Dua Guru Saya yang Bersahaja

Share this
  • 13
  •  
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares

Among Kurnia Ebo
Berburu nutrisi otak adalah hobi saya sejak lama. Sejak mahasiswa dulu dan lebih lagi setelah sempat menjadi wartawan selama 8 tahun. Kebiasan itu telah mendarah daging hingga sekarang. Apalagi setelah terjun ke dunia entrepreneur dan dilanjutkan tanpa sengaja terjun ke dunia trainer.
 
Ada dua cara yang saya lakukan untuk menambah nutrisi otak saya; pertama, kalo enggak memborong buku-buku baru yang bermutu, ya cara praktis yang kedua, ikutan berbagai training, seminar, atau workshop yang sesuai passion saya.
 
Nah, dari berbagai training yang saya ikuti itulah saya ketemu banyak guru. Dan di antara sekian banyak guru, ada dua guru yang saya sangat berkesan mendalam di hati dan otak saya. Ini bukan bukan soal ilmu semata. Kalau soal ilmu dan experience sih semua guru tempat saya ngangsu kawruh (berguru) saat trainingi, saya anggap sama-sama tinggi ilmunya. Mereka adalah orang-orang expert (ahli) di bidangnya masing-masing. Karena mereka expert tentunya ilmu yang ditularkannya sama-sama bermanfaat dalam hidup saya.
 
Akan tetapi, dalam soal kebersahajaannya, saya terkesan dengan dua nama guru ini: Jamil Azzaini dan Ahmad Faiz Zaenuddin. Yang satu, Kek Jamil adalah pakar publik speaking yang memang mantep banget ilmunya, khususnya keahliannya dalam ber-story telling yang luar biasa, yang bisa menghipnotis audiens jika sudah bertutur kata di atas panggung. Sedang guru satunya lagi, mas Faiz Zaenudin, adalah pakar healing & happiness, yang dengan ilmu SEFT-nya telah membuat ribuan orang terbebas dari berbagai belenggu dan hambatan fisik dan psikis. dari mas Faiz inilah saya banyak belajar tentang apa itu bahagia, apa itu sehat, dan apa itu pribadi berkarakter.
 
Ada dua hal (nilai lebih) yang saya catat dari kedua orang ini adalah: (1) bahasa komunikasinya yang sederhana dan (2) penampilannya di hadapan audiens yang juga sederhana. Di mata saya dua-duanya adalah orang hebat, dua-duanya orang yang berilmu tinggi, dan karenanya saya mengaggap sebagai guru kehidupan saya. Ya, dua-duanya selalu berpenampilan sederhana, bersahaja, apa adanya. Dua-duanya juga berkomunikasi dengan bahasa yang bersahaja, komunikatif, mudah dipahami oleh kalangan manapun.
 
“Kita hidup bukan untuk gengsi, kita hidup untuk menebar manfaat. Kita hidup bukan sekedar menunjukkan Sukses. tapi lebih pentingadalah untuk Mulia,” begitu ujar kek Jamil yang kemana-kemana selalu pakai batik jika berseminar dan setahu saya tak pernah rewel mau menginap di mana atau makan apa saja. Bahkan, jika sedang punya acara di Jogja, tempat saya berdomisili, Kek Jamil tidak pernah menolak jika diajak makan di warung kaki lima. tercatat lebih dari lima kali saya mengajak kek Jamil makan di Sate Klatak pinggir jalan di kawasan Bantul. Hebringnya, di tempat yang ala kadarnya itu, beliau bisa menikmatinya dengan begitu enjoy dan tetap mau sharing ilmu secara powerfull. Bagi saya ini adalah sesuatu yang langka. Seorang pembicara dan trainer papan atas tidak malu duduk lesehan di warung kaki lima: Sate Klatak atau warung bakmi Mbah Mo Bantul. Salut dengan kebersahajaanya!
 
“Saya lebih suka orang yang berkarakter, bukan orang yang wah secara penampilan,” begitu kata mas Faiz dalam suatu kesempatan saat saya makan bareng bersamanya di the House of Raminten Yogya. Pertemuan saya dengan mas Faiz memang terhitung lebih sering dibandingkan dengan kek Jamil . Saya pernah diundang di acara SEFT di Jakarta, pernah di ajak ke pesantrennya dan pernah pula diajak tidur di kamar rumahnya di Surabaya. Beberapa kali saya juga makan bareng kalau dia sedang ada training di Yogja. Pernah juga ketemu di Batam dan sarapan pagi bersama, ngobrol tentang hal-hal baru di kamar hotelnya, dan bertemu lagi di beberapa kesempatan yang lain. Kesan saya, dia adalah guru yang hebat, guru yang sama lahir dan batin, yang sama antara ucapan dan perkataan. Dia menghormati orang karena benar-benar keberadaan orangnya, bukan karena benda-benda yang dimilikinya. Dia juga mau diikuti dan diajak sharing di manapun dia berada. hingga di kaki lima, hingga di kamar tidurnya, bahkan di jam berapa pun kadang tidak masalah. Benar-benar sosok yang low profile.
 
Kepada mas Faiz ini saya juga belajar tentang bagaimana seyogyanya kita menempatkan posisi ilmu dalam kehidupan. Saya belajar tentang semangatnya yang Luar Biasa dalam mengejar ilmu. Untuk satu ilmu yg ingin dikuasainya, mas Faiz rela mengejarnya dengan mengikuti berbagai training di manca negara, mulai Singapura, lanjut ke Australia, diteruskan lagi mengejar narasumber aslinya di Italia, dan sekarang sedang memperdalam lagi keilmuannya selama beberapa bulan di California.
 
Pernah dalam sebuah kesempatan beliau berkata,”Kalo soal ilmu mas, saya bisa memilih berpuasa tiga bulan, asalkan saya benar-benar bisa dapatkan ilmu yang saya kejar. Buku dan training lebih penting daripada makanan selezat apapun.” Hemmmm, dalam hati saya bergumam: pantesan hidupnya dimuliakan Tuhan, karena mas Faiz menempatkan ilmu dalam kedudukan yang mulia, menjadikan ilmu dalam posisi yang sangat penting dalam hidupnya.
 
Ada satu nasihat guru saya yang lain, pak Purdi E Chandra Ujarnya, “Kalo pengen jadi macan bergurulah sama macan. Kalo mau jadi pengusaha bergurulah pada pengusaha supaya gelombang dan frekuensinya sama. Kalo mau jadi orang hebat, maka bergurulah kepada orang-orang hebat. Orang-orang yang expert dan menjadi kingpin di bidangnya masing-masing. Paling tidak lima tahun lagi Anda akan bisa seperti mereka juga.”
 
Sebagai muridnya, saya pun pengen hebat seperti mereka, namun saya juga pengen tetap sederhana. Saya meyakini bahwa setiap cita-cita itu akan sampai di puncaknya. Maka saya ikuti nasehat guru saya itu: saya sedang berguru pada orang-orang yang hebat tapi sederhana. Ya, sederhana dalam penampilan tetapi hebat dalam keilmuan. Sederhana dalam tutur kata tapi hebat dalam pemikiran. Alhamdulillah, saya diberi kesemmpatan bertemu dan berguru pada orang-orang hebat yang rendah hati, bersahaja.
 
Saat bangun tidur sering saya bergumam: Terima kasih Tuhan, telah Engkau pertemukan aku dengan guru-guru hebat dalam kehidupanku. Guru-guru yang luar biasa dan dua di antaranya bernama Jamil Azzaini dan Ahmad Faiz Zaenudin. Kepada mereka berdua berikanlah selalu kemulian dan keberkahan dalam hidupnya. Supaya mereka bisa menginspirasi lebih banyak lagi anak-anak bangsa dengan berbagai aktivitasnya, dalam rangka membentuk generasi masa depan ke dalam kehidupan yang lebih berkualitas. Kehidupan SuksesMulia. Amin!
 
Tulisan dikirim oleh  Among Kurnia Ebo

Baca Juga  Belajarlah dari Seorang Anak

Share this
  • 13
  •  
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares

24 comments On Dua Guru Saya yang Bersahaja

Leave a Reply to gusti orrin Cancel Reply

Your email address will not be published.

Site Footer