Debat Dalam Perpektif Leadership

Debat Dalam Perpektif Leadership

Share this
  • 39
  •  
  •  
  •  
  •  
    39
    Shares

Saya kecewa saat menyaksikan debat antar Capres-Cawapres 17 Januari 2019. Memgapa saya kecewa? karena menurut saya, hakekat debat tidak tampak dalam acara tersebut. Debat adalah seni persuasi, percakapan pikiran, ide dan gagasan. Seyognyanya yang diadu adalah isi kepala, kemampuan memberikan solusi atas berbagai masalah yang ada serta kemampuan memprediksi masa depan beserta antisipasi menaklukkannya.

Debat bukan ujian, sehingga tidak perlu diberikan kisi-kisi pertanyaan. Sungguh, memberikan kisi-kisi pertanyaan kepada peserta debat telah mendegradasi makna dan hakekat debat. Unsur spontanitas hilang, sehingga kita sulit mengukur orisinilitas dari peserta debat karena semua jawaban pertanyaan sudah disiapkan oleh tim suksesnya, bukan oleh dirinya.

Dunia berubah begitu cepat, kita memerlukan pemimpin yang siap dan terbiasa mengambil keputusan cepat dan tepat. Hal ini bisa terlihat apabila debat yang dilakukan menggunakan berbagai pertanyaan spontanitas, bukan pertanyaan yang sudah disiapkan. Seorang pakar sejarah Arnold Tonybee mengingatkan “Kebangkitan dan kemajuan umat manusia sangat ditentukan oleh kemampuan seseorang merespon secara tepat dan cepat masalah tantangan yang dihadapinya.

Debat itu selain adu ide dan adu gagasan, juga adu bahasa tubuh. Mark Gearan seorang alumni Harvard University dan Georgetown University mengatakan “Setengah dari pertempuran adalah bahasa tubuh.” Sayangnya, dalam debat Capres-Cawapres pertama yang saya lihat bahasa tubuh formal, kaku dan kurang dinamis. Hanya ada kejadian-kejadian kecil yang cukup asli dan alamiah sekaligus menghibur, salah satunya saat Prabowo berjoget dan Sandiaga Uno kemudian memijat dari belakang.

Debat juga bukan adu merendahkan atau menyerang pribadi “lawan” namun yang diserang adalah visi, misi dan program hingga bagaimana realisasi di lapangan. Berkaitan dengan ini, dosen pembimbing saya saat saya kuliah Pascasarjana di IPB, Prof. Gumbira Said mengingatkan “Pemimpin yang berbicaranya lebih sering menanggapi berita dan kejadian adalah pemimpin masa lalu, tidak diperlukan. Pemimpin yang yang bicaranya lebih sering menyerang pribadi orang lain sebenarnya belum layak disebut pemimpin. Pemimpin yang visioner dan layak menjadi pemimpin adalah apabila yang dibicarakannya ide dan gagasan serta masa depan yang lebih menantang

Baca Juga  Meroket Dengan Kursi Roda

Untuk mengetahui kapasitas, kapabilitas dan kualitas yang orisinil calon pemimpin Indonesia, sebaiknya pada debat selanjutnya tidak ada kisi-kisi pertanyaan, tidak diperbolehkan menyerang sisi pribadi lawan debat, bebas mengekspresikan bahasa tubuh sehingga rasanya tidak perlu ada podium. Apabila hal ini dilakukan, kita mulai bisa menakar dan mengukur siapa yang sebenarnya layak menjadi PEMIMPIN kita pada periode berikutnya.

Mari kita tunggu, debat selanjutnya, debat yang benar-benar debat,

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini


Share this
  • 39
  •  
  •  
  •  
  •  
    39
    Shares

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer