Family Value

ngakak.jpg

Agar kehidupan keluarga kita terarah, saran saya, buatlah family value dalam keluarga. Family value inilah yang menjadi pedoman dan acuan di kehidupan kita. Di keluarga saya, family value yang kami sepakati adalah ACI: Agama, Customer Fokus dan Integritas.

Semua hal di keluarga kami harus mengacu pada ajaran agama yang kami anut. Bila agama mengatakan baik maka kami mengatakan baik pula. Bila agama mengatakan buruk maka kami pun mengatakan buruk. Untuk hal-hal yang memang boleh berbeda pendapat, maka kami juga boleh berbeda pendapat, selama ada dalil atau landasannya. Beragama tak boleh dogmatis.

Adapun Customer Fokus bermakna bahwa semua orang di sekitar kita adalah customer. Mereka harus dihormati, dilayani dan dimuliakan. Sedangkan Integritas bermakna semua anggota keluarga harus terbiasa melakukan apa yang dikatakan.

Keluarga tanpa nilai bisa berbahaya. Mengapa? Mari ikuti kisah berikut ini.

Alkisah, sebuah sebolah membawa murid-muridnya berwisata ke kebun binatang. Saat tiba di kebun binatang, satu per satu dari mereka keluar dari bus. Salah seorang murid yang turun ternyata melihat mobil ayahnya terparkir di tempat itu.

Karena penasaran, sang anak mengintip ke dalam mobil tersebut. Tidak dinyana, sang ayah ternyata sedang berciuman dengan seorang wanita. Perlahan si ayah itu membuka bajunya, kemudian terjadilah hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Dengan mengendap-endap sang anak tadi menjauh dari mobil ayahnya.

Pulang dari kebun binatang, setibanya di rumah, ia menceritakan kejadian itu kepada ibunya. Namun, sang ibu memotong pembicaraan anaknya. “Stop anakku. Jangan lanjutkan ceritanya. Nanti kamu ceritakan saat makan malam bersama ayah, ya.” Di dalam hatinya sang ibu berkata, “Yes! Akhirnya aku bisa menjebak suamiku.”

Saat makan malam tiba, sang ibu membuka pembicaraan. “Ayo nak, katanya mau ada yang dibicarakan?” Sang anak langsung nyerocos. “Tadi aku kan jalan-jalan ke kebun binatang. Trus aku lihat mobil ayah di parkiran. Lalu aku ngintip. Ternyata ayah sedang berciuman dengan seorang wanita.”

Ayahnya terkejut. Ia berharap anaknya tak melanjutkan ceritanya. Sementara sang ibu tersenyum penuh kemenangan.

Sang anak kemudian melanjutkan ceritanya. “Setelah ayah buka baju, aku terus ngintip ayah. Setelah itu, aku melihat ayah melakukan seperti yang dilakukan teman mama kepada mama saat ayah pergi ke luar negeri.”

Nah, lo! Jangan sampai terjadi yang seperti ini, ya..

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

8 thoughts on “Family Value”

  1. Rahmat E. Siregar says:

    Semoga sukses di luar negeri, Kek. Semoga cerita ini tidak terjadi di kehidupan nyata kita para pembaca website kek Jamil. Salam SuksesMulia.

    1. Terima kasih doanya ya

  2. anak yang kerON…. kejujuran adalah value yang selalu dipegangnya… LanjutGan, Nak…

    1. Sampeyan memang brutal 🙂

  3. ORA DADI OPO says:

    Oℓααℓααα niatnya njebak malah kejebak sendiri… :v

    اسْتَغْفِرِ اللّهَ

    1. Makanya jangan suka jebak ya

  4. Kang Gun says:

    sang detective beraksi.. 😀 jagalah diri dan keluarga dari aPi neraka.

    1. Hehehe…mari kita jaga

Leave a Reply

Your email address will not be published.