Izinkan Bapak Belajar

Mas Asa

Mas Asa

Saat saya sedang duduk santai di beranda, istri saya menghampiri dan menemani untuk ngobrol berbagai hal. Setelah cukup lama ngobrol, dengan lembut istri saya berkata, “Mas Asa [19 tahun, anak kedua kami] kemarin protes kepada bapak melalui saya.”

Setelah terdiam sejenak istri saya kemudian melanjutkan, “Saat mas Asa punya ide bisnis, lalu disampaikan dengan penuh semangat ke bapak, eee.. bapak malah mencari kelemahan ide dan gagasan bisnis itu. Walau mas Asa menyadari idenya itu ada kelemahan, tetapi seharusnya ia diberi apresiasi dulu baru dikritisi.”

Mendengar penjelasan istri saya tersebut saya menarik nafas panjang sembari mengingat saat Asa mempresentasikan ide bisnisnya. Anak lelaki saya ini ingin mengembangkan bisnis makanan khas daerah untuk kemudian diekspor ke berbagai negara. Ketika itu saya memang fokus menyerang idenya dengan mengatakan pasar dalam negeri masih luas, mengapa harus ekspor, bla bla bla…

Usai diskusi dengan istri, saya menyadari bahwa ternyata saya belum menjadi seorang ayah yang baik. Seharusnyalah, ide sekecil apapun yang disampaikan seorang anak kepada ayahnya diberi apresiasi dan penghormatan yang pantas.

Apalagi sebelum presentasi anak saya sudah belajar dan mempelajari kelayakan bisnisnya serta berkonsultasi dengan banyak ahli. Oleh karena itulah Asa yakin dengan ide dan gagasannya. Sayang, ide itu dipatahkan oleh saya, ayahnya sendiri.

Sebagai orang tua saya masih perlu terus belajar. Saya harus tahu kapan saatnya memotivasi, kapan saatnya mengkritisi. Sebagai orang tua, saya juga harus belajar kapan saatnya memberikan komentar dan kapan saatnya “berkelakar”.

Sebagai orang tua, saya perlu belajar kapan saatnya memberikan pelajaran dengan lisan dan kapan saatnya membiarkan anak-anak dapat pelajaran dari sekolah kehidupan. Memang, pelajaran dari sekolah kehidupan terkadang berupa kegagalan dan penderitaan tetapi itu diperlukan bagi kematangan anak-anak dimasa yang akan datang.

Duhai anakku Asa, tumbuh dan berkembanglah sesuai dengan zamanmu. Sementara bapak yang merupakan produk masa lalu ini akan terus belajar memahami perkembangan eramu agar bapak tidak salah dalam mendampingi perjalanan hidupmu. Maafkan bapakmu, izinkanlah bapakmu untuk terus belajar menjadi orang tua yang tepat bagimu.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

36 thoughts on “Izinkan Bapak Belajar”

  1. Andri Prayudi says:

    Subhanallah… menginspirasi sekali buat kita semua orangtua. Semoga bisnis mas Asa diberikan kemudahan utk berkembang dan menghasilkan rezeki yg berkah utk sesama. Terima kasih kakek JA yg sdh sharing kisah ini.

  2. hilmi says:

    cool family.

  3. iyu says:

    Terimakasih pelajarannya beh, jadi masukan yang berarti agar saya menghindarinya di kemudian hari. Belajar memang ga ada abisnya ya beh. ˆ⌣ˆ *peluk

    1. Terus maju mas. Pelukanmu masih terasa hingga sekarang :). Salam SuksesMulia

  4. dika says:

    Masya Allah,, kereeenn,, baraakallaahu fikum untuk bapak sekeluarga 🙂

  5. Rahmat E. Siregar says:

    Terima kasih, Kek. Pelajaran pagi ini mudah-mudahan menjadi bekal bagi kami yang jam terbangnya belum sebanyak Kakek. Semoga ilmu ini melekat di memori saya sebagai upaya mendidik anak yang usianya masih terpaut jauh dengan mas Asa. Teruslah menginspirasi Indonesia…

    1. Terima kasih doa dan perhatiannya ya. Salam SuksesMulia

  6. inspiratif mas, mari kita dukung ide Asa yuk sukses mulia

    1. Tanggal 22 saya ke Bandung kang, ayo kita jumpa 🙂

  7. any says:

    kakek Jamillll….
    *berkaca-kaca*
    baru tadi subuh membayangkan bagaimana nanti menjadi orangtua sekaligus sahabat bagi anak ( padahal menikah saja belum 😀 ). ngena!

  8. viviana says:

    Another inspiring page dari kakek jamil..
    Sama dg yg selalu papa saya bilang..menjadi orang tua itu ga pernah cukup ilmunya..dan ilmu papa ga akan cukup buat anaknya ke depan..
    Thanks kek!

  9. Bang Tono says:

    Terimkasih Pk Jamil, sebuah pembekalan yg luar biasa buat sy dalam mendidik anak kedepan…

  10. nggakpapa Kek, kadang anak muda perlu dibikin PUSING dulu, baru nanti disupport habis-habisan agar cepet sampe ke PUNCAK… Puncak Pusingnya maksudnya… hehehee

    1. Terima kasih ilmu “rusuh” nya untuk anakku Asa. Hehehehe

  11. pety puri says:

    tidak banyak orangtua yang mau langsung “menyadari dan belajar-kembali” ketika diingatkan sekali saja oleh orang lain. Tapi kakek melakukannya. Alhamdulillah 🙂

  12. fazar says:

    Kakek mirip dgn ayah saya, yg suka mengkritik ide2 anaknya sebelum mengapresiasinya 😀 Maksih kek inspirasinya, Akan dijaddikan ilmu untuk mendidik anak2 saya kelak

  13. muhsad_jokopur says:

    kritik atau koreksi tetap harus diberikan biar wawasan sang anak bertambah cuman harus dipastikan apapun kritik yang diberikan dia tetap menjalankan programnya
    karena bagaimanapun ayah lebih mengerti kondisi anaknya

    kritik atau koreksi tetap harus diberikan ketika sang anak mulai “menyerah” atau mulai “menurunkan semangat”, karena bagaimanapun usaha pertama adalah usaha yang kemungkinan kecil bisa “berhasil”
    mudah mudahan tidak berhenti karena usaha pertama “gagal”

    1. Akur pak, bukan hanya kritik tapi kita juga harus memberikan alternatif

  14. Jazakaullahu khair mas Jamil. Mari berusaha Adil terhadap orang lain terutama keluarga, karib kerabat dan orang sekitar….

  15. Yaya says:

    anaknya ganteng pak 🙂

  16. @danhudaya says:

    Kekuatan hati Kek JA luar biasa… *salim

  17. pinyo says:

    mas asa cakep…itu turunan..turunan mamah nya…hehehe*sungkem…:D

  18. Luar biasa, mendapatkan pencerahan kembali setiap kali membaca pelajaran2 kehidupan dari gurunda tercinta.

    Jadi muncul rasa kangen pada istri dan anak2ku yang ada di rumah pagi ini. Semoga diri ini juga bisa menjadi orang tua yang bijak. Terus belajar dari kebaikan2 orang lain. Agar bisa memaknai segala hal yang terjadi pada kehidupan untuk bekal menjadi seorang ayah yang lebih baik…

    Makasih kek…

  19. Tati Noor says:

    Luar biasa!!! betapa rendah hatinya pak Jamil sbg orang tua. Makasih banyak pak Jamil untuk pelajaran mjd ortu yang baik pagi ini. :))

  20. agus karomah says:

    (y)
    kata orang jawa ‘APIK TENAN’
    kata orang jawa ‘SAE SANGET’
    kata orang jawa ‘ELOK MEN’
    dan masih banyak yang lainnya

    jazakallahu khairan wa barakallahu fiykum ya aba asa..

  21. anne says:

    harusnya bapak dan ibu saya baca ini

  22. Levana says:

    ingin menjadi bagian dari keluarga kakek jamil.. :):)

  23. Vinnie says:

    Benar Pak, jangan pernah membatasi mimpi anak muda sesuai sudut pandang kita, karena bukankah kita capek2 menyekolahkan dia salah satu tujuannya agar dia bisa berpikir dan melihat jauuhh lebih luas dan lebih besar dari yang kita bisa

  24. Very Inspiring kek, thanks very much, Meneteskan air mata terhadap orang tua yang selalu belajar

  25. Zuhandri says:

    Baru sempat baca artikel ini. Dan..sukses bikin mata berkaca.

    Ayah yg baik. Keluarga yg inspiratif.

    SalamSuksesMulia

  26. Ayah keren dan luar biasa.

    Salut.

  27. sunardi says:

    saya belajar banyak dari artikel di atas. Terima kasih kek Jamil.
    Salah satu ketulusan meminta maaf kepada anak. Bagi saya mengharukan. Semoga sukses selalu tuk kek Jamil dan keluarga. Amin.

  28. Asep Setiaji says:

    Alhamdulilaah, terima kasih inspirasinya pak, rasanya setiap bertemu dg bapak pun selalu haus dengan tausyiah dan inspirasinya. Mudah2an ukhuwah kita senantiasa terjalin karena kebaikan…

  29. Alefiko says:

    Ayah yang bijak, adalah ayah yang mendengarkan dan memberi masukkan 🙂

  30. Abrar says:

    Subhanallah, semoga kita mampu menjadi seorang pembelajar sejati, meskipun kita harus belajar dari anak-anak kita ataupun orang yang lebih muda dari kita. Salam mas Jamil…

Leave a Reply

Your email address will not be published.