Jangan Berkata, “Hanya Doa”

Share this
  • 13
  •  
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares

Mungkin sebagian dari Anda pernah berkata atau mendengar, “Maaf hanya bisa berkirim doa.” Kata “hanya” seolah menunjukkan bahwa doa adalah hal yang sepele atau tidak prioritas padahal doa adalah hal yang sangat penting dan menentukan. Begitu lupa berdoa banyak hal yang tidak kita harapkan muncul berdatangan. Saya akan sedikit berbagi apa yang terjadi pada kehidupan saya pekan lalu saat lupa berdoa.

Kamis dan Jumat pekan lalu, kami mengadakan “Kubik Leadership Training: Impaction” di Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta. Sesi satu hingga sesi ketiga 74 peserta enjoy dan menikmati namun masih di bawah standar yang kami harapkan. Setelah kami evaluasi, ternyata kami lupa berdoa sebelum acara dimulai. Atas inisiatif ketua tim Riset and Development Kubik, semua tim dikumpulkan dan kami berdoa bersama. Hasilnya? Sesi ke empat menjadi sangat luar biasa, baik bagi kami maupun bagi 74 peserta yang hadir di training itu.

Sabtu, pukul 03.00 dinihari, saya menuju bandara untuk selanjutnya ke Palu, memberikan training sesi ketiga dan keempat bagi insan perbankan se-Sulawesi Tengah. Karena terburu-buru saya lupa berdoa. Dan, Anda tahu apa yang terjadi? Dari ruang tunggu menuju pesawat kami harus berjalan kaki di saat sedang hujan. Ironisnya, maskapai penerbangan yang kami tumpangi tidak menyediakan payung. Menyedihkan bukan?

Tidak hanya berhenti disitu, pesawat kami pun urung mendarat di Palu karena cuaca buruk. Pesawat yang sudah hampir mendarat dipacu lagi untuk terbang menuju Makasar. Usai rehat kurang lebih dua jam di Makassar, pesawat siap terbang ke Palu, namun ternyata ada delapan penumpang yang tidak kunjung datang, kami pun menunggu kedatangan mereka hampir satu jam di dalam pesawat.

Baca Juga  Kritikus itu Penting

Setelah mereka datang, ternyata satu dari delapan orang yang merupakan rombongan gubernur itu memutuskan tidak melanjutkan penerbangan. Padahal, ada bagasi atas nama yang bersangkutan di pesawat. Kami pun harus menunggu proses itu tuntas. Hiruk pikuk penumpang di dalam pesawat tidak juga mempercepat proses keberangkatan. Sang pramugari berulang-ulang berkata, “Ini prosedur bapak ibu. Tidak boleh ada bagasi atas nama penumpang tapi penumpangnya tidak ada.”

Dalam suasana batin yang tidak menentu, ditambah ketidaknyamanan karena saya pasti terlambat sampai tempat training, saya merenung, “Gerangan apa yang terjadi sehingga saya banyak mendapatkan hal-hal buruk hari ini?” Jawabnya singkat, “Saya lupa berdoa sebelum berangkat.”

Minggu, pukul 08.35, saya sudah mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Saya langsung menuju Sahid Hotel karena menjadi nara sumber bersama Prof. Didin Hafidhuddin dan KH Bachtiar Nasir. Sebenarnya, saya seharusnya tampil pukul 14.00 hingga 15.30 tetapi karena Prof. Didin datang terlambat saya tampil lebih cepat pukul 12.30 hingga 14.00.

Kok, keajaiban ini bisa terjadi? Boleh jadi karena saat menunggu sembari mendengarkan inspirasi dari KH Bachtiar Nasir saya berdoa berulang-ulang, “Ya Allah, lancarkan perjalananku pulang hari ini, karena aku ingin berbuka puasa bersama dengan keluargaku.” Dan, alhamdulillah, 20 menit sebelum waktu berbuka, saya sudah tiba di rumah.

Jangan sepelekan doa, sebab walau cara kerja doa tiada tampak namun ia berdampak dalam semua aktifitas yang kita lakukan. Percayalah..

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook


Share this
  • 13
  •  
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer