Jebret

Share this
  • 223
  •  
  •  
  •  
  •  
    223
    Shares

Saat menonton semifinal AFF usia 19 tahun di MNC TV, saya dan anak saya tertawa bersama karena komentatornya berkata “jebret”. Setiap terjadi kemelut di depan gawang, dan pemain menendang bola dengan keras, sang komentator berteriak “jebret” atau “jeger”. Awalnya kata-kata tersbut terdengar aneh, namun semakin lama saya semakin menikmatinya.

Apalagi saat final, jebret dan jeger menjadikan suasana menonton menjadi lebih emosional. Bukan hanya itu, sang komentator juga sering mengutip kata-kata mutiara yang diucapkan para pahlawan nasional. Salah satunya yang saya ingat adalah pesan dari pesan Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman: Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tapi jiwaku akan tetap hidup!

Pilihan kata sang komentator menjadikan suasana menonton menjadi heroik, apalagi kemudian Evan Dimas dan tim Garuda Muda menjadi juara. Kata-kata ternyata bisa menjadi ciri yang melekat pada seseorang. Saya yakin pasti Anda tahu kata “cetar membahana” melekat pada siapa. Anda juga pasti tahu istilah “statusisasi kemakmuran dan labil ekonomi” melekat pada nama seseorang. Sewaktu saya kecil dulu, ada pelawak bernama Gepeng yang memiliki ciri khas dengan sering berkata: Untung ada saya.

Kata memang bisa menjadi ciri seseorang. Cobalah pilih kata yang punya “nilai” dan memberikan pesan positif yang akhirnya melekat kepada Anda.

Di dunia twiterland, pasti Anda familiar dengan kata “udah putusin aja” yang melekat pada sosok muda Felix Siauw. Seorang mualaf yang ilmunya kini sudah jauh melebihi saya. Hehehe… Kata “udah putusin aja” itu ada “nilai” yang hendak disampaikan Felix Siauw, yaitu jangan pacaran.

Di dunia bisnis, pasti Anda kenal Jack Welch. Saat Jack Welch memimpin General Electric (GE) dia berkata, “Jadilah nomor satu atau nomor dua.”

Baca Juga  Pernikahan itu Ibadah Terlama

Apa pesan dan “nilai” yang hendak disampaikan lelaki plontos tersebut? Pesannya adalah, semua perusahaan yang menggunakan bendera GE harus menjadi nomor satu atau dua di dunia. Anak perusahaan yang tidak punya potensi untuk menjadi nomor satu dan dua, dijual atau ditutup saja. GE hanya fokus menangani perusahaan yang siap menjadi nomor satu atau dua di dunia. Hasilnya? Tentu Anda tahu bukan?

Teman-teman saya menjuluki saya Inspirator SuksesMulia. Karena hampir semua materi training yang kami kemas mengajarkan untuk Sukses (berhasil) dan Mulia (memberi manfaat). Selain itu, saya juga membentuk Komunitas SuksesMulia, Klub SuksesMulia dan berjuang terwujudnya peradaban SuksesMulia di negeri ini.

Nah, coba renungkan sejenak. Kata apa yang punya “nilai” dan itu melekat pada diri Anda?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


Wanna be Trainer, Bogor, 15-17 November 2013



Share this
  • 223
  •  
  •  
  •  
  •  
    223
    Shares

29 comments On Jebret

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer