Dompet Dhuafa Pengukir Sejarah

Share this
  • 882
  • 109
  •  
  •  
  •  
    991
    Shares

Pada tahun 1994, saya diundang pimpinan Dompet Dhuafa Republika (DD), mas Eri Sudewo untuk bergabung membesarkan institusi yang baru satu tahun berdiri bernama DD. Padahal saat itu, ada tiga perusahaan dan satu instansi yang meminang saya untuk menjadi karyawannya.

Di tengah kegalauan memilih, suara hati saya berkata “lebih baik menjadi pengukir sejarah daripada menjadi pengekor sejarah. DD memang masih sangat kecil tetapi berpeluang membuat banyak lompatan besar dan kamu bisa menjadi salah satu pemain utamanya. Umat perlu contoh, lembaga nirlaba yang dikelola secara profesional” Suara hati inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan berlabuh di DD meski dengan gaji yang sangat kecil dibandingkan tawaran dari empat institusi lainnya.

Hal yang disampaikan mas Eri ketika itu “kamu boleh membuat program apa saja selama untuk kepentingan dhuafa, tapi bukan program pameran kemiskinan. Motto DD adalah menyantun dhuafa, menjalin ukhwah dan menggugah etos kerja.”

Menyantun Dhuafa
Bagi mereka yang sudah tidak berdaya, tugas kita menyantuni alias memberi bantuan secara cuma-cuma. Dari nilai dasar inilah akhirnya muncul santunan bagi fakir miskin dan fisabilillah serta Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC). Dari satu LKC yang diresmikan Wakil Presiden ketika itu, Bapak Hamzah Haz, kini telah bermetamorfosis menjadi banyak Rumah Sehat (Rumah Sakit) di berbagai tempat.

Dalam bidang pendidikan, muncul beasiswa etos yang diperuntukkan bagi mereka yang berprestasi, kurang mampu dan aktivis organisasi kemahasiswaan. Berdiri pula SMART Ekselensia (SMP-SMA), sekolah berstandar internasional yang diperuntukkan bagi mereka yang cerdas tapi tidak mampu.

Menjalin Ukhwah
Pesan mas Eri ketika itu “DD dan orang-orang di dalamnya tidak boleh terlibat politik praktis. Program kita fokus untuk memberdayakan dhuafa yang bersinergi dengan siapapun yang memiliki visi yang seirama.”

Baca Juga  Bicara atau Diam?

Untuk menjalin ukhwah ini, saya keliling Indonesia, dari Aceh hingga Papua, bekerjasama dengan berbagai pesantren, koran daerah, organisasi masa, kampus, LSM, unit bisnis, kelompok tani, dan berbagai organisasi yang peduli dengan kaum marjinal (dhuafa). Dari sini muncul program sosial, pendidikan ekonomi dan Tebar Hewan Kurban. Muncul juga lembaga pemberdaya yang bekerjasama dengan koran lokal seperti Solo Peduli (Solo Pos), Lampung Peduli (Lampung Pos) dan lainnya.

Latar belakang mitra kerja kami beragam, afiliasi politiknya juga beragam. Meski berbeda kami tetap saling menghormati. Di group whatsapp yang isinya alumni DD dan juga mitra kerja lama, isinya ada pendukung 01 dan juga pendukung 02 namun kami tetap saling menghormati. Nilai dasar “menjalin ukhwah” masih melekat hingga kini.

Menggugah Etos Kerja
Banyak dhuafa yang tidak berdaya namun memiliki potensi besar. Kelompok dhuafa ini tidak boleh disantuni tetapi diberdayakan, etos kerjanya digugah dan dilejitkan.

Dari sini muncul program Masyarakat Mandiri (Gramen Bank versi Indonesia), Institut Kemandirian, Ternak Domba Sehat, Usaha Hasil Tani, dan juga Baitul Maal wat Tamwil serta program pemberdayaan ekonomi lainnya.

Milyaran dana infak sedekah dari donatur DD yang disalurkan untuk program ini kini telah beranak pinak (berkembang) menjadi puluhan trilyun yang dinikmati oleh jutaan penerima. Ya, saat etos kerja yang dipantik, hasilnya berlipat ganda.

Institusi yang saya cintai inipun akhirnya saya tinggalkan. Saya dan mas Eri punya kesepakatan tidak tertulis “saat DD sudah besar dan diakui dunia, saat itu kita pergi.” Setelah awal tahun 2000, DD sudah diakui secara internasional oleh berbagai pihak maka pada tahun 2004 mas Eri mundur dari DD, dan saya menyusul pada tahun 2006.

Baca Juga  Leader Zaman Now

Organisasi umat yang pada awalnya dilecehkan bernama DD kini telah menjelma menjadi organisasi yang kiprahnya melintasi batas agama, suku, pandangan politik dan juga melintasi batas negara.

Organisasi kecil yang bernama DD telah menjadi Pengukir Sejarah di negeri ini. Saya termasuk yang beruntung karena pernah 12 tahun membersamainya.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini


Share this
  • 882
  • 109
  •  
  •  
  •  
    991
    Shares

6 comments On Dompet Dhuafa Pengukir Sejarah

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer