Hal Sederhana yang Menjadi Kenangan

satari.jpg

Ahad lalu saya diundang ke acara “Satari Day” di IPB, Bogor. Hari itu, Prof. Satari berulang tahun yang ke 82. Siapa Prof. Satari? Beliau adalah mantan rektor IPB dua periode (1971-1978). Siapa yang menjadi panitia acara itu? Para alumni IPB yang kini sudah berkibar dengan profesinya masing-masing. Adapun yang hadir adalah para mantan rektor dan rektor IPB saat ini serta ratusan alumni IPB dari berbagi profesi, seperti politisi, dosen, peneliti, pebisnis, profesional dan lain-lain.

Prof. Satari, Rektor IPB (1971-1978), menyampaikan sambutan pada Satari Day yang digelar alumni IPB di Bogor, Ahad (15 Maret 2015).

Prof. Satari, Rektor IPB (1971-1978), memegang mic, menyampaikan sambutan pada “Satari Day” yang digelar alumni IPB di Bogor, Ahad (15 Maret 2015).

Saya tidak mengenal baik Prof. Satari karena saya kuliah di IPB pada era Prof. Andi Hakim Nasoetion. Saya mengenal Prof. Satari justru setelah lulus kuliah. Ketika itu beliau meminta saya membantunya mendirikan lembaga keuangan mikro, Baitul Mal wat Tamwil (BMT). Kesan saya, beliau adalah pekerja keras, peduli, tekun dan sangat menghormati yang muda.

Setelah saya mengikuti rangkaian acara “Satari Day”, saya menjadi mengerti kehebatan beliau. Ternyata beliau sangat dekat dengan mahasiswa dan sering menjadi tameng serta siap berkorban untuk kepentingan mahasiswa. Diantara sekian banyak hal yang berkesan bagi mahasiswa dan koleganya, bagi saya yang sangat menarik adalah cerita tentang mahasiswa dan pisang.

Di era orde baru, ada pergolakan mahasiswa yang menolak kepemimpinan Presiden Soeharto. Beberapa mahasiswa IPB dipenjara di Bandung bersama dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Ketika itu, tidak ada satupun rektor yang menjenguk mahasiswanya kecuali Prof. Satari. Saat menjenguk, Prof. Satari membawa pisang untuk mahasiswanya.

Sang mahasiswa [Bowo], yang kini menjadi dosen di IPB, bertutur, “Hingga saat ini, saya sering menangis bila melihat pisang. Sebab dibalik pisang ini ada cerita yang tidak akan pernah saya lupakan. Dan pembuat cerita itu adalah guru kita semua, Prof. Satari.”

Medengar cerita itupun saya meneteskan air mata. Hal-hal sepele bagi sebagian orang tetapi menjadi kenangan yang mendalam bagi orang lain. Ya, seorang pemimpin tidak hanya dilihat dan dikenang dari karya-karya besarnya. Satu sisir pisang pun menjadi kenangan yang mendalam bagi beberapa orang.

Saya yang diberi kesempatan “dadakan” untuk memberi sambutan mengatakan, “Seyognyanya perjalan dan gaya kepemimpinan Prof. Satari dijadikan buku. Beliau adalah contoh nyata pemimpin yang melahirkan pemimpin. Hal-hal kecil yang dilakukan beliau pun menginspirasi kami dan bisa menjadi pelajaran bagi kami.” Ya, kita tidak boleh menyepelekan yang kecil!

Tepukan pundak Presiden Soeharto kepada saya pada acara Gerakan Nasional BMT, tidak akan pernah saya lupakan. Panggilan nama “Jamil” dari Presiden Habibie saat menjabat tangan saya di istana negara juga menjadi kenangan manis yang selalu terekam di hati. Hal-hal kecil, bisa menjadi prasasti yang tertulis di hati.

Jangan sepelekan yang kecil karena boleh jadi itu hal besar bagi orang lain. Bahkan banyak hal kecil yang dilakukan seseorang ternyata menjadi penyebab orang tersebut dimasukkan ke dalam surga. Mungkin menyebarluaskan tulisan-tulisan saya di website ini adalah hal kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi orang lain adalah hal besar yang bisa menginspirasi dan mengubah beberapa cara pandang yang selama ini kurang tepat.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

11 thoughts on “Hal Sederhana yang Menjadi Kenangan”

  1. lailia maghfiroh says:

    sy sngat terharu membaca tulisan pgi ini kek…matursuwun kek jamil atas tulisan2nya yg membuat kt slalu terinspirasi..bhkan membuat cara pandang sy berubh. untk pa kt hidup n sukses tu bkn hnya q tp kita. untk prof satari anda bnr2 sosok pemimpin yg hebat. merinding bc cerita tentang pisang nya.

    1. Jamil Azzaini says:

      Saya yg mendengarlangsung apalagi….

  2. Naqiebullah says:

    SuksesMulia

  3. lailia maghfiroh says:

    mksih kek sdh blas comment sy..jujur kek sy adalah penggemar njenengan n stiap hri membaca web ni adalah agenda rutin sy…tp slm ni sy br 2 kali nulis comment..yaitu ktk njen mau umroh kmrn ma hr ni. g nyangka tryt njen meresponnya…sy sngt senang kek. mgkin bagi njen sederhana tp menjadi sbuah prasasti bg sy. bnr sekali yg njen tliskn hr ni. semoga suatu hr sy bs menimba ilmu lgsg dr njen kek. amien…salam dr kediri.

    1. Jamil Azzaini says:

      Baca comment ini koq saya nangis ya…. Terima kasih, jangan ngefans berlebihan ya nanti kecewa. Saya manusia biasa yang jauh dari sempurna

  4. Andika says:

    Assalamu alaikum.. Saya andika om.. Saya salah satu org yg mngidolakan om. Saya sangat termitivasi dgn krya buku om yg berjudul makelar rezeki.. Terima kasih om.. Pngen rasanya pynya mentor seperti om… Moga om bersedia menjadi mentor saya bnyk hal yg ingin saya perbincangkan dengan om… Seputar nama saya andika “sang peminjam”.. Sukses selalu om assaalamu alaikum

    1. Jamil Azzaini says:

      Silakan baca buku yg lain…. 🙂

  5. Arfani says:

    hal-hal kecil ternyata bisa berarti besar bagi orang lain, jujur kek saya merasa baru bisa melakukan hal-hal kecil kepada anak-anak, istri, kedua ortu dan mertua saya, dan lingkungan serta orang lain. mudah2han saya bisa melakukan hal-hal besar untuk mereka semua dan untuk Indonesia.

  6. Rofiq says:

    Thank you pak jamil…
    Mungkin comment dalah hal kecil uga buat meghargai tulisan bapak yag begitu mengispirasi

  7. Athif says:

    luar biasa pak, merinding bacanya, sama merindingnya waktu pertama kali liat pak jamil langsung di depan mata, dengan kang rendy, di senayan beberapa waktu lalu

  8. mina adhiyati says:

    alhamdulillah, dapat pencerahan hari ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.