Fatamorgana

Dicky AhmadKata ‘Fatamorgana’ berasal dari nama saudari Raja Arthur, Faye le Morgana, dimana Faye le Morgana adalah seorang peri yang bisa berubah-ubah rupa. Dalam beberapa literatur, Morgana memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Beberapa gerakan feminisme di dunia pun mengambil sosok Morgana sebagai simbol mereka.

Tak terlalu bersinggungan memang dengan kata Fatamorgana. Mengambil dari filosofi kisah Morgana sebagai peri yang bisa berubah-ubah rupa cukup menjadi dasar kesepakatan dari kata tersebut.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Fatamorgana (fa.ta.mor.ga.na) adalah gejala optis yang tampak pada permukaan yang panas, yang kelihatan seperti genangan air; atau dalam arti lain ialah hal yang bersifat khayal dan tidak mungkin dicapai.

Di beberapa mitos lokal benua Eropa, Fatamorgana sering diasosiasikan dengan hal gaib. Mulai dari istana yang mengapung hingga cerita “The Flying Dutchman” dimana cerita tersebut mengisahkan sebuah kapal hantu yang terus berlayar dan tak pernah menepi.

“Selamat datang di dunia…” adalah penggalan dari lirik lagu Fatamorgana yang dibawakan oleh band Netral. Dengan dentuman musik yang bersemangat, lagu tersebut sedikit mengingatkan kepada manusia ‘baru’ bahwa dunia adalah sebuah perjalanan fatamorgana. Dunia juga diibaratkan sebagai surga, surganyanya hawa dan nafsu. Bukan tanpa sebab, jika kita berpikir sejenak dan bertanya, “apa yang kita kejar di dunia?” Maka ada banyak ribuan jawaban hadir di dalam benak kita.

Dua hal yang mendorong manusia begitu bernafsu mengejar dunianya adalah; menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Wajar saja, karena manusia sejatinya mahluk materi, segala sesuatunya harus berdasarkan empiris terlebih dahulu, yakni tertangkap oleh penginderaan. Hal itu erat kaitannya dengan kebiasaan. Manusia cenderung untuk mempertahankan kebiasaan dan menolak adanya perubahan, apalagi yang radikal.

Saya contohkan, ketika suhu tubuh mendadak di serang hawa dingin yang drastis. Keasaman darah turun pada tubuh langsung drop beberapa PH. Seketika kita akan mati seketika. Oleh karena itu tubuh dan otak mempunyai kontrol untuk menjaga keseimbangan dalam bahasa ilmiah disebut ‘homeostasis’.

Bilamana ada perubahan yang mendadak, maka sensor-sensor ‘kebiasaan’ di jaringan syaraf kita akan memperingatkan otak dan sistem tubuh akan mengambil tindakan untuk mengembalikannya ke kondisi stabil. Inilah mengapa banyak orang yang berusaha berubah tetapi faktanya kembali ke kebiasaan lamanya.

Perumpamaan dunia dalam kitab suci orang muslim adalah sebuah ladang yang tandus, lalu turun hujan yang menyebabkan lahan tersebut subur. Kemudian muncul beberapa tanaman yang bisa dipanen kemudian layu dan lahan tersebut tandus kembali. Rasa bahagia muncul sebagai penengah dari keinginan dan kebutuhan.

Ini berarti segala kesenangan dunia adalah rasa bahagia yang kita ciptakan terus menerus berulang menjadi kebiasaan, dengan amat sederhana dan tanpa pra syarat apapun. Untuk menjawab, apa sebetulnya kita berada di sini (dunia). Marilah sejenak kita pejamkan mata dan hirup dalam-dalam udara melalui hidung, lalu rasakan bahwa betapa bahagia tersebut memang seharusnya tanpa syarat.

Tulisan dikirim oleh Dicky Ahmad

Bagikan:

3 thoughts on “Fatamorgana”

  1. princess amanda says:

    nice article…luv it…

  2. andi djunaidi says:

    kesenangan yang muncul dari kesederhanaan. Terima kasih atas sharingnya.

  3. Wow.. Cool Post. Saran dan Info dari kami, Segera konsumsi obat kesehatan herbal bernama Lecithin Softgel, produk dari Woo Tekh. Produk ini dapat Anda Temukan di beliaku.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.