Bila Suamiku Bukan Seorang Ayah

Dwi Ishak Mukti WibowoApakah seorang Laki-laki yang sudah menikah merupakan Suami untuk istrinya? Sudah pasti ya.. Lalu ketika suami-istri itu memiliki anak maka Suaminya akan menjadi Ayah? Maksud saya disini Ayah sesungguhnya bukan ayah INSTAN. Ayah yang otomatis disandang olehnya karena sudah memiliki anak.

Ayah adalah seseorang yang dijadikan model dirumahnya sebagai seseorang yang patut dicontoh, patut menjadi Suri Tauladan serta dapat mendidik anaknya bersama istrinya agar mencetak anak menjadi manusia paripurna sesuai dengan rencana dan kodrat yang sudah Tuhan tentukan padanya.

Apakah Suami Anda sudah memenuhi kriteria itu? Atau melebihi itu? Alhamdulillah saya ucapkan. Namun jika belum atau jauh dari itu bagaimana? Apa yang harus ada lakukan? Apa sikap Anda terhadap suami Anda?

Ada cerita Ayah di suatu keluarga yang menjadi Monster di Rumah. Ia adalah sosok yang menakutkan, kerjanya marah-marah, menang sendiri bahkan tak jarang ia menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anaknya dengan alasan agar anaknya nanti nisa menjadi pribadi yang KUAT dan Tahan Banting bila besar nanti. Lalu apa yg harus Anda lakukan?

Anda yang harus mengambil alih secara penuh proses mendidik anak itu dirumah. Jadilah sahabat, teman dan tempat curhat anak Anda juga sebagai penyejuk hati anak Anda.

Bersabarlah, bisa jadi ini adalah ladang amal bagi Anda atas kondisi yang terjadi pada suami Anda. Selalu berdoa pada Tuhan agar suami Anda berubah menjadi lebih baik. Bukankah Tuhan yang dapat membolak-balikan hati?

Lihat kebaikan suami Anda dan ceritakan pada anak-anak. Jangan lihat negatifnya, karena itu akan memperburuk keadaan. Bagaimanapun sesungguhnya tak ada Ayah yg secara sengaja berniat utk menjadi Monster dirumah bagi anak-anaknya.

Semoga Tuhan dapat membantu Anda semua. Salam Bahagia, jika ingin berkomunikasi dengan saya silahkan mention @dwiishakmw

Dwi Ishak Mukti Wibowo

Bagikan:

3 thoughts on “Bila Suamiku Bukan Seorang Ayah”

  1. tebe says:

    Bapak…..
    untuk setiap keringat yang mengalir,
    untuk setiap keriput kulitmu,
    untuk setiap kasih sayangmu ketika aku kecilt,
    untuk nasi goreng paling lezat sedunia,
    untuk tempat duduk terbaik di bahumu,
    untuk tetes “air mata laki-laki ” ketika kau khawatirkan aku,
    untuk jiwa laki-laki yang kau turunkan padaku
    untuk kepercayaanmu meski seringkali ku hianati.
    tak akan pernah bisa terbalas segalanya,
    kecuali dengan jazakallah bil jannah, ”
    semoga Allah mengganti semuanya dengan syurga,
    semoga bisa kubayar dengan syurga……”

  2. dwi ishak says:

    keren Mas… 🙂

  3. fariarini says:

    artikel yang bagus banget…

Leave a Reply

Your email address will not be published.