Tak Sebanding

Mira MarselinaTepat 3 bulan menjelang kelahiran anak pertamaku, seorang wanita muda berbadan mungil berkulit gelap hadir di kehidupan rumah tanggaku. Saat itulah, wanita itu menjadi bagian dari keluarga kecilku.
 
Saat ini, sudah 5 tahun 8 bulan sejak menjadi bagian dari keluargaku, dia tidak sendiri namun bersama adiknya sejak lahirnya anak keduaku.
 
Hari-hari belakangan ini, aku melihat kesedihan dan kekosongan di sorot matanya, bukan seperti yang biasanya, redup. Sangat terlihat ketika mengasuh kedua anakku, mengerjakan tugas sebagaimana dia di upah untuk melakukannya. Tapi aku tidak berani bertanya, takut menyinggung hatinya.
 
Pagi ini, rasanya ingin menonton TV, entah kapan terakhir memiliki kebebasan untuk memindahkan channel sesuai keinginan hati tanpa ada gangguan, lebih banyak mengalah dan melakukan hal yang lain yang aku anggap lebih penting daripada sekedar nonton. Pikirku, lebih baik memahami suami karena letih mencari nafkah demi keluarga. Atau anak-anak yang sudah bosan dirumah tanpa hiburan karena ditinggalkan orang tuanya bekerja. Atau memberikan kebebasan pada sepasang kakak beradik yang mengasuh anak-anakku.
 
Tapi saat itu, entah kenapa aku sendiri didepan TV dengan remote dalam genggamanku, seolah-olah tangan dan jari ingin memindahkan ke channel yang butuh ditonton, lalu memilih satu per satu channel, dan berhenti pada sebuah berita di salah satu stasiun TV.
 
“Kok bisa ya pembawa berita di TV bilang Pelajar kesurupan, rasanya aneh kok nggak di cek dulu mungkin si pelajar bisa saja dibilang keletihan setelah di cek ke dokter dibanding dibilang kesurupan” spontan aku ajak bicara orang terdekatku, wanita mungil pengasuhku itu.
 
“Bisa kok. Emak Aat hari ini kesurupan” dengan gaya bicara pengasuh anakku ini ceplas-ceplos menjawab, karena memang kita sudah seperti keluarga. Bagi orang baru, ini memang seringkali dianggap galak dan ketus padahal sebenarnya sebaliknya. Pengasuh anakku bernama Atikah, kami biasa memanggilnya Bi Aat.
 
Sekilas tentang kehidupan Bi Aat, sejak kecil dia sudah menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupan keluarganya di kampung Wanayasa, Purwakarta tidak lebih beruntung dibandingkan yang lain. Menghidupi 5 adiknya terasa lebih berat setelah meninggalnya sang bapak 3 tahun yang lalu. Pernah merasakan menahan lapar selama 3 hari atau mungkin lebih karena tidak punya dana dan makan seadanya : sepiring untuk bertujuh.
 
Namun kemauan dan kemampuan dirinya melebih orang kampung setara lulusan SD, sekolahnya terpaksa berhenti karena permintaan orang tua untuk bekerja membantu adik-adiknya, sejak kecil sudah bekerja keras bahkan sampai dengan saat ini. Sebelum bekerja di keluarga kecilku, sejak lulus SD sudah berada ditengah-tengah keluarga suamiku selama 5 tahun, namun setelah itu bekerja ditempat lain. Saat aku membutuhkan jasanya, dia sedang tidak bekerja.
 
Saya melihat sosok wanita hebat didirinya, pintar melayani, pintar mengaji, tekun, disiplin, bertanggung jawab , dan seorang yang pantas didampingi oleh pria yang kuat. Sungguh beruntung laki-laki pendamping hidupnya. Keinginan untuk terus belajar dan maju terlihat jelas disetiap tindakannya. Membaca adalah hobinya, Memasak adalah passionnya, Melayani adalah impiannya.
 
Sang Emak sudah seminggu sakit namun tidak diketahui jenis penyakitnya apa, dan hari ini beliau kesurupan.
 
“Sudah kedokter belum, apa kata dokter?” tanyaku,
 
“Mmh,” Sambil melakukan rutinitasnya, dia hanya menjawab dengan bergumam, tak jelas apa yang kudengar.
 
Aku kembali tidak bertanya, lagi-lagi takut menyinggung hatinya. “Semoga Tuhan memberikan kesembuhan bagi sang emak” doaku dalam hati.
 
Beberapa minggu belakangan ini, mungkin minggu terberat dalam hidupnya. Beberapakali kasus mendera keluarganya. Mulai dari pernikahan sang adik yang telah disiapkan secara matang, kemudian pada hari H nya digagalkan. Atau menghadapi berbagai fitnah yang menyerang keluarganya.
 
Pengasuhku mulai tersadar kini usia tidak memiliki waktu. 20 Oktober 2013, tepat diusia 28 semuanya terbuka. Dia membutuhkan pendamping hidup, yang bersedia mendengarkan keluh kesahnya, yang bersedia membantu menafkahi keluarganya, yang bersedia melayani dengan sepenuh hatinya.
 
Aku butuh istirahat 1 hari setelah 3 hari yang panjang kualami di mengikuti Wanna be Trainer yang berlokasi di Bogor, aku memilih tek-tok. Berangkat pagi, pulang malam seperti hari-hari biasa yang kulewati. Aku percayakan keluargaku kepadanya, seperti setiap hari dia melayani dan merawat keluargaku dengan sepenuh hati.
 
Tiba-tiba disuatu pagi saat ingin buang air besar anak pertamaku berteriak. “Har-rap si-ram to-i-let s-e-te-lah pa-kai,” terdengar terputus-putus.
 
“Hah! Darryl sudah bisa baca, bagaimana mungkin?” terhentak dari pikiranku, sebuah kalimat yang berada di dalam toilet yang sengaja aku pasang untuk alat pengingat. Tanggal 2 November 2013, anak pertamaku menjadi laki-laki seutuhnya, salah satu kewajiban kami sebagai orang tua untuk sunat adalah pilihan yang terbaik.
 
Hikmahnya disaat 7 hari tidak dapat beraktivitas ke sekolah dan bermain, namun dirumah anak pertamaku yang berusia 5 tahun belajar membaca dan begitu banyak kosakata yang diserap anak keduaku yang hampir 2 tahun. Itu artinya adanya komunikasi dan interaksi intensif antara anak-anakku dan pengasuhnya.
 
Antara bahagia dan sedih, dilain sisi kami bahagia karena kedua anakku belajar serap banyak informasi dan ilmu, dilain sisi kami sedih karena bukan dari orang tuanya mereka menerima ilmu dan informasi. Hari itu, banyak yang kupelajari, berusaha lebih untuk memahami satu sama lain, akan sulit aku tetap beraktivitas tanpa sebuah tim yang solid dari rumah yang menjaga keluargaku saat kami meninggalkan mereka, dan aku melewatkan hatinya, mengesampingkan perasaannya demi sebuah loyalitas agar dia selalu menjadi bagian dari anggota keluargaku.
 
Nilai yang kuupah tidak sebanding dengan ilmu dan pengorbanannya, mohon maaf kami mengupah semampu kami. Tak layak menahan, karena rezekimu bukan hanya dari upah, namun waktu dan kesehatan juga menjadi peluang rezekimu. Semoga usaha kami, bisa membuka peluang rezeki sebagai satu ikhtiar mendapatkan pasangan hidup terbaik pilihanNya, demi secercah binar-binar dimatanya dan kebahagiaan di jiwanya.
 
 
Tulisan dikirim oleh Mira Marselina

Bagikan:

6 thoughts on “Tak Sebanding”

  1. BisnisBajuYuk says:

    Ternyata mbak Mira berbakat ya jadi penulis,hebat.. Terus latihan Mbak,semoga semakin menginspirasi Indonesia..

  2. Subhanallah … terima kasih sudah dishare kakek 🙂
    Bisnis Baju Yuk!, terima kasih juga supportnya.
    Doain yaa semua biar bibi disegerakan mendapat pasangan hidup terbaik pilihanNya. Buku Khadijah dan buku bilik-bilih rumah tangga Nabi Muhammad SAW sudah dilahap 🙂 keren banget dech bibi ku yang satu itu.

  3. Aulia Hazmy says:

    Sebuah tim yang kuat adalah tim yg setiap anggota timnya mampu menutupi setiap kekurangan anggota tim yang lain. Ini yang terfikirkan oleh saya setelah membaca tulisan Mba’ Mira. Tim kecil didalam sebuah keluarga hebat seperti keluarga Mba’ Mira akan mampu menjadi gurita yang menjadikan Hebat Masyarakat Indonesia.

    Salam Kenal

    Aulia Hazmy

  4. syarah khaerunnisa says:

    alhamdulillah ya mba pengasuhnya hebat. jarang2 ada pengasuh yg bisa sambil ngajarin anak2. salam buat bi aat mba 🙂

  5. Salam Kenal Mbak Aulia Hazmy,
    Itu yang kurasakan ternyata selama ini banyak sekali kemudahan, cuma buta untuk melihat lebih dekat.
    Alhamdulillah, dan selalu bersyukur.

  6. princess amanda @holistic_center says:

    tulisannya kerON bangeeeeeet my dearest sister…hayuuu atuh di tunggu tulisannya lainnya ya…hidup TE…:)

    beruntung banget punya asisten RT seperti itu…
    semoga cpt dpt jodoh ya bwt asistennya sis…

Leave a Reply

Your email address will not be published.