Berbeda Pendapat dengan Bos

angry.jpg

Berbeda pendapat dengan pimpinan itu wajar dan biasa. Namun, saat beda pendapat jangan kemudian dengan lantang Anda berkata, “Mari kita debat terbuka.” Itu namanya Anda tak paham etika leadership dan manajemen. Dan sungguh ironis bila hal ini dilakukan oleh pejabat publik.

Saya pernah berbeda pendapat dengan pimpinan saya. Di ruang rapat dia menegur dan mengingatkan saya dengan sangat keras, saya pun diam. Setelah selesai rapat saya menuju ruangannya, kami berdebat keras, hanya empat mata. Kami berdebat hingga larut malam.

Esoknya, pimpinan saya masuk rumah sakit. Karena kesibukan pekerjaan, saya baru bisa nengok di hari kedua. Kepada istrinya saya berkata, “Mbak, biarkan malam ini saya yang nunggu.” Malam itu, kami ngobrol berdua, dari hati ke hati. Rumah sakit Pondok Indah menjadi saksi tawa dan air mata kami. Sampai sekarang, kami masih rukun walau sudah berada di institusi yang berbeda.

Institusi atau perusahaan yang bertumbuh bukanlah yang adem ayem tanpa gejolak. Termasuk perbedaan pendapat antara pimpinan dan yang dipimpin. Dan saat berbeda pendapat dengan pimpinan biasakanlah untuk tidak mengumbar cerita ke berbagai pihak. Selesaikanlah empat mata secara gentle.

Dan apabila ternyata pimpinan Anda ngotot dengan pendapatnya maka ikutilah pendapatnya selama tidak melanggar etika, agama dan nurani Anda. Namun bila perbedaan itu sangat prinsip bagi Anda segeralah mengajukan pengunduran diri dan meletakkan jabatan Anda. Begitulah menurut saya etika Anda dengan bos Anda. Setuju?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

13 thoughts on “Berbeda Pendapat dengan Bos”

  1. zulkifli noor says:

    Harus banyak belajar diplomasi dengan Bapak

    1. Jamil Azzaini says:

      Saya masih berlatih mas

  2. mahfudz RZ says:

    Ada beberapa kondisi yang di perbolehkan berbeda pendapat dan itu malah menjadi baik, bagi pimpinan dan yg dipimpin… Lupa materi lanjutannya, mudah-mudahan kek jamil membahas di tulisan berikutnya:)

    1. Jamil Azzaini says:

      Ayo gantian nulis, jangan saya terus, hehehehe

  3. ivan says:

    setuju sekali

  4. syukri says:

    terimakasih Pak Jamil 🙂
    tulisan ini mencerahkan dan ada tuntunan teladan yg bs saya ambil.
    mohon diperbanyak tulisan2 seperti ini ya pak…
    salam hormatku buat bapak dan keluarga ^.^

    1. Jamil Azzaini says:

      Salim dari jauh…silakan dishare ya…

      1. syukri says:

        siap bos.. eh pak.. hehehe 😉

  5. abyan says:

    Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Ar-Ruh membedakan antara pembicaraan yang bermuatan nasehat dengan pembicaraan yang berunsur “ta’nib atau ta’yir” (pembicaraan yang berkonotasi negatif untuk mengaibkan orang dan menelanjangi kejelekannya) bahwa nasehat merupakan sebuah kebaikan yang disampaikan kepada seseorang dengan cara yang santun, bijak dan baik serta penuh rasa kasih sayang dan tulus hanya mengharapkan ridho Allah SWT dan kebaikan pada diri penerima nasehat. Sedangkan ta’nib bertujuan menghinakan dan menjelekkan seseorang meskipun dengan cara seolah-olah sedang memberi nasehat.

  6. abyan says:

    Imam Syafi’i menjelaskan uslub yang terbaik dalam menyampaikan nasehat yang tersebut dalam kumpulan syairnya (Diwan Asy-syafi’i/ 96):

    “Biasakanlah nasihatmu (disampaikan) dalam kesendirianku
    Dan hindarilah (menyampaikan) nasehat di perkumpulan orang
    Karena sesungguhnya nasehat di tengah orang banyak merupakan salah satu bentuk
    Penghinaan yang tidak aku relakan untuk mendengarnya
    Jika engkau menyalahi dan melanggar ucapanku ini
    Maka janganlah kecewa (kesal) jika tidak ditaati (nasehatmu)”

    1. Jamil Azzaini says:

      Terima kasih ilmunya, ini tambahan buat saya 🙂

  7. Muhammad Faisal says:

    Alhamdulillah.. bisa terus terinspirasi.. dgn tulisan2nya..

  8. Muhammad Abduh says:

    setuju pak. Dan ini sering terjadi di tempat saya. terima kasih nasehatnya Pak Jamil.

Leave a Reply

Your email address will not be published.