Catatan Mudik: Pentingnya Sahabat

Share this
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Mudik lebaran kali ini saya jalani dua episode. Episode pertama berlangsung sejak tanggal 3 hingga 8 Juli ke Lampung berkunjung ke orang tua saya. Agar mudik lebih bermakna, saya menggunakan satu mobil besar yang bisa menampung 10 orang dengan nyaman. Ya, anggota keluarga saya yang terdiri dari istri, anak, menantu dan cucu saat ini berjumlah 10 orang.

Di dalam perjalanan, kami bisa ngobrol, bersendagurau dan nonton film bersama yang disediakan oleh mobil yang kami sewa dari TRAC (Group Astra). Walau harus menunggu 4 jam untuk masuk ke dalam kapal di Merak, secara umum kami sangat menikmati mudik bersama ini. Kebersamaan diselingi ocehan dan tangis bayi dari cucu saya menambah kebahagiaan bersama. Apalagi anak pertama saya Nadhira membawa permainan dari Jerman yang bisa dimainkan oleh empat orang.

Berangkat dari rumah di Bogor pukul 09 pagi dan tiba di rumah orang tua menjelang pukul 10 malam. Begitu kami tiba, orang tua, adik dan keponakan sudah nunggu di teras rumah dengan senyum mengembang. Anda tahu siapa yang dicari dan dipanggil duluan? Yang jelas bukan saya, tetapi cucu saya. Hehehehe.

Selain rutinitas ngobrol dengan saudara, kami punya kebiasaan yang kami lakukan saat mudik yaitu diskusi dengan tema tertentu. Untuk mudik kali ini, temanya adalah “Pentingnya Sahabat” Bukan hanya saya sebagai nara sumber diskusi, untuk kali ini, di diskusi hari berikutnya saya meminta adik saya untuk memberikan pencerahan kepada kami semua tentang pentingnya sahabat. Senang, anak-anak saya bisa mengambil inti pelajaran bahwa sahabat bukan hanya penting di dunia tetapi juga di akherat.

Baca Juga  Kenikmatan Baru

Hasan Al-Basri pernah berkata: “Perbanyaklah sahabat-sahabatmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.” Pernyataan ini bukan asal perkataan, pernyataan ini disandarkan kepada hadits: “Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka mereka pun bertanya kepada Allah:

“Ya Rabb! Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami….”Maka Allah berfirman, “Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang dihatinya ada iman, walah hanya sebesar zarrah.” (Ibnu Mubarak dalam kitab Az Zuhd).

Persahabatan memang sangat penting, bersahabat akrab perlu jumpa secara fisik tidak hanya via social media. Untuk itu, saat kami pulang dari Lampung, mobil tidak langsung menuju ke rumah. Saya ajak semua anggota keluarga saya bertemu dengan sahabat yang sekaligus guru saya yaitu Ust. Yusuf Mansur ahli Qur’an dan sedekah. Ust. Ahmad Lutfi Fathullah ahli ilmu hadist dan juga bertemu therapis kultural sekaligus penemu STIFIn, bapak Farid Poniman.

Kunjungan ke sahabat usai pukul 22.30, kami langsung meluncur ke Bogor. Di dalam mobil saya bersuara lantang “maafkan bapak ya, gak langsung pulang dan harus mampir ketemu sahabat-sahabat bapak.” Secara bersahutan istri dan anak saya menjawab “gak papa pak, kami senang dan mendapat banyak inspirasi, ajak-ajak lagi ya pak.”

Tiba di rumah Bogor sudah lewat tengah malam, sunyi dan sepi tapi hati saya bergemuruh mendapat siraman dan inspirasi dari beberapa sahabat malam itu, saya berharap demikian juga yang dirasakan oleh anggota keluarga saya. Dan tentu harapan tertingi saya, tiga sahabat yang saya kunjungi malam itu akan mencari saya saat saya tak ditemukan di dalam surga.

Baca Juga  Nelongso Tapi Mulyo

Catatan mudik episode kedua dilanjutkan di tulisan berikutnya besok, insya Allah.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook


Share this
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer