Dibully Teman vs Ditulari Karisma Orang Tua

Harri Firmansyah RBullying ternyata bukan hanya ‘happening’ akhir-akhir ini saja. Meskipun dengan berbagai istilah yang berbeda di setiap jamannya, bullying ini sudah terjadi dari dulu kala dengan ke-khas-an yang sama sampai saat ini : “menciderai yang dianggap lemah dan menjadikannya target bulan-bulanan”.

Tapi tunggu dulu, tidak setiap objek bullying menjadi korban. Inspirasi Kick Andy Show, Jumat malam, 4 Juli lalu memperlihatkan dengan jelas bahwa bullying bukan hanya bisa dilawan, tapi juga bisa dimanfaatkan dengan baik sebagai bekal kehidupan. Seorang anak memang belum bisa memahami ‘pemaknaan’ dalam setiap segmen episode kehidupannya, termasuk ketika mereka dijadikan bahan olok-olokan teman temannya.

Pada saat itulah peran krusial orang tua harus dimainkan dengan sangat apik, membantu anak-anaknya untuk bukan hanya memahami apa yang terjadi dengan pemahaman sederhana level mereka, tapi senantiasa kembali bangkit ketika hal yang menyakitkannya terjadi berulang kali.

Bagaimana peran luar biasa orang tua itu bisa tersampaikan dengan baik ?? Setidaknya tadi malam kita bisa belajar dari apa yang dilakukan oleh orangtua Bpk. Jamil Azzaini berpuluh tahun lalu terhadap anaknya yang kini menjadi inspirasi besar peradaban sukses mulia. Dengan kesederhanaanya, apa yang dilakukan oleh orang tua Pak Jamil selaras dengan apa yang diajarkan oleh Guru “Karisma” dunia, Olivia Fox Cabanne.

Beliau dalam bukunya The Charisma Myth menyebutkan, ada tiga syarat yang harus dimiliki untuk seseorang yang ingin mengkreasi ulang karismanya, termasuk karisma orang tua dihadapan anak-anaknya. Being Presence, power dan Warmth. Karena kebanyakan tipe orang Indonesia kuat dalam ‘feeling’ , maka dalam artikel ini urutannya saya sedikit balik, Presence ~> warmth ~> power

1. Presence
Hadirlah, yup..hadir. Sering kita, sebagai orang tua, ada dihadapan anak-anak kita tapi tidak pernah ‘hadir’ untuk mereka. Seringkali, saya dan mungkin juga Anda, masih berkutat dengan gadget kita ketika anak-anak kita ingin bercerita kepada kita. Ayah Pak Jamil berbeda, ia selalu hadir untuk anaknya.

Pengaruh terbesar yang beliau berikan untuk Jamil kecil, justru bukan dari ‘penuturan’ tapi dari ‘kesediannya mendengar’ curahan hati anak-anaknya. Beliau menghadirkan diri untuk anak-anaknya.

2. Warmth
Ini adalah alasan kenapa banyak anak yang lari untuk cerita kepada orang lain dibanding kepada orang tuanya. Ketika anak-anak kita malah mengidolakan tokoh-tokoh hasil penciteraan media dibanding orang tuanya, Inilah penyebab terbesarnya. Poin kedua dan ketiga ini adalah hasil dari proses yang pertama. Warmth – kehangatan – hanya akan muncul ketika seorang anak merasakan kehadiran orang tuanya.

Hanya ketika “kehangatan” itu ada maka manusia mau bercerita. Tanpa itu ? Mereka tidak akan mau terbuka, karenanya mereka betah dirumah atau malah mencarinya di luar rumah.

3. Power
Seberapa sering kita dapatkan kenyataan, dimana anak-anak di usia remajanya sudah tidak mau mendengar apa kata orang tuanya. Iya, hal itu terjadi karena orang tuanya tidak pernah hadir untuk anak-anaknya ketika mereka kecil, anak-anak tidak pernah merasakan kehangatannya, dan hasilnya menimpa si orang tua itu sendiri. Ia bertumbuh menjadi orang tua yang tidak punya kekuatan didepan anak-anaknya., Naudzubillah..

Hadirnya orang tua didepan anak-anaknya, hangatnya pancaran kasih yang orang tua berikan untuk anak-anaknya, akan menjadikan kita sebagai orang tua yang memiliki kekuatan. Apa yang diucapkan dan dilakukan orang tua Pak Jamil bisa masuk dan terintegrasi sangat dalam di jiwa anaknya, karena ia memiliki kekuatan penuh untuk itu. Beliau melakukan syarat prosesnya dari awal. Powerfull !!.

Karisma, lanjut Olivia, “selalu hadir antara kehangatan dan kekuatan”, menjadi orang tua yang hangat sekaligus tegas untuk urusan-urusan yang prinsip akan membentuk kita menjadi orang tua yang karismatik. Karismatik bukan untuk kemuliaan kita, tapi karismatik untuk kesuksesan dan kemuliaan anak-anak, generasi penerus kita, seberat apapun tantangan yang mereka hadapi kini di jamannya.

Ayah Bunda, Siapkah kita meng-upgrade karisma kita dimulai dengan benar – benar hadir dihadapan anak-anak kita ?

Harri Firmansyah R – @PassionateHarri

Bagikan:

2 thoughts on “Dibully Teman vs Ditulari Karisma Orang Tua”

  1. berita bola says:

    iya, harus lah itu menjadi penekanan bagi orang tua bahwa, jika anak tidak boleh berlaku atau memaksa kan kehendak yang akhirnya membentuk karakteristik bully. jangan bilang ini perihal tanggung jawab sekolah saja, melainkan peran orang tua yang sebenarnya lebih meng-influence pembentukan karakter anak

  2. dr Hajar Fatma Sari says:

    SuKKKakkk!!!! Pen jadi ortu kek gitu… Aamiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published.