Berdamai dengan Masa Lalu

damai.jpg

Banyak orang yang dihantui masa lalu yang buruk. Mereka merasa bersalah, merasa kotor, merasa hina akan masa lalunya. Mereka enggan diajak untuk move ON dengan alasan, “Saya tidak pantas untuk maju. Saya tidak pantas untuk mengajak orang lain berbuat baik.” Ucapan-ucapan senada sering saya dengar saat ada orang yang “curhat” kepada saya.

Sesungguhnya masa lalu tidak bisa diubah namun masa lalu bisa menjadi pelajaran dan sumber hikmah bagi kehidupan. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dengan masa lalu yang buruk.

Pertama, menekan kesombongan. Bila kita punya masa lalu yang buruk maka peluang kita untuk merasa suci dan merasa orang paling baik akan menjauh dari kita. Anda pun tidak mudah menghina dan menghakimi orang yang melakukan keburukan karena Anda pun pernah mengalaminya. Anda sadar bahwa hidup itu berproses.

Dari situ muncul kesadaran, saat ada orang berbuat keburukan apalagi keburukan yang sama dengan yang pernah Anda lakukan maka semangat mengajak atau menyelamatkan lebih dominan dibandingkan selamat mencela dan merendahkan. Saat mengajakpun yang muncul adalah rasa sayang bukan rasa sombong nan angkuh.

Kedua, menjadi titik balik untuk bersyukur. Apabila Anda selalu sibuk dengan menyesali masa lalu, itu tanda bahwa Anda kurang bersyukur. Boleh jadi, Anda berangan-angan bahwa masa lalu Anda buruk padahal faktanya saat ini hidup Anda jauh lebih buruk. Buktinya? Karena sebagian besar waktu Anda dihabiskan untuk mengeluh.

Syukurilah kondisi Anda saat ini. Bersyukurlah karena Anda punya masa lalu yang buruk sehingga Anda tahu nikmatnya kebaikan. Mungkin Anda tidak bisa merasakan nikmatnya kehidupan bila tidak punya masa lalu yang buruk. Masa lalu bisa menjadi pembanding untuk kehidupan Anda sekarang.

Masa lalu yang buruk tidak bisa diubah. Kita hanya bisa bertaubat dan menjadikannya pelajaran. Masa lalu tidak bisa dibuang, maka biarkan ia tetap ada tetapi jangan terlalu sering dikenang.

Masa lalu tak bisa dilupakan, biarkan ia tetap ada tapi jangan jadikan ia kambing hitam dan tempat menyalurkan berbagai alasan. Kasihanilah masa lalu yang buruk dan jangan tambah lagi keburukannya karena terlalu sering Anda salahkan. Biarkan ia tetap ada untuk selalu mengingatkan bahwa kita manusia biasa dan bukan malaikat yang berwujud manusia.

Masa lalu yang buruk adalah sumber pelajaran yang tak perlu diulang. Maka lakukanlah banyak kebaikan saat ini agar kelak kita tidak menghabiskan waktu mengulang-ulang cerita keburukan yang pernah kita lakukan. Hidup bukan untuk masa lalu. Hidup itu untuk hari ini dan hari kemudian.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

13 thoughts on “Berdamai dengan Masa Lalu”

  1. sigitkataqita says:

    setuju bingit kek..

    setiap kita punya masa lalu dan ia menjadi pelajaran berharga.

    1. Jamil Azzaini says:

      Yes…akur

  2. Roni Sadrah says:

    Terima kasih Kek telah mengingatkan
    Jangan pula keberhasilan masa lalu menjadi penyilau mata hati kita dalam bersikap sehingga memandang rendah orang lain yang tidak sesukses kita

    1. Jamil Azzaini says:

      Akur mas, terima kasih sudah mengizinkan istri untuk menjadi fasilitator

  3. Davied Vierronieca says:

    Setuju kek, terima kasih sudah mengingatkan kembali..

    1. Jamil Azzaini says:

      Pengalaman bisa dijadikan ngisi training 🙂

  4. Dani says:

    Mantul>> Mantab betul tulisannya kek 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      SyukrON

  5. Rudi hermawan says:

    Terimakasih kek jamil…

  6. imelda says:

    Sangat inspiratif kek,..hrs selalu Bersyukur…:-)

  7. Aulia says:

    Setuju kek..Hanya ingin menambahkan, masa lalu yang buruk merupakan “jalan putar” untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Memang kadang “muter” itu gak enak, tapi kalo gak “muter”, ya tidak bisa nyampe ke masa sekarang ini…:)

  8. Gatra Putratama says:

    Setuju kek masa lalu sebagai pembanding agar kita bisa terus bersyukur

  9. Tito Adi Dewanto says:

    Masa lalu biarlah masa lalu… Oh..Oh..

    Thanks for nice article mas Jamil.

Leave a Reply

Your email address will not be published.