Dikritik

kritik.jpg

Salah satu cara untuk “naik kelas” adalah kesedian diri menerima kritik. Mudah diucapkan namun perlu kesiapan mental menerimanya. Saya sendiri termasuk orang yang masih terus belajar menerima saran dan kritik. Terkadang senang menerimanya, terkadang gundah gulana.

Namun saat gundah gulana datang melanda, nurani saya berkata, “Itulah tanda kamu mulai sombong, merasa diri sudah sempurna. Itulah tanda bahwa kehidupanmu mandeg tak berkembang. Itulah tanda dihatimu ada noktah dosa yang sudah mulai menggurita.”

Bagaimana agar kita senang dikritik? Pertama, ketahuilah sang pengkritik itu mencintai kita. Seorang yang membenci dan “memusuhi” kita sangat senang bila kita salah atau melakukan kebodohan. Dan tentu mereka akan membiarkan kita berkubang dalam kesalahan dan kebodohan agar kehidupan kita semakin terpuruk.

Sementara sang pengkritik justru mengingatkan bahwa kita sedang keliru dan melakukan kedunguan yang tiada kita sadari. Mereka tidak ingin kita terjerumus terlalu lama apalagi menyebabkan kehidupan kita hancur. Ingatlah, sahabat sejati bukanlah yang hanya pandai memberi puja dan puji. Sahabat sejati adalah yang mengingatkan saat kita alpa dan bergelimang dosa.

Kedua, sang pengkritik itu penyelamat kita. Ibarat serangga dan lampu. Bila kita ibaratkan diri kita serangga dan lampu adalah kesalahan yang akan kita lakukan maka sang pengkritik adalah “penghalau” serangga yang hendak mendekati lampu. Sang penghalau tak ingin serangga itu mati setelah menabrak lampu. Begitu pula sang pengkritik tak ingin kita celaka karena ulah kita yang ingin melakukan sesuatu yang terlihat mempesona.

Ketiga, kritikan itu ujian. Apabila kita marah dan emosi saat dikritik itu pertanda kita belum siap naik kelas. Perlu ujian susulan alias remedial di pelajaran yang manjadi dasar kritikan. Terimalah kritikan dengan lapang dada yang dilanjutkan dengan tindakan perbaikan. Begitulah sikap kita terhadap kritikan agar kita pantas naik ke kelas kehidupan yang lebih tinggi.

Dikritik itu asyik apabila Anda punya persepsi seperti yang saya ungkapkan di atas. Sebaliknya, dikritik itu menyakitkan apabila Anda menganggap bahwa itu adalah bentuk kebencian orang lain kepada Anda. Apabila Anda enggan dikritik maka bersiaplah untuk tidak naik kelas, dan bersiap pula hidup Anda dilindas zaman. Mau?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

4 thoughts on “Dikritik”

  1. pristiana says:

    Kek,, WBT ada lg kapan kek?

    1. Jamil Azzaini says:

      Insya Allah 26-28 Februari 2016

  2. indra says:

    Dmna wbt nya babe,kalo buat pertama ikut bs

    1. Jamil Azzaini says:

      Wbt memang buat siapapun yang ingin bisa bicara di depan audiens, tidak harus trainer

Leave a Reply

Your email address will not be published.