Kelelahan Emosi di Rumah

Alguskha Nalendra Pradana SSelama ini kita sudah sering mendengar tentang stress di tempat kerja, atau dalam skala yang tidak terlalu parah biasanya terjadi kebocoran energi emosi di tempat kerja yang menyebabkan kita tidak bisa berkinerja optimal, namun bagaimana dengan di rumah? Apakah mungkin terjadi berdiam di rumah menyebabkan seseorang mengalami kebocoran eneri emosi dan stress? Jawabannya adalah ‘YA’, sangat mungkin.

Meski terdengar ironis tapi begitulah adanya, rumah yag sedianya menjadi sebuah tempat bernaung dan melepas lelah terkadang menjadi tempat yang malah melelahlan bagi sebagian orang. Jika hal ini dibiarkan berlarut – larut, maka hanya soal waktu sebelum keberadaan rumah ini hanya menjadi bom waktu emosi bagi seluruh penghuni rumah. Apa pasal? Karena semua ini terjadi di pikiran bawah sadar dimana disitulah berbagai emosi tersimpan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena itu ada baiknya kita ketahui tiga ciri utama jika seseorang mengalami kebocoran emosi di rumah.

Pertama, yang paling mencolok adalah biasanya rumah menjadi tempat yang dihindari, atau dengan kata lain jika masih memungkinkan untuk tidak pulang ke rumah terlebih dulu maka lebih baik jangan dulu pulang, begitu yang terbersit di benak sang penghuni rumah.

Ingat, manusia selalu mencari pembenaran, bagaimanapun juga menghindari rumah sendiri terasa tidak etis, karena itu untuk membenarkan tindakannya maka sang penghuni rumah akan menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas, entah pekerjaan atau aktifitas lain yang sekiranya bisa meminimalkan durasi ia tinggal di rumah itu.

Tanda kedua, sering mengantuk. Mungkin saat ini muncul pertanyaan di benak Anda, bukankah mengantuk itu wajar? Bukankah bisa saja itu terjadi karena kelelahan? Tenang dulu, memang benar begitu adanya, namun kantuk yang dimaksudkan disini adalah kantuk yang tidak wajar, mengantuk yang berlebihan yang nampaknya di luar batas kewajaran.

Meski terlihat seperti kelelahan, sebenarnya rasa kantuk ini adalah mekanisme pertahanan pikiran bawah sadar untuk bisa ‘lari’ dari kenyataan. Pernah mendengar tentang seseorang yang sedemikian terkejutnya atau tidak bisa menahan emosinya atas kejadian yang menimpanya lantas pingsan? Kurang lebih seperti itulah cara kerjanya.

Tanda ketiga yang juga cukup mencolok adalah menurunnya daya tahan tubuh dan stamina ketika berada di rumah. Aneh memang, namun ada sebagian orang yang ketika berada di tempat kerja terlihat begitu prima dan bugar namun begitu berada di rumah nampak lesu dan tidak punya semangat hidup.

Masih dalam tanda ketiga ini, biasanya ada sakit – sakit tertentu yang tidak biasa yang hanya terjadi di rumah, misalnya sering sakit kepala, sakit badan atau sakit – sakit lainnya yang dirasa tidak wajar. Sekali lagi, semua hal ini sering kali adalah bentuk mekanisme perlindungan dari pikiran bawah sadar.

Mengapa bisa demikian adanya? Pikiran bawah sadar adalah tempat dimana berbagai program tersimpan, salah satunya yaitu program yang paling mendasar dari hidup manusia: program bertahan hidup atau program dasar pelindung. Program pelindung ini bekerja dengan maksud dan tujuan baik untuk melindungi kita dari segala bentuk ancaman, baik itu fisik ataupun emosi. Ketidaknyamanan, rasa takut, cemas, khawatir dan banyak lagi hal lainnya adalah tanda bahwa program ini aktif.

Sebut saja Anda berada di sebuah lingkungan yang bising dan membuat Anda tertekan, program ini akan segera aktif dan memberikan perasaan tidak nyaman, sumpek dan ingin segera berpindah, karena program ini mengetahui bahwa lingkungan ini membuat Anda tidak nyaman secara emosi (diartikan sebagai bentuk ancaman), maka segeralah dikirim sinyal agar Anda segera ‘lari’ dari sana.

Tergantung dari kadar ancaman, rasa yang diberikan pun akan beragam. Jika Anda hendak tampil di depan publik misalnya, dan Anda termasuk orang yang terbiasa tampil di depan publik serta menguasai materi dengan baik, maka rasa yang diberikan oleh pikiran bawah sadar biasanya hanya sekedar waspada dan kehati – hatian, meski itu tetap saja muncul dalam bentuk rasa tegang.

Lain ceritanya jika Anda memang termasuk orang yang tidak percaya diri tampil di depan publik dan tidak menguasai materi yang disampaikan, besar kemungkinan respon rasa yang muncul lebih mengarah kepada rasa takut, waswas, cemas, gelisah dan lainnya yang sejenis, sebagai bentuk mekanisme pertahanan bawah sadar yang tidak ingin Anda dipermalukan di depan publik, maka diberinya perasaan – perasaan itu agar Anda mengurungkan niat Anda.

Salah satu solusi utama menangani hal ini adalah diperlukan kesadaran emosi (emotional awareness) yang ideal. Jika Anda mendapati salah satu dari ketiga tanda di atas terjadi di rumah Anda segeralah introspeksi apa yang terjadi di rumah. Menyadari emosi – emosi terselubung adalah salah satu bentuk pencegahan terbaik.

Selepas Anda menyadarinya temukanlah alternative terbaik untuk meminimalkannya. Jika Anda adalah sosok dominan di rumah, seorang kepala rumah tangga atau orang tua misalnya, maka sadarilah berarti ada sesuatu yang salah dengan diri Anda, karena pada dasarnya penghuni lain di rumah hanya mengikuti aturan yang Anda jalankan, bisa jadi salah satu di antaranyalah yang menekan mereka secara emosi.

Memang diperlukan kebesaran hati untuk bisa menerima dan mengaplikasikan cara – cara itu untuk diterapkan di rumah, namun semua kembali berpulang kepada diri kita sendiri, lebih penting mana, ego Anda pribadi? Atau kenyamanan keluarga yang Anda cintai di rumah?

Semoga bermanfaat.

Alguskha Nalendra Pradana S

Bagikan:

2 thoughts on “Kelelahan Emosi di Rumah”

  1. Taufik says:

    Terima kasih sharingnya Mas. Jadi bahan introspeksi buat saya pribadi.

  2. Sri Wahyuningsih says:

    Subhanallah…ternyata ada ilmunya… Saya pernah menjumpai ssorg dg ketiga ciri itu. Benar2 ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published.