Kejaiban Dibalik Ritual

Rima OliviaPernah berada di lingkungan militer?

Sepertinya setiap saat, mereka terus menerus saling menghormat, persis seperti semut. Lingkungan yang sangat hirarkis, membuat struktur yang sangat jelas: pangkat yang lebih rendah, SELALU memberi hormat pangkat yang lebih tinggi. Sebaliknya, pangkat yang lebih tinggi, SELALU membalas hormat tersebut.

Pernah kah terlintas di benak Anda, untuk apa itu semua?

Benarkah itu semata-mata ritual? Jika hanya ritual, lalu apa gunanya?
Saya iseng bertanya, “Ngapain sih kalo hormat dibales? Jawabannya sungguh tak terduga. Dalam sikap hormat itu, ada komitmen loyalitas, dan membalasnya pun mencerminkan loyalitas. Melalui sikap tubuhnya anak buah menyatakan “Saya menghormati Anda,” sedangkan loyalitas atasan kepada anak buah berarti: “Saya terima penghormatanmu dan saya melindungimu.”

Kalimat yang terakhir ini sungguh tak terduga. Benarkah? Iya. Dalam situasi operasi di lapangan pertempuran, seorang komandan baru duduk setelah memastikan seluruh pasukannya aman. Maka, dalam kehidupan sehari-hari, membalas menghormat artinya juga mengambil tanggung jawab perlindungan itu. Ritual itu dijaga demikian ketat, sehingga jiwa korsa kuat mengikat mereka bahkan sampai mati.

Sebaliknya, pernahkah Anda memalingkan wajah dari seorang pramugari yang dengan wajah bosan memeragakan cara menggunakan pelampung penyelamat? Meski mungkin ia telah melakukannya ribuan kali, bukankah itu selalu penting bagi nyawa? Bukankah mungkin saja ada orang yang baru pertama kali menaiki pesawat dan siapa yang pernah menjamin bahwa pesawat yang dinaikinya akan selamat?

Wajah bosan yang ditampilkan dengan gerakan malas seperti zombie, membuat kita sebagai penumpang berkata: itu hanya ritual belaka.

Seringkali kita meremehkan arti ritual, karena tidak memahami hikmah indah di balik ritual itu. Kita mengira ritual adalah basa-basi nggak penting yang merepotkan. Itu terjadi jika pemahaman terhadap ritual hilang. Gerakan tak berjiwa yang kosong. Padahal, bukankah, agama pun begitu detil mengajarkan ritual yang begitu rapi.

Perhatikan bagaimana Tuhan mengajarkan kita memulai makan dengan doa, menutupnya dengan doa. Mengawali dan menutup pertemuan dengan doa, bahkan keluar dan masuk toilet pun dengan doa. Hidup dijalani dari doa ke doa, seperti halnya sholat yang didirikan dari takbir ke takbir. Alangkah basinya semua yang kita lakukan, jika kita tidak memahami keajaiban ritual itu.

Lalu bagaimana ajaibnya ritual itu? Penelitian tentang ritual, yang dikenal di hampir setiap kebudayaan, memiliki efek powerful bagi mereka yang menjalaninya. Ritual, menurut penelitian, memberikan dampak penyembuhan yang sangat penting kepada pikiran, perasaan dan perilaku.

Setiap peristiwa kedukaan karena ditinggalkan oleh orang yang dicintai, akan lebih mudah dilewati dengan serangkaian acara ritual. Hanya kematian saja? Oh tentu tidak, seorang Michael Jordan, selalu menggunakan celana pendek North Carolina kebanggaannya di balik celana Chicago Bulls-nya, atau Fabien Bartez, si kiper botak Prancis yang kepalanya selalu dicium sebelum bertanding.

Anda pun, mungkin punya baju andalan untuk presentasi, atau sepatu yang paling membuat nyaman dan PD untuk acara penting. Dalam skala kecil, itu pun sebuah ritual personal.
Ambil saja sebuah ritual wisuda sekolah. Nyaris seluruh TK, bahkan kelompok bermain, menyelenggarakan wisuda. Apa bagusnya? Kejelasan, clarity, bahwa aktivitas belajar yang secara resmi dimulai juga secara resmi diakhiri.

Apa efeknya jika tidak ikut? Ada yang ‘menggantung’. Ada energi yang terus merembes, karena tidak tertutup sempurna. Meski kadang dianggap ‘terlalu mainstream’, tidak diwisuda bisa menjadi pengalaman seumur hidup yang tidak terlupakan bagi sebagian orang, dengan cara yang tidak menyenangkan.

Kita memang mahluk kebiasaan. Perhatikan anak kecil, yang jadi gelisah jika tidak tidur dengan piyama kesukaannya, dengan boneka kesayangannya dan berangkat tidur dengan cara yang sama. Rasa aman pada pengulangan itu, juga ditularkannya pada memutar film yang sama puluhan kali, atau minta diceritakan cerita yang sama terus menerus.

Ritual ini, memastikan padanya, bahwa dalam dunia yang chaos ini, ada order ada keteraturan yang membuat nyaman. Ia memiliki sense of control. Jadi, menjaga ritual, terlebih bila menghayati maknanya, sesungguhnya menjaga kebermaknaan nilai-nilai dalam diri kita. Jangan remehkan ritual, menyelami makna ritual membuat kita dapat menghayati perilaku dan lebih ‘hadir’ pada setiap momen kehidupan kita. Sehingga lebih mampu mensyukuri setiap detiknya.

Rima Olivia

Bagikan:

2 thoughts on “Kejaiban Dibalik Ritual”

  1. Mufidah says:

    benar mba dibalik ritual ada efek positif yg didapat tapi hendaknya kita berhati-hati dalam menjalankan ritual krn ada jg ritual yg tdk ada dlm syariat agama.

  2. desman h. saputra says:

    Tulisan yg bagus mbak rima..
    Trims atas pencerahanny.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.