Ilusi Kehidupan

Hidup itu perpaduan antara kebahagiaan dan penderitaan. Sebagian besar kita pasti ingin mendapatkan kebahagiaan dan menjauh dari penderitaan. Namun terkadang karena ilusi kehidupan kita melakukannya secara terbalik.

Para pecandu narkoba, misalnya, mengira bahwa dengan menjadi pengguna dia akan merasakan kebahagiaan dan ketentraman. Padahal yang terjadi adalah penderitaan yang semakin memuncak. Ia akan makin tersiksa dan tergantung dengan obat-obatan terlarang itu. Biaya hidupnya pun semakin mahal.

Begitu pula ada orang yang mengira olah raga itu membuat badan capek dan lelah. Yang mereka bayangkan adalah penderitaan. Padahal, olah raga membuat badan menjadi lebih bugar dan sehat. Dampak lebih lanjutnya tentu akan menambah kebahagiaan.

Jangan tertipu dengan ilusi kehidupan. Karena bila kita tertipu maka dalam jangka panjang penderitaanlah yang kita dapatkan. Kita harus memahami hakekat setiap perbuatan secara mendalam, agar tidak salah memaknainya.

Saya dulu pernah terjebak dalam ilusi kehidupan. Ketika SMP ada seorang teman yang sering meludahi tangan saya. Kenapa? Karena, setiap pagi saya harus bekerja memungut latex (getah) yang sudah membeku di perkebunan  karet. Akibat pekerjaan ini maka tangan saya bau. Siangnya, di sekolah, teman saya itu memanggil saya, mencium tangan saya, kemudian meludahinya.

Dendam dan sakit hati saya kepadanya begitu lama. Saya selalu menghindar berjumpa dengan dia. Saya juga  menjaga jarak. Bila ingat wajahnya saya muak dan sakit hati. Sampai tamat kuliah saya masih belum mau memaafkannya. Menurut saya, memaafkan kesalahannya adalah merendahkan martabat saya.

Ilusi kehidupan itu menjebak saya begitu lama. Sungguh amat menyiksa… Sampai suatu saat saya tersadar. Saya berkunjung ke rumahnya di Lampung Selatan. Bukan sekadar memaafkannya, saya memberinya hadiah lebaran. Saya juga menganggapnya salah satu guru kehidupan tebaik dalam hidup saya. Hasilnya, dia peluk saya erat-erat sambil berkata, “Jamil, mulai hari ini kamu adalah saudara saya.” Ya, inilah makna sesungguhnya dari memaafkan, rasa bahagia dan juga menambah saudara.

Pahamilah hakikat kehidupan dengan sebenarnya agar Anda tidak hidup dalam ilusi kehidupan yang menyiksa…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

14 thoughts on “Ilusi Kehidupan”

  1. Anggit Setyaningsih says:

    Sy smkn kagum dg kau om..bener2 mulia bgt!!
    Sy pngn bljr bnyk dg omJamil..smoga suatu saat bs brtemu lagi.

  2. ahmad rifai says:

    luar biasa…inspiratif sekali..nuhun bapak jamil 🙂

  3. kenny says:

    Subhanalloh, gak mudah yaa pak membuat hati legowo, termotivasi karena juengkel (saking jengkelnya) pernah saya alami, smg kita sll dalam ridhoNya amiiin

  4. kenny says:

    Subhanalloh…terimakasih ats sharingnya, gak mudah yaa pak membuat hati legowo, termotivasi karena juengkel (saking jengkelnya) pernah saya alami, smg kita sll dalam ridhoNya amiiin

  5. Jamil says:

    Anggit boleh jumpa saat saya ke Solo ya. Ahmad Rifai, terim kasih ya. Salam SuksesMulia. Jamil Azzaini

  6. Budi Santoso,S.Sos says:

    Kadang kita sadar bahwa itu adl ilusi, tp karena bisikan iblislah yg kadang memaksanya utk tetap bertahan dgn sikapnya. Salam suksesMulia.

  7. Andi N says:

    Kenapa kalau di mention twitter ga dipernah di balas ya? apa krn follower saya belum banyak? jadi tdk berpengaruh pendapat yg sy utarakan?

  8. udet says:

    Hamdalah..butuh latian kerass untuk memaafkan pak, salut !!

  9. Ano says:

    Sungguh Mulia.
    Salam sukses mulia untk semua.
    Berkunjung y ke blog saya.
    Ano #BandEntrepreneur

  10. “Ilusi kehidupan itu menjebak saya begitu lama. Sungguh amat menyiksa… Sampai suatu saat saya tersadar. Saya berkunjung ke rumahnya di Lampung Selatan. Bukan sekadar memaafkannya, saya memberinya hadiah lebaran. Saya juga menganggapnya salah satu guru kehidupan tebaik dalam hidup saya. Hasilnya, dia peluk saya erat-erat sambil berkata, “Jamil, mulai hari ini kamu adalah saudara saya.” Ya, inilah makna sesungguhnya dari memaafkan, rasa bahagia dan juga menambah saudara.

    Pahamilah hakikat kehidupan dengan sebenarnya agar Anda tidak hidup dalam ilusi kehidupan yang menyiksa…”

    —->
    masya Alloh i’m crying when i read this

  11. piyu says:

    Duh terimakasih banyak pak jamill…sungguh saya belajar ilmu kehidupan ini dari bapak…betapa saya juga sudah lama terjebak ilusi kehidupan…maturnuwun bapak untuk ilmunya…wah saya pingin banget bisa belajar dari bapak…kapan ada acara ke bali pak…

  12. kharisma says:

    bagusnye… hebat2 makasih mas brow.
    .trimakasih

  13. dian says:

    Tertipu dg sikap yg “tidak mau memaafkan” Fyuh, makasih pak..

  14. Nilam Latif says:

    Saya pun pernah mengalami hal ini…
    Tidak berdamai dgn org yg telah melukai kita membuat hidup kita tersiksa.
    Stelah memaafkan mereka dan menjalin tali silaturahim kembali, ternyata memaafkan itu indah dan damai…

Leave a Reply

Your email address will not be published.