Full Day

emi afriliaSaat bertandang ke rumah seorang sahabat, saya sempat tertegun menyaksikan kondisi putranya yang pulang sekolah langsung mengeluh kepalanya pusing. Mukanya tampak kusut dan lelah. Tidak ada kegembiraan yang terpancar dari wajah bocah berumur sembilan tahun itu. Setelah mencium tangan kedua orangtuanya, sambil menyeret tas yang super besar si anak langsung masuk ke kamar.

Ketika ada temannya yang mengajak main, sahabat saya berkata bahwa anaknya mau beristirahat dan tidak bisa bermain bersama, lagian sebentar lagi akan magrib. Yap, anak sahabat saya ini pulang sekolahnya jam lima sore. Tiba dirumah jam setengah enam sore. Persis pegawai kantoran.

Kepo membuat saya mengajukan pertanyaan apakah tidak bermasalah menyekolahkan anak dengan sistem full day? Dengan enteng sahabat saya menjawab bahwa anaknya dari usia tiga tahun telah terbiasa dengan sekolah full day, daripada dia menghabiskan waktunya bermain lebih bermanfaat berlama-lama disekolah. Semua ini demi masa depannya kelak.

Mungkin benar bahwa si anak telah terbiasa seharian disekolah tapi bagaimana dengan kemampuan fisik dan psikisnya? Keluhan sakit kepala ketika pulang sekolah mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem tubuhnya. Otak dan tubuhnya dipaksa untuk bekerja melebihi kemampuan normalnya. Analisa ini didasarkan dari pengalaman suami saya yang suka pusing jika pekerjaan kantornya menumpuk dan menuntutnya bekerja lebih keras.

Terkadang tanpa disadari kita menjadi orangtua yang dzolim pada anak. Dengan berdalih menyiapkan masa depan yang lebih baik untuk anak, kita membebani anak dengan sekolah full day, berbagai macam kursus atau kegiatan olahraga.

Belum ditambah dengan kegiatan mengaji. Jadwal kegiatan anak dibuat padat dan banyak. Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Menukar hak bermain dengan kegiatan yang menguras otak dan energi. Padahal masa anak-anak adalah masa bermain, mengeksplorasi dan mengekspresikan diri. Senyum dan tawa harusnya menjadi bagian dari wajah anak, bukan dahi yang berlipat atau bibir yang cemberut.

Orangtua lebih rela mengeluarkan uang yang banyak demi mengikutkan berbagai kursus daripada melihat anak bermain. Sepertinya bermain hanya menghabiskan waktu dan tidak bisa menjamin masa depan yang cerah.

Bermain adalah fitrah seorang anak. Jangan hapus hak itu dengan berbagai macam kursus atau kegiatan. Walau otak anak seperti spon yang bisa menyerap apa saja, bukan berarti kita bisa menuangkan pengetahuan bersamaan. Harus bertahap disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak. Bermain menjadi jeda dan hiburan anak untuk melewati tahapan pendidikannya dengan kegembiraan. Dengan bermain, anak bisa belajar mengenal dirinya dan lingkungannya serta mengekspresikan perasaannya juga bersosialisasi.

Kursus atau kegiatan olahraga boleh dilakukan selama hak bermain anak tidak dihilangkan. Sebagai orangtua, kita yang harus paling mengerti kondisi dan minat anak. Jangan karena ikutan trend atau gengsi orangtua, kita memaksa anak dengan aneka ragam kursus. Walau mungkin bermanfaat tapi anak tidak bahagia menjalaninya. Waktu bermainnya hilang. Perasaan tidak bahagia akan membuat proses penyerapan pelajaran jadi lambat.

Sekolah, kursus atau kegiatan ekstra kulikuler hendaknya memperlebar senyum diwajah anak bukan membuat dahinya berlipat. Dengan alasan kasih sayang dan demi masa depan bukan berarti kita boleh mendzolimi anak. Bagaimana masa depan anak akan cerah kalau masa kecilnya tidak bahagia dan penuh beban?

Emi Afrilia Burhanuddin

Bagikan:

5 thoughts on “Full Day”

  1. Denni Candra says:

    Mantap artikelnya bu emi … yang banyak terjadi saat ini dalam pengasuhan anak adalah kita sebagai orang tua cenderung menggunakan dua macam pola, yaitu :
    Pertama, berusaha agar masa kanak-kanak mereka tak terulang pada anak-anak mereka, contohnya :
    Kalau dulu kita susah dan kekurangan secara finansial maka sekarang kita cenderung akan sedikit royal dan memanjakan anak dengan materi
    Kalau dulu kita tidak mendapatkan pendidikan yang tinggi maka saat ini kita cenderung memaksa anak untuk sekolah tinggi dan meraih cita-cita yang dulu tidak bisa kita capai

    Kedua, mengulang gaya pendidikan yang pernah didapatkan pada masa kanak-kanak, contohnya ;
    Kalau dulu kita dididik dengan keras dan ketat maka kita cenderung akan melakukan hal yang sama kepada anak saat ini. Bahkan kita beralasan, bahwa dengan pendidikan yang keras itulah kita bisa melalui kehidupan yang keras saat ini.

    Inilah yang disebut sebagai pola pengasuhan “balas dendam” terselubung. Jika pola pengasuhan tersebut terus berulang dari generasi ke generasi, maka kita akan berputar – putar saja dalam “lingkaran setan” pengasuhan anak.

    Salam ExcellenceParenting

    1. Emi Afrilia says:

      Makasih atas masukannya mas deni.
      Salam kenal

  2. Alhamdulillah anak sy yg msh tk B kalo plg sekolah selalu ceria.. Kecuali jk sdg badmood dg teman nya.. Hehe..

    1. Emi Afrilia says:

      Alhamdulillah berarti putranya nyaman dan senang di sekolah.
      Salam kenal

  3. ririn says:

    artikelnya menarik… bagus buat referensi buat org tua agr tdk berlaku egois trhdp anaknya fgn embel2 “demi masadepan anak”

Leave a Reply

Your email address will not be published.