Cinta Itu Melelahkan

Dita Lupita SariKetika tulisan ini dibuat, saya sedang teringat teman saya yang pernah mengalami patah hati yang teramat sangat. Mengenal seseorang yang sangat dekat dengan kriteria pasangan impiannya membuatnya meletakkan seluruh hati pada hubungan tersebut. Menyakitkan memang, ketika hubungan tersebut kandas di tengah jalan.
 
Bertepuk sebelah tangan. Karena sang pujaan hati tidak memberi kadar hati yang sama. Ini membuat teman saya emosi dan frustasi membuat teman saya terus memuntahkan semua asupan makanan, hingga tubuhnya menyusut setiap harinya. Sungguh cinta yang melelahkan.
 
Teringat pula pada seseorang yang saya kenal yang sangat mencintai ibunya. Ibu yang mengharap anaknya sukses secara akademis dan dapat membanggakan orang tua. Karena takut mengecewakan ibunya,dia belajar mati-matian demi meraih gelar sarjana dengan nilai tertinggi. Seringkali dia mengalami depresi yang amat sangat ketika musim ujian tiba. Bahkan penyakit muntahber menjadi penyakit rutin dalam musim ujian.
 
Hingga suatu hari dalam keadaan tergeletak di kasur karena muntahber, dia menelepon ibunya dan meminta maaf. Maaf jika dia tidak bisa membalas semua kasih sayang dengan mewujudkan semua harapan ibu. Harapan yang sangat tinggi akan keberhasilan duniawi dan kecintaan yang besar untuk seorang manusia. Cinta yang melelahkan.
 
Mungkin saya dan pembaca sekalian pernah mengalami hal yang serupa dengan kisah di atas. Kecintaan terhadap seseorang atau sesuatu yang amat sangat sehingga kita menjadikan diri kita tenggelam dalam kecintaan tersebut. Sehingga ketika seseorang itu pergi atau sesuatu itu lenyap maka seolah kehidupan kita pun ikut pergi dan lenyap.
 
Sungguh cinta itu melelahkan, karena kita mencintai sesuatu yang lemah. Orang tua, suami, istri, anak, harta, pendidikan dan jabatan semuanya itu lemah. Orang tua kita manusia biasa yang pasti mati suatu hari nanti. Pasangan dan anak kita manusia biasa yang pasti akan mengecewakan bahkan mereka pun tidak bisa selalu ada bersama kita selama 24 jam.
 
Kecewa muncul ketika kita bertemu masalah ternyata sandaran atau yang kita cintai, tidak ada untuk mendengarkan keluh kesah kita. Rasa pilu itu besar semakin besar, ketika orang yang kita cintaiuntuk kita andalkan harus pergi untuk selamanya. Seperti layangan putus yang kehilangan arah, seperti itulah ketika kebergantungan kita diletakkan pada mereka yang lemah.
 
Dimanakah cinta yang tak melelahkan itu? Hanya kecintaan kepada sang Pencipta. Dia adalah dzat yang akan mendengarkan keluh kesah kita setiap saat. Dia adalah dzat yang akan hadir setiap waktu. Bahkan Dia akan mendekat lebih dari cara kita mendekat. Cinta bertepuk sebelah tangan? Tidak akan terjadi jika kita mencintaiNya.
 
Dia tidak akan mati dan meninggalkan kita. Dia akan hadir membimbing kita ke arah jalan yang lurus untuk meraih kemuliaan di dunia dan kemuliaan di hari akhir kelak. Maka cintailah Dia terlebih dahulu dan cintailah mereka karena Nya. Mencintai yang Maha Tinggi itulah keindahan cinta.
 
Tulisan dikirim oleh Dita Lupita Sari

Bagikan:

13 thoughts on “Cinta Itu Melelahkan”

  1. Yuniarti Fazri says:

    membacanya mengingatkanku pada seorang,
    ia berharap ada manusia yang akan mendengarkan setiap keluhnya
    memberinya motivasi setiap ia lemah
    ia merasa tak punya tempat bersandar
    ia melupakan Al khaliq yang telah memberinya hidup
    Al khaliq yang selalu mengharapkan rintihannya ketika malam
    ia tak ingat bahwa ketika ia mendekat kepada Allah dengan berjalan maka, Allah akan mendekatinya dengan berlari.
    ia kelelahan sendiri padahal ada Sang Maha Perkasa yang selalu menantinya.

  2. basith says:

    Artikelnya bagus sekali, org yg mampu mencintai alloh melebihi yg lain maqomnya sudah diatas ma’rifat, dan yakin hidup nya akan dijaga dan dicukupi oleh alloh,spt petani yg menanam padi pasti tumbuh rumput, tetapi jk menanam rumput tdk mungkin tumbuh padi, artinya mengutamakan alloh harta dunia pasti tercukupi, klo terlalu fokus mengejar dunia ketentraman batin dan spiritualitas tdk akan digapai

  3. princess amanda says:

    yes…Allah dulu..Allah lagi..Allah terus…
    Allah segala2nya…galau curhat sm Allah…kurang omzet curhat sm Allah sambil terus ikhtiar…
    pokoknya apaaaaa aja minta n ngadu sm Allah…insyaAllah urusan slsai dan Allah akan beri jalan keluar buat qt dari jalan yang qt sgt tdk sangka….merinding ketik comment ini…
    paling suka minta apa aja sm Allah krn Allah selalu memberi yg terbaik….Allahu Akbar…

    salam sukses mulia…

  4. andriansyah says:

    Cinta Kepada Allah…Memberikan harapan tanpa Putus….Anti Galau.

  5. dita lupita says:

    produktif amar ma’ruf dan nahi munkar.. mencintai Allah dan mencintai makhluk karenaNya

  6. em you says:

    siip..lah Allah cinta kita segala-galanya..cinta anak, orangtua, suami atau yang lainnya semua karna Allah

  7. Budi says:

    Alhamdulillah,… saya bertemu orang2 yg mencintai Alloh diatas segalanya bahkan nyawa mereka sendiri. Ya mereka pernah ikut jihad di negeri2 terjajah. Namun kehidupan dunia mereka lebih dari tercukupi. Ya robb satukanlah kami di jannahMu bersama para Nabi, sidiqqin, syuhada dan solihan, amin

  8. sharah says:

    everything sake for Allah 🙂

  9. nina suryani says:

    Allah segalanya, artikel ini telah menyadarkan saya dari angan yang terlalu jauh, terima kasih mba dian.
    salam kenal.

  10. masruriisme says:

    jadi cinta Allah tidak melelahkan, kaaan? 🙂

  11. nursila buluatie says:

    kembali ke akar cinta : Allah.. cabut akar cinta selain Allah..

  12. toreni azkiya says:

    Cinta itu melelahkan. Lelah memikirkan yg tdk pasti, lelah menunggu yg tidak bs dinanti, lelah mengupayakan sekuat hati tapi tak berbalas kebahagiaan sejati.

    Hanya Allah cinta hakiki. Tak mengenal patah hati. Tak mengenal cinta sesisi. Pada-Nya, cinta berakhir surga. Dengan-Nya, cinta memberi tawa, hidup menjadi berwarna.

  13. Mantap tulisannya. Thanks atas remindnya untuk senantiasa memprioritaskan cinta kepada Allah melebihi dari segalanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.