Cerdas Tapi Labil

Alguskha Nalendra Pradana SArtikel ini ditulis di dalam kereta api di perjalanan saya menuju Cirebon. Begitulah, malam ini saya berangkat ke Cirebon untuk mengisi sebuah jadwal pelatihan yang diadakan Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon besok pagi. Sambil duduk menikmati perjalanan entah kenapa pikiran saya kembali melayang pada kasus yang saya tangani tahun kemarin.

Siang itu saya sedang berkunjung ke sebuah bank swasta yang cukup besar di daerah Bandung Utara, ketika itu salah seorang kolega yang bekerja di bank tersebut tiba-tiba memanggil saya dan meminta bantuan. Singkat cerita, ada seorang peserta management trainee di tempat itu yang memiliki masalah perilaku, ia sering pingsan mendadak di sela jam belajar dan bukan sekali dua kali membuat ulah yang cukup merepotkan rekan satu kelasnya.

Setengah penasaran saya pun mengiyakan, dan dipanggillah si peserta tersebut untuk dipertemukan dengan saya di sebuah ruangan khusus secara pribadi. Tak lama berselang si peserta masuk dengan wajah keheranan, terlebih mendapati saya yang notabene baginya orang asing, ketika itu kolega saya hanya memperkanalkan saya secara singkat, dan selebihnya saya yang memperkenalkan diri lebih jauh, sambil menjalin keakraban (building rapport).

Menarik sekali, setelah larut dalam perbincangan saya mendapati bahwa ia adalah pribadi yang cerdas, dalam artian yang sesungguhnya, wawasannya luas dan bahkan bahasa Inggrisnya lancar sekali. Sekali dua kali ia keceplosan mengucapkan kata dalam bahasa Inggris, sebagai seorang yang cukup lama menimba pengalaman di luar negeri telinga saya cukup tajam untuk mengenali seperti apa pengucapan yang dibuat-buat dan yang memang terbentuk melalui proses, dan bagi saya cara berbicara si peserta ini adalah gaya bicara yang terbentuk melalui proses, tak heran sebab ia menghabiskan masa kecilnya di Singapura.

Akhirnya percakapan terasa lebih hangat dan mengalir ketika saya pun berinteraksi dengan bahasa Inggris. Dalam hati saya meyayangkan pemuda secerdas ini memiliki catatan riwayat yang bermasalah di sebuah perusahaaan besar, akhirnya saya putuskan untuk memfasilitasi perubahan baginya yang memang ia sendiri sebetulnya menginginkannya. Setelah saya pastikan komitmennya maka proses kita lanjutkan.

Saya mulai dengan mengidentifikasi sumber-sumber masalahnya dan kemudian menguraikan struktur internal pikiran yang menjadi pemicu labilnya emosi. Intinya ia sulit fokus dan sering kehilangan kesadaran karena memikirkan hal yang bersifat pribadi yang berhubungan dengan keluarganya, sedemikian berat baginya memikirkan hal itu sehingga pikirannya memilih untuk ‘lari dari kenyataan’ dengan cara pingsan.

Karena terbatasnya waktu dan saya sendiri menemukan bahwa ia adalah seorang yang cerdas dengan komitmen yang kuat maka saya putuskan untuk menggunakan pendekatan sederhana saja, yaitu solution focused therapy, atau terapi yang berfokus pada solusi, teknik ini banyak digunakan di NLP. Berkebalikan dengan hipnoterapi yang fokus pada penelusuran dan penyelesaian akar masalah, teknik ini lebih fokus pada menyesuaikan struktur internal pikiran seseorang agar lebih memberi manfaat positif bagi dirinya.

Sesi pun dimulai, proses demi proses dilalui untuk mengubah beberapa driver pemicu emosi negatifnya, ditambah beberapa pembiasaan baru untuk pola berpikir yang baru, dan dalam 20 menit semuanya selesai! Ya, dengan tekad yang kuat ternyata ia mampu mendapatkan perubahan dengan begitu cepat.

Apakah selesai sampai disitu? Tidak juga, pembuktian sebenarnya ada di lapangan ketika ia bekerja nanti. Maka sesi itu saya sudahi dan kemudian beranjak pulang. Beberapa hari kemudian kolega saya mengabari bahwa ia mendapati perubahan yang tidak biasa pada diri peserta itu, gesturnya menjadi lebih prima, sorot matanya lebih bersinar, sikap kepemimpinannya meningkat dan ia semakin aktif terlibat di berbagai kegiatan pembelajaran dengan lebih baik.

Respon saya mendapati hal itu hanya bisa bersyukur pada Tuhan, di usia yang mungkin hanya singkat ini diberi-Nya kesempatan untuk bisa menyentuh hidup orang banyak, bukan hanya dari berbagai pelatihan yang saya berikan, tapi juga secara pribadi dalam sesi terapi dan coaching individu.

Begitulah, pikiran saya pun kembali tersadar di kereta api dalam perjalanan menuju Cirebon ini. Nampaknya mata sudah mulai tidak bisa kompromi dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Saya pun terpikir untuk menuangkan ide lebih banyak tentang mengapa seseorang bisa saja ‘cerdas tapi labil’.

Alguskha Nalendra Pradana S

Bagikan:

One thought on “Cerdas Tapi Labil”

  1. Darwoto says:

    Di akhir pekan, tengah malam membaca tulisan kakek. Sangat menginspirasi. Baik, berfokus pada solusi. terima kasih, kek.

Leave a Reply

Your email address will not be published.