Flexible Terhadap Aturan

Flexible-Terhadap-Aturan.jpg

Salah satu nikmatnya jadi trainer adalah sering mendapat pencerahan dan inspirasi dari para CEO dan pimpinan perusahaan atau instansi yang mengundang saya. Khususnya apabila mereka menjadi peserta atau setidaknya memberi sambutan saat pembukaan. Kemarin, saya berkesempatan memberikan seminar di Badan Informasi Geospasial (BIG), kepala BIG yaitu Prof. Dr. Hasanuddin Z Abidin berkenan memberikan sambutan dan juga menjadi peserta seminar.

Sambutan yang diberikan mantan Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian – FITB ITB ini sangat menarik. Salah satunya ia bercerita tentang seorang karyawan yang selalu datang terlambat ke kantor. Jam kantor dimulai jam 08.00 WIB sang karyawan selalu datang sekitar jam 10.00 WIB. Berulang kali ditegur dan diberi peringatan tetapi tidak “ngefek”. Menurut aturan perusahaan, dia sudah sangat layak dipecat. Apabila Anda sebagai seorang pemimpin, apa yang akan Anda lakukan?

Cerita kedua terjadi pada mahasiswa ITB yang cerdas. Pada semester satu dan dua, mahasiswa ini nilainya sangat bagus, namun pada semester berikutnya nilainya sangat jatuh dan tidak memenuhi standar sehingga menurut aturan yang berlaku di ITB, ia layak dikeluarkan. Apabila Anda sebagai rektor, apa yang akan Anda lakukan?.

Pada cerita pertama, sang pimpinan akhirnya memanggil karyawan tersebut. Setelah berbicara dari hati ke hati ternyata setiap dini hari hingga pagi sang karyawan harus membantu sang ibu ke pasar. Selesai jam 06.00 WIB pagi, sang karyawan tidur kembali dan bangun setelah jam 09.00 WIB. Akhirnya, ia selalu terlambat ke kantor. Apakah pimpinan memecat sang karyawan? Jawabnya tidak. Sang pimpinan memberikan jam kerja siang hingga malam khusus untuk karyawan ini.

Untuk cerita kedua, wali siswa atau dosen pembimbing bersikeras untuk tidak mengeluarkan mahasiswa meski secara aturan seharusnya sang mahasiswa dikeluarkan. Sang dosen menyakin bahwa mahasiswanya punya potensi besar. Maka sang mahasiswa pun dipanggil dan diajak bicara dari hati ke hati. Ternyata, selain kuliah, sang mahasiswa harus bekerja keras mencari nafkah untuk membiayai dirinya dan dua adiknya di Universitas Padjajaran (Unpad).

Setelah tahu hal tersebut, sang dosen mencarikan beasiswa kepada mahasiswa tersebut untuk beberapa semester. Dan ternyata benar, sang mahasiswa bisa berprestasi dan bisa menyelesaikan studi dengan baik.

Ya, kita memang seyognyanya taat kepada aturan. Namun harus tetap flexible untuk kasus-kasus tertentu. Wajib melihat sisi-sisi kemanusiaan yang terjadi agar kita tidak keliru mengambil keputusan. Aturan dibuat untuk keteraturan bukan untuk menyengsarakan. Setuju?

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership
Founder Akademi Trainer
Inspirator SuksesMulia

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.