Hidup Sepenuhnya

Saya baru saja pulang dari Lampung, menengok orang tua sekaligus adik saya yang tertimpa musibah. Adik saya melahirkan putra ketiga yang hanya bertahan 3 hari menghirup udara dunia.

Saat jumpa langsung saya memeluk dan menciumnya. Adik saya yang bernama Siti Rohimah itu tersenyum sambil berucap, “Semua yang diberikan Allah adalah yang terbaik.” Mendengar ucapan adikku Siti, langsung pikiran saya melayang pada kesabaran para nabi dan orang-orang soleh saat mendapat ujian.

Saya juga teringat kata-kata Jimmy Valvano, seorang pelatih basket hebat yang menderita penyakit kanker.  Saat kanker makin parah ia berkata: “…kanker dapat saja merenggut kemampuan fisik saya. Namun kanker tidak dapat menyakiti pikiran saya, tidak dapat menyakiti hati saya, dan tidak bisa menyakiti jiwa saya.”

Menurut Jimmya Valvano ada 3 hal yang harus kita lakukan setiap hari.  Pertama, tersenyum. Anda harus tersenyum setiap hari. Kedua, adalah berpikir. Anda harus meluangkan waktu untuk memikirkan sesuatu. Ketiga, adalah menangis. Anda harus menyalurkan emosi Anda dalam tangis.

Menangis tidak harus karena kesedihan. Ada juga tangis karena bahagia. Bila setiap hari kita bisa tersenyum, berpikir dan juga menangis itu adalah hari dimana kita hidup sepenuhnya.

Tebarkanlah senyum saat jumpa dengan sesama. Berpikirlah terus tentang apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri dan juga memperbaiki dunia. Menangislah saat teringat dosa atau saat bahagia tak terduga datang kepada Anda.

Dua hari menemani adikku Siti Rohimah kulihat ia memiliki tiga hal itu: tersenyum, berpikir, menangis melebur menjadi satu. Saya turut bahagia karena adikkupun sudah menjalani hidup yang sepenuhnya.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

9 thoughts on “Hidup Sepenuhnya”

  1. Ano says:

    Salam Sukses Mulia.
    Tersenyum, berfikir, menangis.
    Kombinasi menuju hidup sepenuhnya

  2. Arpega says:

    Semoga semua keluarga diberi kesabaran dan mengambil hikmah dari ketabahan adik P. JA
    saya belum menemukan sumbernya ada kata-kata “Bayi yang meninggal dunia dan kedua orang tuanya telah memberinya nama, maka bayi itu menunggu kedua orang tuanya di surga”

  3. dokter vivi says:

    Subhanalloh ceritanya menyentuh sekali,memang hidup adalah pilihan dan apapun yang diberikan kepada kita itulah yang terbaik menurutNya dan pasti ada hikmah besar yang terpendam,terima kasih kek mengingatkan utk bisa tersenyum,menangis dan berpikir

  4. boeloek says:

    kerja diri manusia terdiri atas kerja dalam (psikis) dan kerja luar (fisik). berpikir dan berhati merupakan kerja psikis, 2 hal inilah yg menjadi penggerak fisik kita. kerja psikis bersifat HAKIKI, bahkan ketika tubuh telah matipun ia tetap HIDUP (yang disebut dg RUH). jika ada manusia hidup didunia bisa menselaraskan antara psikis dan fisiknya…itu luar biasa. Namun jika tidak, ia tetaplah disebut… MANUSIAWI …*selama masih berpegang pada TALI agama ILAHI*

  5. Anggit Setyaningsih says:

    Subhanallah..
    Tabah+sabar bgt.
    Smg bs sllu tersenyum, berpikir & menangis tiap harinya, dlm keadaan sedih maupun bahagia 🙂

  6. Widar says:

    Terimakasih ya kek. Telah mengingatkanku lagi. Salam sayang untuk adiknya kek, sungguh betapa beruntungnya beliau karena telah hidup dgn sepenuhnya. Doakan semoga aq jg bisa ya?

  7. dwinur says:

    tebarkan senyum bila berjumpa dg sesama:senyum sapa salam sopan santun.
    berpikir terus untuk bisa berbuat lebih baik bagi diri sendiri org lain dan lingkungan.
    menangis…….

    subhanallah

  8. @dulrinsondang says:

    Subhanallah..

    Bisa jd pelajaran utk saya, salam berkah utk semua, semoga selalu dilimpahkan nikmat dan rahmat oleh Allah Subhanahuwata’alaa yg memiliki 99 sifatnya tdk trbatas ruang dan waktu..

  9. eva roista says:

    memang luar biasa bisa merasakan suatu emosi yang berbaur lebur menjadi satu,,,rasanya hidup memang sangat bewarna,,

Leave a Reply

Your email address will not be published.