Ibundaku dan Batik

Dindin AwaludinSejak kecil seringkali kulihat batik dengan berbagai motif. Aku begitu menyukai batik karena keunikannya. Namun kini berbeda, aku tak hanya menyukainya. Aku bangga memakai batik, batik itu Indonesia.
 
Ibundaku bercerita “Nak, saat kamu kecil ibu sering menggendongmu dengan kain batik”. “Batik motif apa Bu?” tanyaku polos. Ibu jawab “Ga tahu, nak. Pokoknya ibu suka sama batik. Terutama saat ibu menggendongmu”.
 
Kini aku telah dewasa, saatnya untuk membahagiakan ibundaku. Saatnya berjuang mati-matian untuk ibunda. Walaupun aku tahu, sehebat apapun pengorbananku takkan pernah menyamai pengorbanannya untukku. Takkan pernah bisa!
 
Saat usiaku beranjak 17 tahun, aku berjualan keliling setelah pulang sekolah. Aku berjualan madu stik, banyak penolakan yang kuterima. Namun ada pula yang mencaci “Ngapain dagang ginian? Ga bikin kaya!”. Tak kudengar cacian itu, karena satu niatku: Membahagiakan Ibundaku.
 
Selama satu pekan tiap pulang sekolah aku berjualan. Ya, aku masih berseragam putih abu. Tak ada rasa malu dan gengsi, semua demi ibundaku.
 
Syukurku pada Allah, setelah melewati berbagai rintangan akhirnya maduku terjual habis. Aku meraup laba Rp50000, ya sedikit tapi ini hasilku. Kuberikan uang yang tak seberapa itu untuk ibundaku. Ibu begitu terharu mendengarkan ceritaku saat berjualan, ia terima uang itu dengan tangis peluk bahagia.
 
Seminggu kemudian, ibundaku memakai pakaian baru. Pakaian batik yang lagi-lagi, unik.. “Bu punya batik baru nih.. Beli dimana? Kan ibu ga punya uang buat beli batik sebagus itu..” tanyaku heran.
 
“Ini uang darimu, Nak! Uang jualan madumu. Ibu beli kain batiknya dan ibu jahitkan di tukang jahit pakaian batik. Ini semua hasil jerih payahmu nak. Makasih yaa..” Jawab ibundaku.
 
Memang batik yang tak seberapa harganya. Namun kini aku bahagia melihatnya bahagia. Setelah 7 tahun lalu ia sedih jika melihat batik. Ia sedih dan menangis ketika itu melihat kain batik yang menutupi jenazah adikku yang cantik. Semoga adikku bahagia di SurgaNya nanti.
 
 
Semoga aku bisa bahagiakan ibunda. Selamat hari ibu! 🙂
 
Tulisan ini ditulis ketika hari ibu kemarin. Tulisan ini menghasilkan satu helai kain batik dari Sidji Batik yang selalu kek Jamil Azzaini pake saat mengisi training 🙂
 
 
Salam SuksesMulia
 
Tulisan dikirim oleh Dindin Awaludin

Bagikan:

13 thoughts on “Ibundaku dan Batik”

  1. Terharu saya.. salam buat ibunya 🙂

    salam sukses mulia

    1. Terimakasih mas 🙂

  2. trasmianto says:

    cuma mau bilang “ijin review di blog sy” kebetulan ini tulisan terbaru si mbah

  3. Subhanallah, Semoga bisa terus membahagian Ibunya.

    1. Aamiin.. Terimakasih 🙂

  4. Thanks for inspiring story, Mas Dindin. Masih ingat saya ?

    1. Sama-sama. Terimakasih juga mas 🙂

  5. eko wardhana says:

    Terima kasih atas tulisannya mas Dindin……,semoga usahanya maju teruus

    1. Sama-sama. Terimakasih mas. Aamiin..

  6. Alhamdulillaah. Ternyata tulisan saya diposting. Terima kasih kek Jamil 🙂

  7. Wuihhhh….kerON.
    Ibumu pantas untuk bangga punya anak seperti mas Dindin. Semoga keberkahan diberikan utk ibunda tercinta. Sukses mulia untuk mas Dindin.

    1. Aamiin.. Terimakasih mas Andy, guruku.. Semoga SuksesMulia pula untukmu guru 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.