Dibalik Strong Value KUBIK

CEO Words
Sabtu, 5 Maret 2016

Rendy Saputra, CEO Keke Group

Rendy Saputra, CEO Keke Group

Saya mengenal KUBIK (Kubik Kreasi Sisilain) sejak akhir 2011. Sejak saat itu pula, saya selalu mengamati dari kejauhan, bagaimana KUBIK berhasil bertumbuh setahap demi setahap di industri edukasi nasional.

KUBIK adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan SDM. Secara kasat mata, kita akan melihat bahwa produk KUBIK ada di seputaran training. Namun jika sahabat lihat lebih dalam, KUBIK telah berhasil membangun berbagai pendekatan kepada klien, seperti coaching, mentoring hingga konseling.

Yang membuat hati saya bertanya-tanya, bagaimana KUBIK dapat diterima di hampir TOP 100 Fortune perusahaan di Indonesia. Konon, nilai omset transaksi KUBIK mencapai puluhan M rupiah.

Awalnya saya tidak percaya, namun setelah saya membersamai KUBIK, saya dapat melihat secata kasat mata, bagaimana perusahaan-perusahaan besar memutuskan menjadi klien KUBIK. Satu program bisa berjalan puluhan batch. Benar-benar mengejutkan saya sebagai seseorang yang pernah mencoba masuk ke Industri ini.

Di buku “Rise Above The Crowd” yang ditulis oleh Mas Indrawan Nugroho, Mas Indra menyebutkan tentang bagaimana Mas Jamil Azzaini dapat dibayar 90 juta rupiah oleh sebuah perusahaan untuk dua jam training.

Mas Indra menceritakan tentang seseorang yang bingung dengan angka tersebut. Mas Indra pun menjelaskan tentang apa yang disampaikan oleh Pak Jamil. Seseorang itupun berkomentar, “Ah, saya kalau ngisi begitu doang juga bisa. Gak rasional banget 90 juta.”

Hehehe… Saya dulu juga begitu. Bingung. Ketika Anda membaca tulisan ini, saya rasa Anda juga bingung. Maka semoga tulisan ini dapat menjawab kebingungan Anda.

Ini juga yang menjadi salah satu dorongan saya menulis tentang bisnis KUBIK. Jika saya membahas tentang KeKe Busana, Anda dapat dengan mudah menjelaskan value dari sebuah produk baju: model, kualitas, desain, bahan dan brand. Namun untuk memahami “pita suara” berharga 90 juta, kita akhirnya akan belajar bagaimana sebuah value dibentuk.

Jawabannya sebenarnya sederhana, KUBIK tidak pernah menjual Jamil Azzaini. KUBIK juga tidak menjual slot training. KUBIK juga tidak menjual knowledge. Tapi KUBIK menjual sesuatu yang lebih dari itu semua. Sebuah layanan yang dihadirkan secara menyeluruh.

Tulisan ini memang cukup berani. Saya sudah minta ijin untuk menulis tentang hal ini tanpa lebih dahulu dilihat oleh Pak Jamil. Saya akan menuliskannya secara objektif, sesuai dengan pengamatan saya sebagai insan pebisnis.

*****

Berikut beberapa hal yang kita tidak sadari tentang KUBIK.

1. Tidak menjual “person”, KUBIK menjual “KUBIK”
Dalam sehari, KUBIK dapat melayani beberapa klien dalam waktu yang bersamaan. Dalam satu hari, KUBIK dapat menjalankan lebih dari 4 training sekaligus. Maka tidak mungkin KUBIK menjual person. KUBIK telah berhasil membangun value sebagai organisasi.

KUBIK menyaring ketat para Associate Trainer-nya. Setiap Trainer KUBIK dinilai terus menerus, ada rapot dan terus menerus ditumbuh kembangkan. Ini yang menarik. KUBIK seakan menjadi sekolah bagi para Trainernya.

Bukan hanya itu, modul yang di produksi oleh KUBIK juga sangat detail dan dalam. Setiap Trainer dididik serius untuk segera catch up ke modul. Serius sekali.

Jadi ini tentang sistem. Bukan lagi tentang individu hebat seorang trainer. Jika KUBIK sudah memutuskan untuk mengangkat seorang Associate Trainer, berarti trainer tersebut sudah mencapai standard kualifikasi KUBIK. Inilah sistem yang dibangun KUBIK.

2. Faham kebutuhan Klien
Tim jualan KUBIK tidak bernama tim marketing. KUBIK hanya mengenal Trainer Advisor. KUBIK memposisikan tim “marketing” sebagai mitra diskusi klien. KUBIK tidak berfokus menjualkan produknya, KUBIK berfokus pada masalah klien. KUBIK berfokus untuk membantu kliennya dalam menghadapi permasalahan klien.

Inilah kehebatan KUBIK yang kita tidak sadari, mereka tidak memulai jualan dari penjelasan produk training, mereka memulai dari problem yang dihadapi Klien. TOP.

KUBIK tidak hanya memiliki tim “jualan” dan “pelaksana” program. Di KUBIK, ada tim yang menyiapkan data klien secara detail. Saya dapat menerima beberapa file tentang klien yang saya hadapi. Hal itu menegaskan seriusnya KUBIK melayani klien.

Saat training berlangsung, KUBIK memiliki metode individual approach. Seorang trainer hanya berkontribusi sekitar 60% saja, 40% sisanya adalah sentuhan para facilitator yang berlangsung didalam grup-grup kecil. Ini kekuatan KUBIK : sentuhan personal.

Setelah training berlangsung, KUBIK memiliki tim yang berfokus untuk mengevaluasi hasil training. Bagaimana performa trainer, bagaimana respon peserta, bagaimana dampak ke peserta. Dan hal tersebut disajikan secara kuantitatif ke pihak klien. Detail sekali.

3. Impact sebagai Value
Di KUBIK, ada program KTA (KUBIK Trainer Academy). Program KTA adalah fasilitas sekolah bagi trainer KUBIK untuk terus dapat berdampak bagi kliennya.

Di KTA, KUBIK telah menegaskan diri bahwa KUBIK tidak menjual Training. Tidak pula menjual knowledge. Kami dididik bahwa strong value yang KUBIK hadirkan adalah impact.

Dampak menjadi sebuah value kuat yang kubik hadirkan. Semua proses bisnis di KUBIK dikonsentrasikan untuk mempertajamkan impact pada klien.

Saya rasa, tidak ada perusahaan provider training yang serius membangun trainernya, modulnya, dan sistem operasinya.

*****

Paparan sederhana diatas adalah beberapa alasan yang mendorong diri Saya untuk bergabung menjadi bagian dari KUBIK. Dengan wahana KUBIK, Saya diberi kesempatan untuk terus berbagi atas apa yang saya fahami dan mendorong hadirnya dampak baik bagi beberapa perusahaan di Indonesia. Bersama KUBIK, Saya juga mendapatkan pembelajaran yang tak akan mampu saya bayar dengan biaya berapapun.

Sahabat Ziders bisa belajar dari KUBIK. Bagaimana KUBIK menghadirkan sebuah training dengan value yang sangat tinggi. Makin mendalami KUBIK, maka saya yakin kita akan mengucapkan hal yang sama: “Pantas KUBIK mahal.”

Rendy Saputra
CEO KeKe Group

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.