“Ini Budi”

“Ini Budi”, inilah kira-kira kurikulum paling awal ketika aku belajar mengeja hingga membaca saat masih di bangku sekolah dasar. Kata “Ini Budi” itu begitu melekat hingga saat ini, dan ternyata kurikulum itu pun sempat lama sekali menjadi kurikulum tetap untuk belajar mengeja dan membaca di bangku sekolah dasar. Terkadang muncul dibenakku kenapa harus nama “ Budi” yang menjadi ikon tersebut, kenapa tidak Bambang, Ujang ataupun Jampang, toh nama-nama tersebut juga nama asli Indonesia. Tapi biarlah mungkin saat itu sang penulis buku pelajaran, lebih nyaman dengan nama “Budi”. Atau bisa juga nama “Budi” merupakan nama yang paling sederhana, mudah di ingat dan di eja.

Tapi memang benar “Budi” adalah nama yang cukup singkat dan mudah untuk di ingat siapapun tak terkecuali untuk anak-anak. Mungkin di negri ini tak terhitung berapa jumlah nama orang Indonesia dengan nama Budi, begitu pasaranya nama Budi, bahkan aku sempat menghitung brapa banyak jumlah temanku yang bernama Budi dan ternyata lumayan banyak sekitar diatas 30 Orang. Dari sekian banyak temanku yang bernama Budi, ternyata tak satupun beridentitas orang bule dan sepertinya nama Budi memang tak cocok untuk bule. Mungkin cukup unik juga kalo ada orang bule bernama Budi, kalo pun ada pasti bule lokal.

Tapi jika kembali ke masalah kurikulum membaca pada jamanku dulu, Kata “Ini Budi” memang cukup menjadi sebuah fenomena yang tak bisa dipungkiri keabadianya untuk beberapa zaman. Sebuah keabadian sejarah dunia pendidikan yang bakal menjadi kenangan masa lalu yang tertimbun dengan kurikulum baru namun tetap tak terlupakan.

Kalau menilik dari makna kata “Budi”, memang berarti sesuatu yang baik. Budi sebagai kata benda merupakan sesuatu yang berati sebuah prilaku atau karakter yang baik. Dan jika menjadi kata sifat dengan awalan ber-Budi, maka menandakan subyeknya adalah orang yang memiliki karakter atau prilaku kearifan dan dapat juga diartikan memiliki akal yang baik. Sebuah kata mem-Budi-dayakan dalam kalimat ini, juga berarti sebuah kemampuan.

Jadi begitu luhurnya makna kata “Budi” dalam bahasa nasional. Sehingga wajarlah jika kurikulum awal pada zamanku dulu menggunakan kata “Budi” untuk sebuah nama atau sebuah simbolisasi yang mudah di tangkap dan di eja serta dipelajari karena maknanyapun begitu bagus terutama bagi anak-anak yang sudah mulai belajar membaca.

Jika di Indonesia ada nama “Budi”, mungkin di negara barat ada nama “John”. Tapi aku kurang paham filosofi Kata “John”. Yang kuketahui selain untuk nama seseorang, Jhon juga sering digunakan untuk memanggil seseorang yang belum diketahui namanya, mungkin bisa juga bermakna Bung. Bahkan terkadang kata “John” juga bisa diselewengkan menjadi makna kalimat Slang yang bermakna negative. Tapi di Indonesia tak sedikit yang menggunakan nama “John” untuk sebuah nama yang di kombinasikan dengan nama Indonesia.

Sama halnya dengan kata Budi, ternyata kata John juga menjadi kurikulum yang sering di ajarkan di negara barat untuk kalangan anak-anak dalam memahami bacaan. “Ini Budi” atau “This is John” kira-kira begitu.

Jika orang Indonesia banyak yang menggunakan nama Budi karena paham arti nama tersebut, dan orang barat tidak ada yang menggunakan nama Budi karena tidak paham arti nama tersebut serta mungkin tidak lazim mereka pakai nama itu. Tetapi orang Indonesia banyak yang menggunakan nama John.

Mungkin saja jika orang barat tahu dengan baik, arti dan makna kata Budi, maka tak menutup kemungkinan suatu hari nama Budi menjadi go internasional. Misalnya Budi Shakespear, Budi Gonzalles, Budi Inzagi, Budi Ferguson, Budi Klinsmann, Budi Yamamoto, dan Budi-Budi yang lain.

Trimakasih
Windtra

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.