus belajar agar bs jd trainer yang sistematis dan berpengaruh…:)

  8. Ardian says:

    Ternyata pernah terjebak pada kondisi yang sama, dan saat ini berupaya unutk MOVE On mas……..mudah-mudahan Mas Andy masih minat berbagi bagaimana mengenalkan sistem manajemen secara manusiawi……..

Leave a Reply

Your email address will not be published.