Curcol Seorang Bapak

Share this
  • 19
  •  
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares

Pekan lalu, saya menghadiri wisuda dua anak saya. Satu lulus SMP, yang bungsu lulus SD. Entah sejak kapan, kelulusan SD dan SMP menggunakan istilah wisuda. Di dua acara di sekolah dan hari yang berbeda itu entah mengapa pula saya selalu banjir air mata. Beruntung saat sambutan mewakili orang tua siswa saya bisa menahan air mata untuk tidak tumpah.

Air mata pertama mengalir saat tim paduan suara menyanyikan Hymne Guru, “Terrpujilah wahai engkau ibu bapak guru…” Tiba-tiba kenangan saat sekolah dulu, berseliweran muncul. Saat SMP saya harus berjuang keras mencari biaya sendiri dengan cara menjadi buruh di perkebunan karet. Bukan karena orang tua saya jahat tetapi karena orang tua saya memang sangat melarat.

Terbayang pula saat orang tua saya mengambil raport saat saya SMA. Ia harus mengayuh sepeda butut ke sekolah padahal jaraknya lebih dari 23 km. Saat dipanggil maju, bapak saya masih bermandikan keringat, bajunya basah kuyup. Wajahnya terlihat lelah. Namun begitu menerima raport, ia tersenyum memadang saya. Ia angkat kedua tangannya sembari meneteskan air mata. Ya, ketika itu Wali Kelas memberi tahu bahwa saya rangking pertama.

Air mata terbanyak tentu keluar karena teringat anak-anak saya yang diwisuda. Tiba-tiba saya merasa khawatir bila ada sisi-sisi kehidupannya yang tidak tersentuh oleh cinta dan kasih sayang saya. Apakah mereka kelak siap menghadapi kehidupan nyata yang sangat berbeda dengan kehidupan di sekolahnya? Apakah ia bisa mengimbangi perubahan dunia yang begitu cepat dan menggilas siapapun yang tidak siap?

Apakah imannya selalu terjaga saat ia terjun di dunia nyata? Apakah keberadaanya di dunia bisa memberi makna kepada sesama dan tidak menjadi “sampah” di tengah-tengah kehidupannya? Apakah nama saya selalu ada dalam lantunan doa yang sering ia latunkan? Apakah saya menjadi sosok yang memberikan energi bagi mereka atau justeru menjadi sosok yang ditakuti oleh mereka?

Baca Juga  Awalnya... Akhirnya...

Pikiran dan pertanyaan-pertanyaan lain berkecamuk sembari saya mengikuti acara. Berbagai pikiran dan pertanyaan itulah yang membuat air mata terkadang menetes di pipi. Bila air mata membanjiri pipi, saya meminta izin kepada istri saya untuk menangis di dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi saya bercermin sembari bertanya, “Sudahkah saya menjadi orang tua yang penuh kasih sayang dan penuh pengorbanan? Sudahkah saya menjadikan pendidikan dan penyiapan masa depan anak-anak menjadi prioritas utama? Apakah rumah saya sudah menjadi tempat pembelajaran atau hanya sekedar tempat berkumpul?”

“Anakku, bapak memang bukanlah ayah yang sempurna. Semoga dengan ketidaksempurnaan ini tetap bisa mengantarkanmu menjalani hidup yang benar-benar hidup. Hidup yang dicintai penduduk langit, hidup yang bermartabat, hidup yang memberi banyak manfaat kepada penduduk bumi. Hidup SuksesMulia sampai mati.”

“Maafkan bila bapakmu tidak sesuai harapanmu… Tetapi percayalah, bapak selalu berusaha memberi yang terbaik kepadamu. Menyiapkan bekal sesuai passionmu. Selalu membantumu untuk terus berlari mengejar impian-impianmu. Dan yang lebih penting membantumu untuk menjadi kekasih dari Sang Maha Pengasih.”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook


Share this
  • 19
  •  
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares

19 comments On Curcol Seorang Bapak

  • Subhanalloh,,,

  • Kadang saya pun khawatir kek ..apakah saya terlalu memaksakan kehendak kepada anak – anak dalam memilihkan sekolah buat mereka….tapi di sisi lain saya pun sebagai orang tua juga mengiginkan agar mereka kelak lebih baik dari orang tuanya karena mereka akan menghadapi zaman yang berbeda dengan zaman kita sebagai orang tuanya. Seperti kata Sayyidina Ali ra,”Didiklah anak – anakmu karena mereka akan hidup berbeda dengan zamanmu”
    Ya semoga anak – anak kita menjadi Qurrotu’ayun seperti do’a yang selalu kita lantunkan…Aamiin

  • Cecep Saprudin

    Tulisan hari ini banyak tanda tanya nya (?). Dan tanda tanya itu membuat saya termenung karena jawabannya masih belum saya dapat.
    Makasih Pak Jamil…. tulisannya ….. saya juga mau ke kamar mandi dulu nih.
    gak enak dilihat teman2 di sebelah….

  • Zahra Rabbiradlia

    Semangat selalu kek 🙂
    Oya tentang wisuda, adikku yang kelas 4 SD baru saja di wisuda tahfidz. Sekarang dari level pendidikan paling dasar pun sdh ada wisudanya 🙂

  • mas shohib khan

    subhanaallah….

  • Jadi teringat dengan Alm.Bapak…beliau juga luar biasa …senangnya P jamil masih ditungguin sama Bapaknya hiks..hiks..

    • Saya memang selalu berusaha hadir saat anak saya bagi rapot. Sebab anakku happy banget kalau saya datang 🙂

  • lailia maghfiroh

    merinding kek bc crita wkt bpky kek jamil ambil rapot….beruntung bnget smpe saat ni bpk msh sehat n bs melihat kesuksesan kek jamil. pasti beliau bangga bnget…..smoga amal kebaikan kek jamil jg dpetik pahalanya oleh bpk. amien

  • alhamdulillah…saya bisa.menemukan tulisan ini……jadi saya bisa mempersiapkan diri jadi ayah yg terbaik……selagi anak saya masih berusia 5 tahun.terima kasih inspirasinya kek jamilazzaini

  • assalamualaikum kek jamil ,kebetulan kita sama sama lahir dibulan agustus tapi beda tahun dan berbintang yang sama leo ,apa yang kek jamil rasakan waktu wisuda anaknya sama persis dengan yang saya rasakan waktu saya menghadiri anak kembar saya wisuda TK. B , saya juga terharu …salam sukses mulia guru ku kek jamil..

  • Semoga kelak bisa jadi ayah yang baik kaya kek jamil buat anak2 ku kelak…*ingin cepet nikah jadinya

  • ternyata yang curcol itu kakek toh? kok saya jd ikut nangis jg yah???
    senin kemarin, sebelum saya berangkat utk isi training di jambi, saya jg berusaha hadir pada saat pembagian raport anak tertua saya, alhamdulillah naik dari kelas 1 ke kelas 2 SD dengan nilai yang bagus.
    curcol kakek ini sangat menginspirasi kami untuk bisa menjadi panutan, mendampingi, memberikan kasih sayang, & mendorong ke-3 anak kami yg masih kecil agar lebih baik dari orang tuanya.
    Doakan kami kek.

  • Subhanallah….. Andai kesadaran itu ada pd suami sy.. Betapa bahagianya anak2 sy. Mhn doanya kek,.. Suami sy d sadarkan bhw mendidik anak itu tdk hny kewajiban seorg ibu. Aamiin.

  • Subhanallah hanya bisa terdiam dan menangis maksih tuan guru

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer