Guru itu “Digugu” dan Ditiru

DianDidaktikaGuru adalah profesi yang sangat terpuji. Selain membuat anak-anak pintar, seorang guru akan selalu mendapat kiriman pahala dari murid-muridnya walau ia sudah meninggal. Guru seharusnya profesi pilihan bukan pelarian.

Oleh karena itulah saya sangat menghargai saudara-saudara saya yang memilih profesi sebagai guru. Salah satunya adalah mas Toha yang kini menjadi kepala sekolah SMA Dian Didaktika, Cinere, Depok, Jawa Barat. Lelaki berambut putih ini adalah anak dari pakde saya. Sebagian besar anak pakde dari jalur ibu ini adalah guru, atau paling tidak pasangan hidupnya guru.

Mas Toha sangat menjiwai dan menekuni profesinya sebagai guru. Oleh karena itu saya sangat yakin, sentuhan tangan dinginnya akan membuat sekolah yang dipimpinnya menuai banyak prestasi. Guru juga bisa bermakna “digugu” (didengarkan) dan ditiru. Dan sejujurnya, cara hidup saya banyak meniru mas Toha ini.

Nah, karena guru itu digugu dan ditiru, waspadalah. Mengapa? Sebab, setiap perilaku guru dicontoh atau ditiru oleh murid-muridnya. Kisah berikut bisa dijadikan pelajaran.

Seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Sebelum makan baca apa anak-anak?” Muridnya menjawab, “Baca bismillah, pak guru.” Guru itu melanjutkan pertanyaan, “Kalau setelah makan baca apa anak-anak?” Muridnya menjawab, “Astaghfirullah”

Sang guru terkejut, kemudian bertanya, “Lho, kok astagfirullah?” Muridnya menjawab, “Kemarin saat makan di restoran, selesai makan bapak baca astagfirullah.” Dengan tenang guru menjawab, “Bapak mengucapkan itu karena melihat tagihannya mahal banget.”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Keterangan foto:
Saya bersama civitas academica Dian Didaktika, Cinere, Depok, Jawa Barat.


WBT batch 10


Bagikan:

16 thoughts on “Guru itu “Digugu” dan Ditiru”

  1. Slamet Widodo says:

    hahaha, astaghfirullah, Aaamiin *aduh kedengeran gak ya ngakak saya tadi sama pak Jamil*

    1. hehehehe, gak kedengaran tetapi kebaca, hehehe

  2. #InspirasiParenting

    Hue..He..he.. Jadi keingat pernah ngalami, Alasan ingin membahagiakan mertua baru, buntutnya jadi istigfar juga saat bayar, tapi dalam hati, takut didengar ama mertua baru. He..he..he..

    Benner kek, Sejatinya profesi guru adalah satu profesi yg emang mulia. jadi keingat Film “It’s Time to Dinner” Seorang mantan murid yang telah sukses, mencari gurunya hanya untuk di traktir Dinner. Mereka bahagia banget, tanpa ada ucapan “Astagfirullah..” tentunya kala itu, kek hehehe…

    So, Bagikita para Guru, selaraskanlah kemuliann itu, dengan tidak sekedar menjadi guru pengajar, tapi lebih kepada guru pendidik. Pengajar transfer of knowledge. Pendidik, transfer of charkter. Bukan begitu Kek? Salam Sukses-Mulia.

  3. paijan says:

    sbg informasi, setau saya di gugu itu artinya di percaya.. suwun mas jamil artikelnya

    1. Maklum mas, saya jawanya “abal-abal” alias KW 5, hehehe. SyukrON ya

  4. Budi Santoso says:

    Terimakasih buku ON nya pak Jamil,, bagus banget tuh buku … bagi yang belum baca hayoo beli bukunya… heheh ikut promosi … oh ya saya juga punya punya pengalaman pribadi di rumah saya , sebagai orang tua kan kita juga sebagai guru bagi anak2 kita di rumah… apa yang kita lakukan baik , sikap, perbuatan dan cara mendidik juga jadi reference bagi anak2 kita di rumah.. suatu hari anak saya baru pulang bermain dari rumah teman karibnya, ia bermalam karena saat itu hari libur dan dia menjelaskan kepada saya bahwa ibu temannnya itu sibuk sekali hampir 24 jam ia selalu berada di depan komputer karena mengerjakan tugas dari kampusnya… rupanya ia sedang membadingkan dengan kegiatan saya di rumah , dan dia juga bertanya apakah kalau sekolah di perguruan tinggi itu tugasnya banyak ya ayah? .. saya menjawab ia memang banyak seklai … lalu dia balik bertanya kok ayah tidak sesibuk ibunya Taha (teman karibnya)… dari kejadian itu saya bercermin diri bahwa segala perbuatan dan sikap kita menjadi cerminan bagi anak2 kita , oleh karena itu mari menjadi guru yang baik baik generasi kita ke depan agar kita bisa digugu dan ditiru ….
    Salam Sukses mulia

    Budi Santoso

    1. Tengkyu alias syukrON sharingnya pak

  5. Pengalaman Pribadi Pak?

    😀

    1. Kasih tahu gak ya? Hehehe

  6. Zakiy says:

    Ayo para guru semangat mendidik anak bangsa menjadi generasi yang berkarakter jangan hanya sekedar memenuhi kewajiban mengajar saja (terutama guru PNS yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi)… Sukses untuk kita semua

  7. inspiratif mas jamil

  8. Riscirebon says:

    Jepang bisa bangkit setelah bom nagasaki hirosima karena guru, “berapa jumlah guru yg masih hidup ?”, ucapakan hitohito saat itu

  9. Iya pak jamil.. Jadi guru memang digugu lan ditiru.. Apa yang dilakukan gurunya jadi contoh bagi murid-muridnya. 😀

  10. Alhamdulillah, saya merasa bangga sekaligus beban menjadi guru. Bangga, karena dari profesi inilah yang banyak melahirkan orang hebat di berbagai bidang. Beban, karena setiap kata dan perilaku kita digugu dan ditiru. Tapi beban ini tidak lantas membuat kita para guru untuk mundur, justru ini adalah amanah dari Allah yang mesti diemban dengan penuh rasa tanggungjawab dan enjoy dalam menjalaninya

  11. Drg.Kussulistyowati Putri,Sp.Ort says:

    Saya cukup sering membaca tulisan2 Bapak. Saat membaca tulisan ini, saya cukup senang, krn Pak Toha merupakan salah satu guru saya di SD islam Dian Didaktika dan beliau pernah menjadi wali kelas saya. Saya sangat senang diajar oleh beliau. Berkat guru2 di Dian Didaktika, saya dapat belajar agama dengan baik sehingga fondasi agama cukup kuat. Terima kasih guru2ku 🙂

  12. widodo says:

    Pak jamiiilll…?
    kapan bapak ke semarang? memberikan motivasi disini. gratis ya pak. dimasjid agung jawa tengah pak biar rame.

Leave a Reply

Your email address will not be published.