Hedonic Treadmill

hedonic.jpg

Istilah hedonic treadmill muncul dari kajian para ahli financial psychology. Istilah ini untuk mewakili nafsu manusia yang selalu ingin terus memiliki barang-barang (materi) mewah sejalan dengan peningkatan pendapatan manusia.

Disebut hedonic treadmill karena kelompok manusia ini seperti berjalan di atas treadmill. Terus berjalan tetapi tidak maju alias jalan di tempat. Kebahagian kelompok manusia ini tidak maju-maju karena nafsu akan kepemilikan barang-barang mewah tidak pernah terpuaskan.

Saat penghasilan terbatas ingin punya motor. Saat penghasilan meningkat mulai kredit mobil yang harganya termasuk murah. Saat penghasilannya mulai berlibat ingin mobil yang menaikkan gengsi dengan harga lumayan tinggi. Awalnya hanya satu mobil kemudian setiap anak punya jatah masing-masing.

Bila keinginannya terwujud, awalnya bahagia namun beberapa hari kemudian biasa saja. Kebahagiaan orang ini stagnan sebab ekspektasi akan benda-benda materi terus meningkat sejalan dengan meningkatnya penghasilan.

Apakah salah mengejar penghasilan yang berlipat-lipat? Tentu tidak. Kejarlah penghasilan setinggi-tingginya, konsumsi seperlunya dan distribusikan seluas-luasnya. Para sahabat nabi sudah mencontohkan hal ini. Abdurrahman bin Auf pebisnis dengan penghasilan berlipat, ia konsumsi seperlunya namun sedekahnya ribuan kuda dan unta terbaik. Ia pula yang menjamin nafkah dan kebutuhan keluarga banyak orang di Madinah.

Banyak sahabat nabi yang kaya namun kekayaannya tak tampak pada asesoris yang melekat pada tubuhnya dan juga dalam kehidupan kesehariannya. Bahagia yang bertahan lama dan menyelamatkan justeru saat jumlah yang kita distribusikan lebih banyak dibandingkan yang kita gunakan untuk keperluan pribadi.

Distribusikanlah harta kita untuk istri, anak-anak, saudara, sahabat dan orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita. Pastikan jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang kita habiskan. Dengan cara ini kita tak terjerat pada hedonic treadmill, kebahagiaan yang tak pernah maju.

Selain itu, mari kita ciptakan banyak kebahagiaan tanpa harus dengan kepemilikan barang-barang mewah, less is better. Bahagia saat bisa ngambil raport anak, menemani pasangan hidup di moment-moment penting, bercengkerama dengan keluarga, bertemu dengan kerabat, berkunjung ke rumah guru, menangis di hadapan-Nya sebelum subuh dan mensyukuri setiap hal positif yang terjadi.

Bahagia itu disini [sambil menunjuk kepala dan dada], setuju?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di FB

Bagikan:

14 thoughts on “Hedonic Treadmill”

  1. themes.yukbisnis.com says:

    Setuju mas jamil…

  2. Eko Prabowo says:

    Jadi pada akhirnya bahagia itu sederhana ya mas 🙂
    Maaf Mas Jamil, aku nggak bisa dateng waktu nikahan putranya kemarin, pas ada keperluan di Cilegon.
    Mudah-mudahan Allah memberi dan melimpahkan keberkahan, dan selalu dipersatukan dalam kebaikan.

    Wassalam,
    Bowo

    1. Jamil Azzaini says:

      Gpp mas Bowo, doaku untukmu

  3. junaini says:

    Bagus kek artikelnya, kena di saya……,untung baru permulaan kena hedonic treadmillnya.
    Kalo mau hidup bahagia,,, jwbanya sederhana.
    Insyaallah di amalin….kek

    1. Jamil Azzaini says:

      Silakan diamalkan dan ilmunya ini dibagikan 🙂

  4. Asef Sofyan Mubarok says:

    Keeereeen..beh
    Mudah2an menjadi manusia bermanfaat

    1. Jamil Azzaini says:

      Aamiin YRA. Yuk berjuang

  5. viddy runtu says:

    Terima kasih kek sudah menjadi pengingat melalui tulisanny, smoga saya tidak terjerembab lebih jauh ke hedonic treadmill…

  6. ian sopian says:

    Setuju Pak Jamil
    Dunia itu semakin dikejar semakin menjauh.

  7. ela says:

    Ngena banget kek jamil,segera berbenah diri…bismillah..

  8. dnur77 says:

    Alhamdulillah…bahagainyatuh disini…..salimmm

  9. Ali says:

    Setuju bnget pak jamil

  10. kiagus luthfy hamzah says:

    makasih nasehatnya ustadz. *salim

  11. ima says:

    semoga menginspirasi,tks.

Leave a Reply

Your email address will not be published.