Dimiskinkan oleh Kemiskinan

Pernah suatu hari saya menyusuri tengah kota Bandung dari BTC Pasteur menuju Cihampelas. Saya memang sengaja ingin melihat fenomena keadan di kota ini.
 
Pada saat itu pukul 15.45 WIB saya mulai berjalan dan saya memperhatikan apa aja di sekitar saya, mobil-mobil mewah pun saling bergantian keluar masuk hotel mewah di jalan Pasteur itu. Di trotoar hotel itupun ada seorang kake tua yang membawa gelas plastik bekas air mineral dan anak kecil berbaju hitam yang menadahkan tanganya ke mobil yang berhenti karena lampu merah
 
Hati saya sangat teriris melihat fenomena itu. Saya melihat langsung perbedaan yang sangat tajam, antara mereka yang bersenang-senang dan orang yang mengadukan nasib dengan mengharapkan rasa kasian orang lain dengan uang recehan. Ini memang sulit untuk disikapi, yang kemiskinan yang terlihat tambah miskin bagaikan kutukan dan yang kaya makin tampak menjadi kaya tanpa memperhatikan orang lain yang membutuhkannya.
 
Saya terus melanjutkan perjalanan. Hingga saya menemukan anak kecil yang bercanda dengan teman sebayanya. Di saat lampu merah menyala, anak-anak itu menyebar melakukan aksinya. Mereka mengetuk setiap kaca mobil, mengemis minta uang recehan.
 
Aksi ini sepertinya menjadi kehidupan mereka, yang sepatutnya tidak dilakukannya. Hidup mereka seakan terpatri akan nasib, yang disebut kemiskinan. Aksi-aksi mereka seakan sudah di wajarkan, atau entah memang orang tua mereka telah mendidik untuk meminta-minta. Allahualam. Yang jelas mereka terlihat seperti tak terurus, membawa kecrekan dan menyodorkan tangannya setiap mobil-mobil yang berhenti disaat lampu merah menyala. Inilah hal yang sangat saya tidak suka ketika melihat kenyataan ini.
 
Anak kecil, anak remaja atau generasi muda di negara ini adalah aset bangsa. Mereka adalah generasi penerus yang bertanggung jawab besar di masa akan datang. Karena kepada siapa lagi bangsa ini akan diteruskan, kalau tidak pada generasi muda bangsa ini.
 
Sungguh rasa keprihatinan saya terus saja meletup-letup melihat fenomena ini. Hati saya menangis sedih dan pilu akan semua ini.
 
Dan sampailah saya di perempatan Cihamplas lagi-lagi saya melihat ada seorang ibu menggendong anaknya yang masih bayi di padatnya lalu lintas dan asap polusi yang tidak baik, ini memang hal yang tidak adil, malang sekali bayi sekecil itu yang tak memiliki dosa harus menanggung nasib yang seperti itu. Saya hanya berharap dalam hati saya, kejadian semua itu semoga bukan karena profesi atau keinginan untuk miskin.
 
Tetapi fakta itu memang itulah adanya. Inilah negara kita masih belum makmur karena masih ada anak-anak bangsa yang sangat kurang akan pendidikan,kesehatan dan kasih sayang para orangtua. Entah mereka itu dimiskinkan oleh kemiskinan atau apa. Tapi mereka sangat membutuhkan pendidikan yang layak. Pendidikan untuk bukan menjadi peminta-minta.
 
Bilamana kita benar-benar ingin membantu mereka. Bantulah mereka dengan cara memandirikan mereka untuk mencipta karya. Bukan membuat mereka terus menjadi peminta.
 
Tulisan dikirim oleh Buyung

Bagikan:

14 thoughts on “Dimiskinkan oleh Kemiskinan”

  1. Mas Wantik says:

    Ini termasuk PR kita semua mas, kadang ndak mudah jg. Mau bantu kasih uang eh malah disalahgunakan. Mau diberi pekerjaan blm tentu mrk mau, pilih di jalan sj

    Di rmh sy membuka kesempatan spt itu, sy kumpulkan utk diajari bekerja dgn ketrampilan menganyam, eh blm jg ada yg mau bergabung, padahal diajari kerja, dpt uang. Kalo nantinya mrk pintar jg dipakai sendiri. Hrsnya jd gerakan bersama dg pemerintah jg

    Salam makin sukses dan mulia

    1. BisnisBajuYuk says:

      Saya juga prnah Mas menawari ibu-ibu dan remaja putri di kampung sekitar komplek yang menganggur tidak punya aktifitas selain menggosip untuk saya ajari menjahit. Sudah saya sediakan waktu,peralatan dan juga bahan-bahan untuk praktek,tapi mereka tidak tertarik. Mereka lebih suka menjadi PRT atau menganggur saja. #Prihatin…

  2. yah itulah realitas negara Indonesia, kita ibarat tikus yang mati di lumbung padi, kaya tapi sengsara. Karena kesalahan sistem semua jadi merana, negara kerjanya hanya menyengsarakan rakyatnya seperti kebijakan menghapus berbagai subsidi, menaikkan pajak, dsb, sementara mereka tak henti-hentinya korupsi dan kolusi. Selama ideologi RI masih kapitalis seperti sekarang, maka kondisi kita pasti akan semakin susah, karenanya harus ada perubahan ideologi yaitu ideologi Islam yang berasal dari zat yang tahu yaitu Allah SWT.

  3. Semoga Allah memperbaiki keadaan umat islam saat ini..

    Saya juga kadang terdiam lama merenungkan fakta menyakitkan ini..

  4. EventJogja says:

    semoga aspek pendidikan dan sosial makin diperhatikan, khususnya oleh pemerintah setempat dan dukungan masyarakat 🙂

  5. Marilah kita bergabung bersama melakukan apa yg bisa kita lakukan……..bisa.bergabung.dgn Indonesia.berdaya……dan Indonesia.berjamaah

  6. Membaca tulisan ini saya seperti disindir. Bisa jadi, ini menunjukkan saya tidak terlalu peka.

    Terima kasih telah mengingatkan saya. Saatnya harus bertindak nih… 🙂

  7. eko wardhana says:

    Bang Buyung ,sebagian pengemis itu memang sdh profesi sehari-hari, sehingga cukup sulit untuk mengajak mereka alih profesi , karena profesi ini memang menjanjikan , butuh kerjasama dengan pemerintah , lembaga lembaga di masyarakat dan kita semua untuk membantu mengurangi permasalahan ini …….

  8. prio hantoko says:

    terkadang menyikapi hal ini membingungkan, karena diberitkaan pengemis di Bandung berpenghasilan 9 juta perbulan, mereka diaajak pemerintah daerah untuk jadi tukang sapu aja nolak. Entah yang bener yang mana… Harus ada lembaga sosial yang lebih perhatian dan membina mereka 🙂

  9. bikarto says:

    Kalo saya tidak salah, pernah akan ditertibkan oleh WalKot Bandung dan akan diberikan pekerjaan, tapi permintaan gaji mereka fantastis…berapa mereka minta ? 10 Juta/bulan,
    kesimpulannya, berarti selama ini mereka berpendapatan sejumlah itu to…….berpapa kali lipat dengan buruh pabrik ( koreksi bila saya salah ) tks

  10. iya betul teman-teman, merubahlah mereka tidak lah mudah, hari pertama WBT, ketika 10 orang berbicara di atas kursi dan saya salah satunya mengatakan, segala sesuatu yang indah dan akan kita capai tidaka akn secepat dan semudah yang kita bayangkan tapi, saya YAKIN !!!… kita PASTI BISA !!!.
    jadi inget peptah RA Kartini, Dengan menolong diri sendiri kita bisa menolong orang lain jauh lebih sempurna.
    WBT Ditakdirkan untuk merubah yang tidak menjadi baik, yang tadinya baik menjadi lebih baik, yang tadi nya lebih baik menjadi sempurna.
    wassalam

  11. Buyung Goyanggg…. kamu inspirasi sibuk nikmat bagian anak muda.
    Perjaka Mulia emang paling pantes hehehe…
    Ini juga aku alami dari cerita dari pemilik Yayasan Amaliah, tentang polisi cepek ditikungan yang dikasih modal usaha justru memilih terus menjadi polisi cepek demi penghasilan yang besar tapi sifatnya sementara dan pendapatan aktif.
    Ironis, tapi ya memang demikian adanya, makanya harus banyak buyung-buyung alias perjaka-perjaka mulia yang menggalakkan dan memotivasi mereka untuk sibuk nikmat penuh berkah dunia akhirat.

  12. betul bu mira, jika kita mau cari harta maka cari lah, tapi harta ituh harus bisa mengantarkan kita ke jalan ridhonya (syurga) karena harta itru tidak di bawa mati, tetapi di pertanggung jawabkan… 🙂
    stuju bu mira

  13. @mas wantik, @dian yuk.. kita sama sama ngebangun negri ini lebih makmur dan terhormat, saya di beri amanah oleh warga malaysia yang jadi orantua dan sodara2 angkat saya, untuk saya menjadikan indonesia lebih makmur dan terhormat, karna pada th 70-90 malaysia-singapore mengakui indonesia adalah negara pedoman mereka, itu mereka yang berucap langsung ke saya ketika sy di undang untuk sharing motivasi di Kuala terengganu Malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.