Dompet Dhuafa Kampus Kehidupanku

Share this
  • 13
  •  
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares

September 1994, saya dipanggil mas Eri Sudewo ke Gedung Republika Warung Buncit. Saya diminta membantu beliau untuk mengembangkan Dompet Dhuafa (DD) Republika. Institusi nirlaba yang didirikan oleh beberapa pimpinan Harian Umum Republika, 2 Juli 1993.

Saya galau ketika itu, karena disaat yang bersamaan saya diterima di 3 institusi ternama yg tentu jauh lebih besar dari DD. Akhirnya sayapun memutuskan bergabung dengan DD, dan itu sangatlah mengecewakan mertua dan orang tua saya. Untuk mengobati rasa kecewa mereka saya betkomitmen untuk berperan membawa DD menjadi institusi yang diakui dunia, bukan hanya di Indonesia.

Dompet Dhuafa Kampus KehidupankuSaya banting tulang menemani mas Eri Sudewo membesarkan DD. Anak-anak saya pun sempat protes karena waktu saya hampir semua tercurah ke DD. Selain mengembangkan institusi, saya keliling negeri merajut jejaring umat agar semakin kuat. Sampai Prof. Didin Hafiduddin pun memberi nasehat yang tidak akan pernah saya lupa “Jamil, janganlah seperti lilin mampu menerangi banyak orang tetapi keluargamu musnah dan berantakan.”

Dan setelah DD diakui dunia, mas Eri Sudewo undur diri sebagai CEO di DD pada tahun 2004, saya menyusul 2 tahun kemudian. Saya kembali menata bisnis pribadi saya dan mengembangkan passion saya sebagai seorang trainer.

Kini, DD telah berusia 24 tahun. Saya bangga karena pernah 12 tahun membersamainya. Sebagian “darah” saya adalah darah hasil tempaan DD. Institusi ini adalah kampus kehidupan yang tidak akan pernah saya lupakan. Terima kasih DD, teruslah menyantun dhuafa, menjalin ukhwah dan menggugah etos kerja.

Salam SuksesMulia

Baca Juga  Makanan Mempengaruhi Prestasi

Share this
  • 13
  •  
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares

1 comments On Dompet Dhuafa Kampus Kehidupanku

  • Ratna Sari Dewi

    Alhamdulillah…kita satu almamater kang Jamil. Tahun 2000 saya juga ngangsu ilmu di DD, membuat riset STRATEGI PELAYANAN PELANGGAN. Sayang, belajarnya cuma sak ndulit…sebatas diskusi tanpa eksekusi. Satu meja dg Bapak Parni Hadi, ustadz Didin, mas Imam Prasodjo….rasanya mikirku rung tekan. Hanya menyimak, mendengar, mlongo dan manggut-manggut saja…

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer