Benarkah Diam itu Emas?

bicaratau.jpg

Pernah dengar pepatah ‘diam itu emas?’. Yang saya pahami dari pepatah ini, kita didorong untuk diam dibandingkan banyak bicara. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pepatah ini. Karena perintah Nabi saw, “Berkatalah baik atau diam.” Perintahnya adalah berkata baik terlebih dahulu, bila tidak bisa berkata baik baru diam adalah pilihan.

Perintahnya adalah berbicara baik bukan banyaklah bicara. Saya juga termasuk orang yang tidak suka banyak bicara tanpa ada kebaikan di dalamnya. Apalagi bicara gosip dan aib orang lain, bukan hanya tidak baik tetapi sia-sia dan bisa menambah dosa. Untuk orang-orang semacam ini saya akan mengatakan, “Diam adalah emas.”

Perbanyaklah berbicara atau berkata yang baik. Perkataan yang baik itu kriterianya adalah benar yang disampaikan dan berguna bagi pendengarnya. Pastikanlah bahwa yang Anda sampaikan adalah kebenaran. Tidak cukup hanya benar, Anda perlu bertanya dalam hati, “Berguna gak ya ilmu ini bagi dia?” Apabila tidak memenuhi dua kriteria ini, maka saya katakan, “Diam itu emas.”

Pikiran dan hati orang lain bukanlah tempat sampah. Jadi jangan buang sampah sembarangan dengan cara berbicara seenaknya kepada orang lain. Pastikanlah bicara baik yang benar dan berguna. Untuk mudah diingat 3-B (Baik, Benar, Berguna). Apabila tidak memenuhi 3-B maka ‘diam adalah emas’.

Banyak hal besar terjadi di dunia berawal dari bicara. Pastikan banyaklah bicara saat di rumah, di kantor dan tempat-tempat yang memungkinkan Anda bicara. Syaratnya, yang Anda bicarakan adalah sesuatu yang baik, benar dan berguna.

Ingatlah sebuah ungkapan, “Orang yang berpikir kerdil senang membicarakan orang lain. Orang yang berpikir rata-rata senang membicarakan peristiwa atau berita. Orang yang berpikir besar senang membicarakan ide dan gagasan.” Dengan kata lain, orang yang berpikir kecil menghasilkan gosip. Orang yang berpikir rata-rata menghasilkan informasi. Dan, orang yang berpikir besar menghasilkan ilmu dan solusi.

Jangan pernah berhenti berbicara ide dan gagasan yang memenuhi syarat 3-B. Karena itu pasti lebih berharga dibandingkan emas sekalipun. Setuju mas, mbak?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

6 thoughts on “Benarkah Diam itu Emas?”

  1. akuur, harus selalu menyampaikan pesan yang bermanfaat. Bila tidak disampaikan bisa saja membusuk dan berbahaya 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      Kalau tulisan ini baik dan berguna silakan dishare sebanyak-banyaknya, hehehehe

  2. anik says:

    Mantap ini artikelnya. I love this article, it is useful to strengthen the mentality of selling.

    Apa boleh saya share?

    1. Jamil Azzaini says:

      Dengan senang hati…silakan

  3. syukri says:

    Sepakat dengan kek jamil dan mas isya… 🙂
    Salah satu cabang iman yang saya ketahui adalah perbuatan amar ma’ruf nahyi munkar (menyuruh/mengajak akan kebaikan dan mencegah keburukan).
    Ayo bersama kita amalkan..
    “Kalau bukan Kita Siapa Lagi, Kalau bukan Sekarang Kapan Lagi..”

    1. Jamil Azzaini says:

      Hehehe…bisa aza….

Leave a Reply

Your email address will not be published.