Kebaikan Semu

Share this
  • 419
  •  
  •  
  •  
  •  
    419
    Shares

Dua hari lalu ada seorang suami curhat ke saya. “Mas, istri saya kalau sudah nonton hiburan asal Korea atau sinetron di TV suka lupa sama anak dan suami, saya dan anak-anak ngalah saja. Bagaimana itu mas, tepat tidak tindakan saya?”

Banyak orang yang melakukan kebaikan semu, seolah-olah baik kepada orang lain padahal itu mencelakakan dan merugikan orang yang diberi kebaikan. Suami yang membiarkan istri ketagihan menonton TV, mungkin ia merasa baik tetapi sesungguhnya itu semu. Hiburan itu sekali-kali, bukan rutin setiap hari. Adakah orang yang menjadi hebat karena ketagihan menonton TV setiap hari?

Sesuatu yang perlu diwaspadai bila ternyata Anda lebih menyukai menonton dibandingkan menemani anak-anak belajar. Menonton dua jam tak terasa, menemani anak-anak belajar 20 menit sudah gelisah. Apabila hal ini terjadi boleh jadi pertanda ada yang salah dalam kehidupan Anda. Kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anak tak tergantikan, lebihΒ  prioritas dibandingkan memuaskan ego hiburan yang manfaatnya tak seberapa.

Terkadang ada juga yang protes. “Suamiku egois, ia lebih memprioritaskan pekerjaan daripada urusan rumah,” ujarnya. Namun anehnya, saat suaminya ada di rumah, sang istri justru menyibukkan diri menonton TV ketimbang mengajak ngobrol suaminya. Jadi sesungguhnya, siapa yang egois?

Suami juga ada yang egois, memeras dan menindas istri. Ia tega-teganya “memaksa” istri bekerja dan meminta penghasilan istri untuk keperluan rumah tangganya. Mencari nafkah itu kewajiban suami, bukan istri. Apabila istri berpenghasilan, suami tidak berhak atas penghasilan istri. Jika istri membantu itu atas kerelaan istri, bukan “rayuan” sang suami.

Sang istri yang rela bekerja keras sementara suaminya bermalas-malasan mungkin akan merasa ia istri yang baik. Tetapi menurut saya itu kebaikan semu, memberatkan dirinya dan menjerumuskan suaminya. Suaminya tak memiliki daya juang karena dimanjakan oleh sang istri. Semakin tua, suami semakin tidak percaya diri dan mentalitasnya sebagai lelaki runtuh.

Baca Juga  Tips Menjadi Karyawan Terbaik di Tempat Kerja

Tinggalkan kebaikan semu, lakukanlah kebaikan sejati. Mungkin dalam tahap awal itu memberatkan dan menyakitkan, namun dalam jangka panjang itu menyelamatkan. Lebih baik Anda memberi nasehat dan mengeluarkan energi saat masih muda, daripada hidup Anda semakin berat saat energi Anda sudah mulai meredup, tak berdaya dan akhirnya menjadi beban bagi orang-orang di sekitar Anda.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


kisahInspiratif



Share this
  • 419
  •  
  •  
  •  
  •  
    419
    Shares

38 comments On Kebaikan Semu

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer