Jangan Terlalu Rumit

Share this
  • 120
  •  
  •  
  •  
  •  
    120
    Shares

Seorang Minang merantau ke Jakarta. Ia memulai usahanya dari kecil dan terus bertumbuh hingga perusahaannya beranak pinak. Namun, ia tetap menjalankan bisnisnya dengan sangat sederhana: Uang masuk disimpan di toples, uang keluar (untuk pembayaran) disimpan di kaleng biskuit.

Suatu hari, anaknya yang baru lulus sekolah bisnis dari Harvard University bertanya, “Ayah ini kuno amat sih. Bagaimana ayah bisa mengelola perusahaan dengan cara tradisional seperti itu? Bagaimana ayah tahu berapa keuntungan perusahaan ayah?”

Sambil mengunyah  sate padang sang ayah menjawab, “Anakku, ketika pertama kali datang ke Jakarta, aku tak punya apa-apa kecuali baju dan celana yang aku pakai. Sekarang, kakak pertamamu sudah menjadi pengusaha besar. Kakak keduamu sudah menjadi dokter spesialis jantung. Sementara adikmu masih kuliah di Oxford University. Dan kamu baru lulus dari salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia.

“Aku tahu ayah, tapi…”

“Aku dan bundamu setiap tahun umroh. Kami tinggal di perumahan mewah. Kami pakai mobil yang bergengsi keluaran terbaru. Perusahaan ayah terus bertambah. Perlu kamu catat, ayah dan bundamu tidak punya hutang sama sekali. Jadi sekarang kau jumlahkan yang ayah sebut tadi kemudian kurangkan dengan baju dan celana, maka itulah keuntungan yang kita dapat selama ini…”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Baca Juga  Seni Leadership: Etos Kerja Semu

Share this
  • 120
  •  
  •  
  •  
  •  
    120
    Shares

34 comments On Jangan Terlalu Rumit

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer