Filler Words

Apa itu filler words? Seorang pembicara pasti mengenal istilah ini. Saya mengistilahkan filler words itu adalah jeda ditengah-tengah saat pembicara tampil di depan forum, seperti engg, eemm, uum.

Saat berbicara di depan, bila terlalu banyak filler words pasti kesannya adalah tidak percaya diri dan penuh keragu-raguan. Jeda seperti ini, bisa jadi karena pembicara kesulitan menghubungkan dengan sistematis.

Namun, justru ini sangat menggangu bagi yang mendengarkannya. Mungkin kalau cuma pegawai biasa aja, banyak menggunakan filler words rasanya tidak akan menjadi masalah. Tapi bagaimana kalau itu seorang supervisor, manajer atau pimpinan perusahaan. Kemampuan untuk mengendalikan dan mengurangi filler words harus menjadi keniscayaan. Karena seorang leader harus mampu tampil meyakinnkan dan mempengaruhi.

Tapi bayangkan kalau seorang pemimpin besar atau kepala negara atau seorang pembicara publik terlalu banyak filler words, pasti ini bisa menjatuhkan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin.

Ketahuilah, semua orang yang naik kelas “wajib” bicara. Pasti mereka, pimpinan hebat mempunyai kemampuan berbicara yang berpengaruh. Saat di depan audience pimpinan hebat mampu mereduksi filler words saat berbicara. Cobalah perhatikan Steve Jobs berbicara. Saat memberi sambutan, arahan atau pidato di depan anggota timnya. Pemakaian filler words sudah pasti sangat minim.

Bila Anda sudah menentukan diri Anda saatnya naik kelas, saatnya pula cara berbicara juga harus naik kelas. Adakah orang yang terkenal dan populer yang tidak pernah memberikan sambutan di depan audience? Semua orang HEBAT ternyata “wajib” bicara. Mari bergabung di Wanna be Trainer, mewujudkan Berani Tampil, Bicara Sistematis dan Pengaruhi Audience Bogor, 13-15 Juni 2014 bersama @JamilAzzaini call 0812-1632-0707 Jangan ditunda-tunda lagi ya:) @AkademiTrainer

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.