Dimana Urusan Akhiratmu?

dunia.jpg

Suatu hari ada yang mengingatkan saya, “Mas Jamil ini sibuk terus urusan dunia, kapan bagian untuk akhiratnya?” Saya pun menjawab, “Semua urusan bagi saya adalah untuk akhirat.” Dalam pemahaman saya, semua hal yang diniatkan karena Allah dan cara melakukannya benar adalah ibadah. Dan itu berarti juga untuk kepentingan akhirat

Urusan akhirat tak harus di tempat ibadah. Urusan akhirat ada di setiap tarikan nafas dan disetiap tempat. Ingat Allah SWT juga bukan hanya saat beribadah tapi dalam semua aktivitas yang kita lakukan. Kita perlu berusaha keras agar semua hal yang kita lakukan bernuansa akhirat.

Pekerjaan atau berbisnis bisa menjadi urusan dunia bila hanya sekedar bekerja dan mengejar penghasilan. Namun bekerja atau berbisnis bisa bernuansa akhirat bila sebelum bekerja meniatkan diri karena Allah. Saat bekerja tidak menyimpang dari aturan Allah dan selalu merasa diawasi Allah. Dan usai bekerja bersyukur dan menyebut nama Allah.

Memisahkan urusan dunia dan akhirat justru penyebab hati resah dan gelisah. Seolah bekerja, berbisnis, tidur, menemani anak sekolah, bertemu dengan banyak orang adalah urusan dunia. Sementara ibadah hanya dimaknai ritual atau saat di tempat ibadah. Ini pemahaman sekuler yang sering hinggap di hati banyak orang. Menjerumuskan.

Yang benar bahwa kita perlu menetapkan skala prioritas. Mana diantara kegiatan yang kita lakukan berdampak besar bagi kemulian agama, negeri, diri dan umat manusia. Ada prioritas bersama yang perlu kita lakukan dan juga ada prioritas pribadi yang sangat tergantung dengan latar belakang dan kondisi kehidupan seseorang.

Setiap orang yang berakal sehat akan bisa menemukan mana skala prioritas yang harus ia kerjakan. Hormatilah pilihan orang tersebut. Sebab setiap manusia yang melakukan kegiatan dengan nuasa akherat anggaplah sebagai puzzle-puzzle yang saling melangkapi. Tidak baik saling merendahkan apalagi melemahkan.

Apapun yang kita jalani pasti digoda setan. Orang yang rajin ibadah bisa hilang pahalanya karena sombong merasa lebih suci dibandingkan yang lain. Orang yang rajin bekerja juga akan kehilangan pahala bila saat bekerja ia tidak membawa serta Allah dalam pekerjaannya. Bawalah nuansa akhirat dimanapun dan kapanpun. Setuju?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

14 thoughts on “Dimana Urusan Akhiratmu?”

  1. indra says:

    Setuju dgn sangat…..:)

  2. andy sukma lubis says:

    Setuju beh…meniatkan semua usaha yang dilakukan sebagai bentuk ibadah utk mencari ridho-Nya. Jika yang dilakukan bisa membuat Tuhan tersenyum…lanjutkan. Tapi jika tidak, maka bisa kita tinggalkan.

    1. Jamil Azzaini says:

      Yes…peluk

  3. Pujo Nugroho says:

    Tapi setahu saya di pembahasan qimah memang tidak bisa dicampur antara qimah madiyah dengan qimah ruhiyah.

    1. Jamil Azzaini says:

      Bisa dijelaskan lebih lengkap?

  4. EventJogja.Com says:

    kuncinya mengenal diri dan menetapkan skala prioritas ya om 😀

    1. Jamil Azzaini says:

      Kuncinya mengenal Allah…

  5. Irman says:

    Setuju.. Makan dengan tanpa bismillah ya memang sama2 kenyang. Kalo dgn bismillah + berkah, karena rasa syukur yang telah dianugerahkanNya. Semoga setiap perbuatan kita mengantarkan ke SurgaNya. Aamiin

  6. wawan says:

    Wa maa kholaqtul jinna wal insaa illa liya’buduun..

  7. bangmufid says:

    update trus tulisan gurunda Jamil Azzaini, insya Allah inget akherat..
    dunia nya juga ngikut, lengkap dah

    2 jempol buat gurunda, top banget dah pokok nya,, he3x

  8. Dindin Awaludin says:

    Setuju kek. Tak ada yang baik pada dunia, kecuali apa yang dapat membantu kita sampai kepada Allah 🙂

  9. Mayang says:

    This–>> Tidak baik saling merendahkan apalagi melemahkan

    Thank you, Gurunda. Terjawab sudah keresahan dalam jiwa…

  10. reda says:

    pengen nangis mbacanya, terharu saya Pak

  11. Arya says:

    setuju banget, bungkus ya kek 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.