Bukan Hanya Sekadar Kalimat

Jangan remehkan sebuah kalimat. Mengapa? Karena, kalimat bisa menentukan suatu pekerjaan berdosa atau berpahala. Kalimat bisa juga menentukan suatu aktivitas berkah atau tidak. Bahkan, sebuah kalimat bisa menjadi pembuka kebaikan atau keburukan.

Contohnya, kalimat “aku terima nikahmu dengan mas kawin perhiasan emas seberat 99 gram dibayar tunai” menjadikan hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi halal. Sesuatu yang pada awalnya dilakukan berdosa, dengan kalimat tersebut menjadi berpahala.

Memang penentunya bukan hanya kalimat itu, masih perlu ada saksi, wali dan kedua mempelai. Namun tanpa kalimat tersebut di atas atau kalimat sejenisnya sebuah perkawinan tidak dianggap sah. Kalimat tersebutlah yang membedakan seseorang disebut “kumpul kebo” atau berumah tangga.

Setelah berumah tangga, sebuah kalimat juga bisa menentukan keberkahan aktivitas. Seorang istri yang berkata. “Mas, aku sudah daftar kuliah S2, bulan depan aku mulai kuliah.” Makna kalimat itu bisa sangat berbeda dengan, “Mas mohon izin, boleh gak saya daftar kuliah S2? Kalau boleh, bulan depan saya sudah mulai kuliah.”

Kalimat yang pertama, dengan asumsi tidak ada pembicaraan sebelumnya itu bermakna memberi tahu bukan meminta izin. Sementara kalimat kedua lebih mencerminkan kerendahan hati seorang istri yang menyadari bahwa aktivitas di luar rumah perlu meminta izin kepada suami.

Dengan kalimat pertama atau kedua, boleh jadi seorang istri tetap bisa kuliah S2. Tetapi proses dan hasilnya bisa berbeda. Dukungan dan pengertian dari suami akan lebih full apabila seorang istri menggunakan kalimat kedua. Mengapa? Karena istri kuliah setelah mendapat restu dari suami. Dan saya yakin, keberkahanpun akan berlimpah bagi istri yang menggunakan kalimat kedua.

Begitupula salah satu yang membedakan sesuatu transaksi keuangan sesuai syariah atau tidak adalah kalimat awal saat transaksi.  Transaksi syariah itu menggunakan kalimat yang mencerminkan bagi hasil atau jual beli. Sementara transaksi non-syariah itu mencerminkan kalimat pinjaman dengan bunga yang ditentukan pihak pemberi pinjaman.

Kita perlu terus berlatih menggunakan kalimat yang tepat di moment yang tepat. Dengan harapan, kita selamat dunia-akhirat. Sepakat?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


TBnC9


Bagikan:

15 thoughts on “Bukan Hanya Sekadar Kalimat”

  1. Exel Randy Orlanda says:

    Sepakat Pak,amiinn YRA !!! Terima kasih Pak atas tulisan inspiratifnya hari ini,salam SuksesMulia 🙂

  2. TPsugiharto says:

    Kemampuan berkata baik itu termasuk hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan akan mengangkat derajatnya, Artinya orang yang mampu berkata baik, maka ia sedang mendapat hidayah dari-Nya. Silahkan baca di QS Al Hajj (22) : 24 .

    “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji”.

    “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat yang diridhai Allah, yang ia tanpa sangka-sangka ternyata dengan kalimat itu Allah mengangkatnya beberapa derajat.” [HR.Bukhari]

    Susahnya menemukan orang yang berkata baik sama dengan mudahnya menemukan orang yang berkata buruk. Sepertinya semakin sedikit saja orang yang mampu mengendalikan lidahnya.

    Banyak contoh orang yang menderita atau apes akibat perkataannya sendiri. Betapa banyak orang yang tergelincir karena lisannya. Itulah sebabnya, mengapa dalam Islam dikatakan “Keselamatan seseorang tergantung pada bagaimana menjaga lisannya”

    Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Q, s. Ibrahim/14:24-27)

    Rasanya kita, khususnya saya pribadi masih banyak perlu belajar lebih mendalam lagi, bagaimana menggunakan kalimat yang baik, benar dan tepat di moment yang tepat.

    Jazaakallah….

    1. SyukrON mas tambahan ilmunya

  3. @andihakim31 says:

    Berhati2 jg ya beh ketika kita mengeluarkan kalimat atau ucapan, karna itu bisa jd sebuah do’a.
    Semoga kata2 yg keluar perkataan baik dan tidak menyakiti hati orang lain, Amiin YRA
    Slmt beraktivitas babeh

  4. MAHMUDAH77 says:

    JZKLH KHRN PAK JAMIL NASEHATNYA,,,SAYA JADI TERINSPIRASI LEBIH HORMAT PADA SUAMI AGAR KULIAH S-2 SAYA MENJADI PENUH BERKAH…

  5. Hanya satu Kata “MANTAF” Pantasan Isteri saya selalu manggut-manggut dan mendukung ful aktifitas saya, karena berawal dari komunikasi yang pas, taiming yg tepat,Suasana yang bersahabat. Trims Inspirasinya, Kek.

    1. Salam buat keluarga ya mas

  6. ahmad says:

    Mari menjaga kata kata yg terucap dari mulut kita n Mari berBank syariah,

  7. Intan says:

    Kasian ya jadi perempuan, mau nambah pendidikan aja musti minta izin suami.
    Org tua malah encourage semua anak utk berhasil. Langkah yg perempuan.terjegal.sm suaminya 🙁

    1. Tidak juga mbak, suami yg baik tak akan menghalangi istrinya.

      1. Intan says:

        Yeah right 🙁

  8. miftah fawzy says:

    Ya secara fitrah memang lelaki diciptakan untul menjadi raja di rmh tangga jadi secara umum suami akan merasa tidak dihargai bila istri tidak meminta ijin bila menambah aktifitas diluar.Adalah realitas hari bahwa perceraoan selalu meningkat dari tahun ke tahun dan yg menggigat cerao mayorotas dari pihak isrteri.Sebab yg dominan adalah karena si suami merasa kurang dihargai oleh isterinya sedang merasa dia punya untuk berbuat dan bersikap demikian karena dia punya kontrobusi yg leboh besar daripada suami.ya punya penghasilan yg menopang ekonomi r tangga juga mengururi rumah,anak dan tentu saja akhirnya sama2 merasa tal dihargai si isteri yg merasa mampu mandiri minta cerai.Dan ternyata di banyak negara maju juga begitu contohnya jepang,para wanitanya enggan bersuami karena merasa terkekang dan para lelaki enggan memcari isteri larena wanita lebih banyal yg matre

  9. Aryanti says:

    Subhanallah, aku sampe lupa kodrat sebagai seorang istri, memang benar dengan kita meminta izin kepada sang suami secara tidak langsung kita telah menganggap ada suami kita sekaligus menghargainya,3mksh.

  10. Ibu Muda says:

    SEPAKAT!

    Semenjak menikah, saya jadi lebih berlatih bagaimana merangkai kalimat yang lebih enak didengar suami. Gak boleh egois, karena dari kepandaian kita menyampaikan maksud lewat kalimat, dari situ kita belajar berempati. Terima kasih Kek Jamil ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published.